INSPIRING QUR'AN :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (TQS. Ali-Imran : 133)

Senin, 03 Juni 2013

Khilafah (Terasa) Tinggal Selangkah, Insya Allah


Harapan dan sambutan akan kembalinya Khilafah Rasyidah jelas terasa menyesaki kalbu-kalbu ikhlas kaum mu'minin yang hadir di puncak acara Muktamar Khilafah, Gelora Bung Karno Jakarta, 2 juni 2013 kemarin... Mereka hadir, dengan penuh keyakinan dan kesadaran.. tanpa dibayar, malah membayar... Subhanallaah wa Allaahu Akbar! ...

Semoga, seluruh pengorbanan mereka, baik para panitia pusat maupun daerah, para pengisi dan pendukung acara, para peserta yang datang dari dekat maupun jauh,serta seluruh pendukung perjuangan penegakkan syariah dalam naungan khilafah yang tidak berkesempatan hadir, dicatat oleh Allah swt sebagai amalan shalihan, yang akan mendatangkan keridhaanNya di dunia dan akhirat kelak.. Dan semoga pula, ikhtiar kecil ini akan menjadi salah satu anak tangga yang menghantarkan pada kemenangan (nashrullaah)....

## Catatan : Terimakasih buat photografer (entah siapa) yang bisa memotret suasana MK dengan angle yang sebagus ini... Baarakallaahu fiik...

Rabu, 29 Mei 2013

Siapa Butuh Negara Demokrasi ?(Who Needs Democratic State)




(Sumber : Editorial website HTI : www.hizbut-tahrir.or.id)

Karut marut negeri sungguh menyesakkan dada kita. Sungguh sulit diterima nalar, bagaimana seorang bocah kecil yang berusia 8 tahun – kalau kemudian memang terbukti benar—tega membunuh teman sepermainannya sendiri, yang usianya baru 6 tahun. Sampai sekarang polisi belum bisa memastikan apa motif sebenarnya dari tersangka pelaku, namun diduga karena korban memiliki utang seribu rupiah kepada pelaku. Bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah menjadi pembunuh ?

Maraknya pencabulan, pemerkosaan, sampai pembunuhan sangat mengkhawatirkan kita.  Pelakunya pun tak jarang masih berusia sangat muda. Seperti yang terjadi di Gowa Sulawesi Selatan, lima orang siswa SD memperkosa temannya sendiri , akibat kecanduan nonton film porno.  Maraknya pula pencabulan yang dilakukan justru oleh ayah sendiri yang seharusnya menjadi pelindung, atau oleh guru sendiri yang seharusnya menjadi teladan.

Kita juga bersedih melihat lima orang siswa SMA 2 Tolitoli mempermainkan sholat yang seperti yang kita saksikan dalam laman Youtube. Apakah begitu buramnya kondisi pendidikan kita, sehingga mereka tega mempermainkan ibadah suci umat Islam?

Kita juga sulit untuk mencari apa prestasi dari negara ini yang bisa kita banggakan. Hampir semua perkara, negara tidak becus mengurusnya. Mengurus Ujian Negara (UN), yang sudah puluhan tahun dilakukan, tidak becus.  Banjir dan kemacetan , seolah menjadi masalah yang tidak bisa diselesaikan, terus terjadi dan berulang. Harga-harga pun sering kali sulit dikontrol seperti bawang dan daging.

Masalah korupsi pun membuat kita miris. Meskipun sudah banya pelaku koruptor  yang ditangkap, dihukum dan dipenjarakan, namun masih saja koruptor-koruptor baru bermunculan.  Saat media masih marak membicarakan korupsi proyek pembangunan pusat sarana olahraga nasional Hambalang, Bogor, KPK menangkap ketua DPRD Bogor, Iyus Juher sebagai tersangka kasus pembangunan makam yang juga ada di Bogor.

Sulitnya memberantas Korupsi ini sampai-sampai presiden SBY mengungkapkan rasa frustasi, kejengkelan , dan kegeramannya. Di depan peserta dialog Forum Pasar Global di Singapura (23/4), Presiden SBY menyatakan betapa sulitnya memberantas korupsi di Indonesia.

Tidak hanya itu, pemerintah pun kembali dengan teganya menyusahkan rakyatnya sendiri. Pemerintah bersikukuh untuk menaikkan harga BBM. Apapun ceritanya, pengalaman menunjukkan kenaikan BBM pasti akan menambah beban hidup masyarakat.

Menurut Pengamat ekonomi Komite Ekonomi Nasional (KEN) Nina Septi Triaswati, Dengan menaikkan harga BBM menjadi 6500 perliter jika diterapkan mulai awal Mei, pemerintah  maka hanya akan menghemat Rp16 triliun hingga akhir tahun. Sementara sebenarnya masih banyak cara lain untuk mendapatkan Rp 16 trilyun itu, tanpa menaikkan BBM yang sudah diduga kuat akan memberikan dampak yang menyulitkan masyarakat.

Untuk mendapatkan 16 trilyun, kenapa tidak dihemat dari Belanja birokrasi di APBN 2013 yang besarnya mencapai 400,3 triliun. Kenapa pula pemerintah selalu menjadikan rakyat sebagai tumbal kebijakannya ?  Padahal disisi lain kita akan punya pendapatan yang sangat besar – mencapai lebih dari 1000 trilyun –  kalau kekayaan alam berupa tambang-tambang yang dikuasai asing itu diambil alih, dikembalikan sebagai pemilikan rakyat, yang dikelola oleh negara dengan baik, dan hasilnya untuk kepentingan rakyat . Lagi-lagi kenapa selalu rakyat yang dijadikan tumbal ?

Satu tambang emas Freeport saja sebenarnya lebih dari cukup untuk menutupi 16 trilyun itu. Menurut  Marwan Batubara , potensi kerugian negara dari kontrak karya pertambangan dengan PT Freeport diperkirakan mencapai 10 ribu triliun rupiah. Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies itu  mengatakan, potensi kerugian itu berasal dari hasil penjualan kandungan emas, tembaga dan perak di area Tembagapura, Timika Papua.

Tercatat, dari tahun 2005 – September 2010, total penjualan PTFI sebesar US$ 28.816 juta atau Rp 259,34 triliun; laba kotornya US$ 16.607 juta atau Rp 150,033 triliun. Bandingkan dengan royalti yang dibayarkan kepada Indonesia hanya sebesar US$ 732 juta atau Rp 6,588 triliun. (Baca kotrak freeport di http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/11/04/data-dan-fakta-kontrak-freeport).

Kita kembali tegaskan inilah potret negara demokrasi yang kita anut. Semua karut marut yang kita hadapi sekarang pangkalnya adalah sistem demokrasi. Demokrasi , bukan hanya sistem kufur, namun juga telah melahirkan berbagai banyak persoalan. Demokrasi, telah melahirkan sistem politik transaksional, yang menumbuhsuburkan korupsi dan kolusi.

Liberalisme (kebebasan) yang menjadi nilai penting dari sistem demokrasi telah benar-benar merusak. Kebebasan bertingkah laku, memarakkan kemaksiatan dan kejahatan seksual. Kebebasan pemilikan telah melahirkan sistem ekonomi kapitalisme yang rakus. Ekonomi yang memiskin rakyat dan memberikan jalan pada negara-negara imperialis untuk merampok kekayaan alam kita.  Perlu kembali kita garis bawahi, semua ini merupakan penyakit bawaan dari sistem demokrasi. Bukan penyimpangan dari sistem demokrasi.

Karena itu yang kita yang harus lakukan bukan meluruskan atau memperbaiki sistem demokrasi. Karena sistem ini telah sakit sejak lahir dan mengandung dan memproduksi virus berbahaya dari tubuhnya sendiri. Yang harus kita lakukan adalah mencampakkan demokrasi ke tong sampah peradaban.

Tidak berhenti disana, kita menggantikannya dengan sistem yang dijamin kebenarannya karena berasal dari Allah SWT, yaitu sistem Islam.  Sistem Islam akan akan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dengan sistem khilafah sebagai institusi negaranya.

Karena itu siapa yang butuh dengan negara demokrasi yang karut marut ini ? Siapapun berpikir sehat , apalagi di dasarkan kepada aqidah Islam, akan menyimpulkan, kita tidak butuh sistem demokrasi yang kufur dan merusak ini ! Yang kita butuhkan adalah sistem Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam. Dengan itu kita akan mendapatkan keridhoan Allah SWT, kebaikan di dunia maupun di akhirat. (Farid Wadjdi)

Print Friendly

Rabu, 10 April 2013

SOAL MISS WORLD :

Jangan Biarkan Jabar Makin Liberal

 Oleh : Siti Nafidah Anshory (Ketua MHTI Jawa Barat)

Baru-baru ini, antaranews.com merilis berita soal pernyataan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan yang secara tidak langsung memberi dukungan atas penyelenggaraan puncak acara Miss World digelar di Sentul, 28 september 2013 nanti.
 
Dukungan ini diberikan karena dua alasan. Pertama, menurutnya ajang Miss World ini berbeda dengan ajang sejenis lainnya karena saat puncak acara tidak akan menggunakan bikini dan akan lebih sopan. Kedua, acara ini bisa menjadi ajang promosi pariwisata Jawa Barat ke dunia internasional.

Dalam berita tersebut, dikabarkan pula bahwa Gubernur  menyatakan siap berkomitmen untuk menampilkan keramahtamahan masyarakat Jawa Barat selama menjadi tuan rumah acara ini. Bahkan pihaknya juga sempat mengusulkan agar selain menggunakan kebaya saat puncak pagelaran, salah satu rangkaian acara menuju Final Miss World bisa mengambil lokasi di tempat wisata Jawa Barat seperti Kawah Putih di Ciwidey, Kabupaten Bandung.
 

Bukan Alasan

Meski Gubernur sempat mengatakan bahwa perizinan bagi perhelatan bertaraf internasional seperti Miss World ini bukan termasuk wilayah kewenangannya, namun dukungannya atas acara ini merupakan langkah yang  "berani" dan patut dikritisi. Kenapa? Karena selain akan menuai kontroversi, apa yang dijadikan alasan sebenarnya tak layak menjadi alasan.

Pertama, soal "kesopanan" yang katanya dijamin akan diperhatikan dalam penyelenggaraan acara. Pertanyaannya, sopan menurut standar siapa? Sementara kita tahu, bahwa perhelatan semacam Miss World memiliki rangkaian tahapan yang harus dilalui setiap peserta, dan pada setiap tahapan penilaian, tentu sudah ada pakemnya. Antara lain soal apa yang dipakai, apa yang harus dilakukan, yang semuanya memakai standar "Barat" yang diketahui sangat liberal dan sekuler serta bertentangan dengan nilai-nilai yang dikukuhi masyarakat Jawa Barat, terutama Islam.

Sebagai kader parpol Islam beliau tentu sangat memahami bahwa aktivitas semacam ini bertentangan dengan syariat Islam yang menjaga kemuliaan perempuan, di antaranya dengan pengaturan soal akhlak dalam pergaulan, soal aurat dan larangan menampakkan kecantikan kepada laki-laki bukan mahram (tabarruj). Dan nash-nash syara' (al-Qur'an dan as-Sunnah) telah banyak menjelaskan hal ini dengan penunjukkan yang qath'i (fixed). Jika demikian halnya, bukankah aktivitas memberi dukungan bahkan memfasilitasi aktivitas yang bertentangan dengan syariat merupakan hal yang sangat dibenci oleh Allah dan dicela dalam Islam?Terlebih dalam posisinya sebagai pemimpin yang punya kekuasaan untuk mencegah segala bentuk kemaksiatan.

Kedua, soal promosi pariwisata yang terkesan mengada-ngada. Sesungguhnya masih banyak cara cerdas, elegan dan halal yang bisa dilakukan untuk mempromosikan potensi Jawa Barat ke dunia internasional tanpa harus mengabaikan budaya luhur khususnya nilai-nilai Islam yang masih tertanam di masyarakat Jawa Barat. Selain bertentangan dengan visi Jawa Barat (yakni : "Dengan Iman dan Taqwa, Provinsi Jawa Barat Termaju di Indonesia"), bukankah wilayah ini merupakan salah satu gudang para intelektual dan teknokrat unggul yang diakui tak hanya di level nasional tapi juga di dunia internasional?


Waspada Misi Penjajahan

Diakui atau tidak, ajang putri-putrian semacam Miss World realitasnya telah menjadi simbol eksploitasi perempuan sekaligus menjadi jalan penyebaran budaya liberal dan hedonis yang lumrah dalam sistem kapitalisme. Betapa tidak? Seorang Miss World realitasnya hanya dipilih karena keseksian dan kadar kecerdasan yang tak jelas ukurannya dan dengan tahapan-tahapan yang seringkali mengabaikan nilai-nilai akhlak dan  menodai kehormatan perempuan itu sendiri. Sementara yang meraup keuntungan besar dari ajang ini adalah pihak EO dan pihak sponsor dari kalangan produsen fashion, kosmetik, iklan/broadcast serta perusahaan-perusahaan film yang menjadikan "sang puteri" sebagai kapstok atau etalase berjalan bagi produk-produk mereka.

Di pihak lain, penyelenggaraan ajang ini telah berhasil memunculkan euforia. Begitu banyak perempuan di dunia yang akhirnya terobsesi menyandang gelar "miss world" dengan segala kemewahan hidup yang diraihnya. Bahkan kehidupan mereka yang serba glamour, hedon dan liberal baik dalam berperilaku, cara berpakaian, cara berpikir, otomatis menciptakan patron (role model) baru mengenai sosok perempuan modern yang seolah harus ditiru.

Dampak dari semua itu, standar dan model kemajuanpun menjadi berubah dan kian menjauh dari nilai-nilai Ilahiyah yang justru menempatkan kaum perempuan dalam posisi strategis dan terhormat sebagai ibu generasi dan manajer keluarga. Hingga kebanyakan kaum perempuan sekarang justru lebih bangga mengejar karir dan materi demi memenuhi kesenangan jasadiyah sesaat hingga kerusakan akhlak dan segala dampaknya menjadi problem yang kian menyesaki ruang kehidupan keluarga dan masyarakat kita.

Kita tentu tak ingin, virus liberalisme, hedonisme dan sekulerisme yang rusak dan merusak semacam ini makin menjangkiti anak-anak remaja perempuan khususnya di Jawa Barat. Bukankah selama ini kita belum mampu menyelesaikan persoalan moralitas remaja Jabar yang kian rusak akibat tata pergaulan dan budaya liberal yang merasuk lewat media televisi, radio dan internet? Bukankah kita ingin agar generasi Jawa Barat lebih mengedepankan kecerdasan dan kesantunan hakiki yang bersumber dari kesadaran ruhiyah sebagai hamba dan khalifah fil ardhi? Hingga ke depan Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya akan benar-benar menjadi bangsa terdepan dan menjadi pionir peradaban sebagaimana visi besarnya.

Jadi,  jangan menambah beban para orangtua terutama para ibu dalam mencetak anak-anak yang shaleh hanya demi menambah pendapatan daerah. Jangan pula korbankan masa depan generasi hanya demi meraih keridhaan bangsa asing dan memenuhi kerakusan para kapitalis. Karena bagi mereka, Jawa Barat –bahkan Indonesia-- tak lebih dari pasar potensial, sekaligus objek jajahan produk pemikiran, budaya dan ekonomi, agar kapitalisme tetap menghegemoni.
 
Cukuplah peringatan Allah swt dalam Al-Qur'anul Karim: "dan Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin" (TQS. An-Nisa :141).

 -----------

Print Friendly

Kamis, 28 Februari 2013

DAKWAH UPDATE : SURIAH DAN PERANG AHZAB BARU

Running text TVOne, 28/02/13 : Menlu AS dan Rusia bahas krisis Suriah di Berlin..

PERANG AHZAB BARU! 
Negara2 kafir bersepakat untuk bahu-membahu mencegah revolusi Suriah menjadi benih khilafah. Bgmn tidak? Hampir setiap Jumat ribuan rakyat Suriah di berbagai kota besar termasuk Homs dan Allepo turun ke jalan2 untuk memberi dukungan kepada para Mujahidin --yang oleh Bashar dan media barat selalu distigmatisasi sebagai "pemberontak dan teroris"-- untuk mensupport perjuangan mrk agar tetap ada dalam jalur "revolusi Islam". Yel2 "kami tak ingin negara demokrasi dan kami hanya ingin khilafah" terus bergema diiringi kibaran bendera Rasulullaah saw (ar-Rayah dan al-Liwa) yang dibawa para demonstran. Demikian juga yel2 "satu umat, satu bendera dan satu peperangan", kini sudah menyatukan berbagai perbedaan di antara mereka.

Bagi orang2 yang hadir di sana dan orang2 yang terus mengikuti perkembangan politik Suriah akan merasakan betapa detik2 tegaknya khilafah yang dijanjikan sudah sedemikian dekat.. Ditandai dengan tekanan yang kian menguat dr rezim lalim Bashar hingga taraf yang mengerikan... Juga persekutuan negara2 kafir dan antek2 mereka yang alih2 menolong kaum muslim yang tertindas, malah mrk memojokkan dan menggiring umat Islam ke tempat2 penyembelihan .... Hingga seolah2 umat Islam di sana sudah kehabisan doa selain kalimat yang diucapkan para sahabat Rasulullah saw saat kekejian rezim quraisy memuncak ... "maata nashrullaah?" ...

Namun sejarah menunjukkan, bahwa justru pada saat2 genting seperti itulah pertolongan Allah akan datang...

"Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath. Wa ra-aytan naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaaja. Fasabbih bi hamdi rabbika wastaghfir. Innahuu kaana tawwaabaa..."
-------- SNA 28/02/13

Kamis, 07 Februari 2013

SIKSAAN MENGERIKAN DI HARI PEMBALASAN

Ustadz Rokhmat S. Labib, M.E.I

(Tafsir QS. al-Ghasyiyah [88]: 1-7)



هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ *وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ *عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (٣)تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً *تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ *لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ *لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ *

Sudah datangkah kepada engkau berita (tentang) Hari Pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina; bekerja keras lagi kepayahan; memasuki api yang sangat panas (neraka); diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas; mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar (QS al-Ghasyiyah [88]: 1-7).

Surat ini dinamakan al-Ghâsyiyah, diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat yang terdiri atas dua puluh enam ayat ini termasuk Makkiyyah.1 Bahkan menurut asy-Syaukani, Ibnu ‘Athiyah, dan al-Alusi, tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini.2 Rasulullah saw. biasa membaca surat ini dan surat al-A’la pada saat shalat Id dan shalat Jumat. Dari Nu’man bin Basyir ra.:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى) و (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)

Rasulullah saw. membaca dalam shalat dua Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jumat surat ‘Sabbihisma Rabbika al-‘Alâ’ dan  ‘Hal atâka hadîts al-ghâsyiyah’ (HR Muslim).

Jika dalam surat sebelumnya, yakni surat al-‘Ala telah diberitakan secara global tentang orang Mukmin dan kafir, surga dan neraka, maka dalam surat ini perkara tersebut diberitakan lebih luas dan detail.

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: Hal atâka hadîts al-ghâsyiyah (Sudah datangkah kepada engkau berita [tentang] Hari Pembalasan?). Secara bahasa, pengertian al-ghâsyiyah adalah semua yang menutupi sesuatu, seperti halnya penutup pelana.3 Dalam ayat ini, kata tersebut berarti Hari Kiamat. Demikian penafsiran az-Zamakhsyari, Ibnu Katsir, asy-Syaukani, as-Samarqandi, dan lain-lain.4 Menurut asy-Syaukani dan al-Alusi, ini merupakan pendapat jumhûr al-mufassirîn. 5 Ibnu ‘Abbas, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-ghâsyiyah merupakan salah satu nama Hari Kiamat.6 Disebut al-ghâsyiyah karena Hari Kiamat itu taghsyâ al-khalâiq bi ahwâliha (menyelubungi makhluk dengan menakutkan mereka).7 Di antara dalilnya adalah firman Allah SWT:
يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ

Pada hari mereka ditutup oleh azab (QS al-Ankabut [29]: 55).

Penafsiran lain diberikan Said bin Jubair dan Muhammad bin Kaab. Keduanya mengatakan bahwa al-ghâsyiyah adalah neraka yang menutupi wajah orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah SWT:

وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ

Muka mereka ditutup oleh api neraka (QS Ibrahim [14]: 50).

Dikatakan Ibnu Jarir, tidak ada yang mengabarkan kepada kita bahwa al-ghâsyiyah itu adalah ghâsyiyah-nya kiamat atau ghâsyiyah-neraka. Keduanya merupakan ghâsyiyah (penutup, penyelubung) yang menyelubungi manusia dengan kesedihan, ketakutan, dan kesusahan. Penutup tersebut menutupi orang-orang kafir dengan angin, kabut dan asap yang panas di wajah. Tidak ada yang lebih absah dari semua pendapat tersebut daripada dikatakan sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dan sebagaimana telah disebutkan keumumannya.8

Adapun kata hal pada awal ayat ini berarti qad (sungguh). Dengan demikian ayat ini berarti: Qad ja’âka yâ Muhammad hadîts al-ghâsyiyah (sungguh telah datang kepada engkau, wahai Muhammad, berita tentang Hari Kiamat).9 Ibnu Abi Hatim dari Amru bin Maimun ra. Berkata: Rasulullah saw. pernah melewati seorang wanita yang sedang membaca: Hal atâka hadîts al-ghâsyiyah. Beliau lalu berdiri seraya mendengarkan dan bersabda, “Ya, sungguh telah datang kepada aku.”10

Kemudian diberitakan mengenai nasib segolongan manusia pada hari itu. Allah SWT berfirman: Wujûh[un] yawma‘idz[in] khâsyi’ah (Banyak muka pada hari itu tunduk terhina). Kata yawma’idzin (ketika itu) menunjuk pada Hari Kiamat. Adapun al-khâsi’ah berarti al-dzalîlah,11atau al-dzalîlah al-khâdhi’ah (yang hina lagi tertunduk).12 Dikatakan ar-Razi, kehinaan tampak dalam wajah karena itu merupakan kebalikan dari al-kibr (kemuliaan) yang menjadi tempat kepala dan otak.13 Mengenai wajah yang tunduk terhina pada Hari Kiamat juga diberitakan dalam beberapa ayat lainnya, seperti firman Allah SWT:

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ

(Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan (QS al-Qalam [68]: 43).

Selanjutnya disebutkan: ‘Âmilah nâshibah (bekerja keras lagi kepayahan). Dhamîr ayat ini kembali pada wujûh (wajah-wajah). Namun, yang dimaksudkan adalah para pemilik wajah tersebut.14 Kata âmilah berarti al-latî ta’malu al-a’mâl (yang mengerjakan berbagai perbuatan). Adapun nâshibah adalah at-ta’ab (kelelahan);15 atau seperti dikemukakan oleh ar-Razi, bermakna al-du`ûb fî al-a’amal ma’a al-ta’ab yang terus-menerus mengerjakan perbuatan yang disertai dengan kepayahan).16

Ada beberapa penjelasan tentang waktu terjadinya peristiwa yang diberitakan ayat ini. Pertama: terjadi di akhirat. Dikatakan Ibnu Jarir, âmilah yakni âmilah di neraka; dan nâshibah di dalamnya. Penjelasan serupa juga dikemukakan oleh Qatadah.17 Pada Hari Kiamat kelak mereka memang dibebani dengan perbuatan yang amat meletihkan, seperti diseret dengan rantai dan belenggu yang berat. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ

Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (QS al-Haqqah [69]: 32).

Kedua: terjadi di dunia. Atha‘ dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan amal dan keletihan di dunia atas dasar selain Islam, baik dari para penyembah berhala maupun kafir Ahlul Kitab seperti para pendeta dan lain-lain. Allah SWT tidak menerima jerih-payah mereka yang berada dalam kesesatan. Mereka masuk neraka pada Hari Kiamat. Pendapat Said bin Jubair dan Zaid bin Aslam.18

Ketiga: ada yang terjadi di dunia dan ada pula yang terjadi di akhirat. Ikrimah dan as-Sudi mengatakan bahwa ‘âmilah (bekerja keras) di dunia dengan kemaksiatan dan nâshibah  (merasakan kepayahan) di neraka dengan azab dan belenggu.19

Lalu Allah SWT berfirman: Tashlâ nâr[an] hâmiyah (memasuki api yang sangat panas [neraka]). Ibnu ‘Abbas, al-Hasan dan Qatadah menafsirkan nâr[an] hâmiyah sebagai hârrah] syadîdah (sangat panas).20 Inilah tempat kembali mereka di akhirat, neraka.

Kemudian diberitakan tentang gambaran siksa di neraka. Allah SWT berfirman: Tusyqâ min ‘ayn ‘âniyah (diberi minum [dengan air] dari sumber yang sangat panas). Kata al-âni berarti yang panasnya mencapai puncaknya. Berasal dari al-înâ` yang berarti at-ta`khîr (mengakhirkan).21 Di antaranya adalah firman Allah SWT:

يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ

Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya (QS ar-Rahman [55]: 44).

Para pemilik wajah tersebut diberi minum dari minuman mata air yang dipanaskan hingga mencapai puncak paling panas.22 Alih-alih bisa menhilangkan haus dan menyegarkan mereka, minuman itu justru menambah siksa bagi mereka.

Selanjutnya diberitakan tentang makanan yang diperuntukkan bagi mereka. Allah SWT berfirman: Laysa lahum tha’âm illâ min dharî’ (Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri). Dikatakan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, dharî’ adalah sebuah pohon di neraka. Ikrimah menyebut pohon itu memiliki duri yang tembus ke bumi.23 Ibnu Zaid menafsirkan adh-dharî’ sebagai asy-syawk min an-nâr (duri dari api). Dikatakan juga bahwa di dunia adh-dharî’ di dunia adalah duri kering yang tidak ada daunnya. Orang Arab menyebutnya sebagai adh-dharî’. Adapun di akhirat, duri dari api.24

Allah SWT berfirman: Lâ yusminu wa lâ yughnî min jû’ (yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar). Artinya, adh-dharî’ tidak menggemukkan bagi pemakannya. Bagaimana bisa orang yang makan duri bisa gemuk? Para mufassir mengatakan bahwa ketika ayat ini turun, orang-orang musyrik berkata, “Sesungguhnya unta kami juga gemuk dengan memakan duri.” Kemudian turun ayat ini. Mereka juga telah berdusta karena sesungguhnya unta digembalakan dengan rumput hijau. Apabila rumput itu kering, unta-unta itu pun tidak mau memakannya.25

Bukan hanya tidak menggemukkan, bahkan sama sekali tidak mengenyangkan. Wa lâ yughnî min jû’ berarti tidak mengenyangkan atau menghilangkan kelaparan yang menimpa mereka.26

Ancaman Mengerikan

Ayat-ayat ini menceritakan secara detail azab neraka yang amat dahsyat di neraka. Para penghuni neraka itu wajahnya tertunduk diliputi kehinaan. Mereka diterpa  keletihan tiada henti akibat berbagai siksa yang ditimpakan kepada mereka.

Mereka dimasukkan ke dalam neraka yang dipenuhi dengan api yang menyala-nyala. Mereka tidak diberi minuman kecuali minuman yang menambah siksa bagi mereka, yakni minuman yang berasal dari air mendidih yang amat panas hingga mencapai batas puncak paling panas. Allah SWT juga berfirman:

كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

Sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya? (QS Muhammad [47]: 15).

Demikian pula makanan. Dalam surat ini ditegaskan bahwa tidak ada makanan buat mereka kecuali adh-dharî’, makanan yang tidak membuat mereka menjadi gemuk dan kenyang. Sebab, sesungguhnya itu bukanlah makanan. Itu adalah azab yang menambah kepedihan mereka. Dalam ayat lainnya Allah SWT berfirman:

وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا

Makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih (QS al-Muazzammil [73]: 13).

Semua itu merupakan ancaman sangat mengerikan. Bagi siapa pun yang menggunakan akalnya, tidak akan berani melakukan tindakan yang dapat menjerumuskan dirinya tercebur ke dalam neraka. Betapa pun besar kenikmatan yang didapat di dunia, tak akan membuat berselera untuk mendapatkan jika akhirnya harus menjadi penghuni neraka. Sebab, siksa yang bakal diterima jauh lebih dahsyat daripada kenikmatan dunia.

Dalam ayat ini memang tidak dijelaskan secara lahiriah siapakah para pemilik wajah yang tunduk terhina itu. Kendati demikian, telah jelas siapakah sesungguhnya mereka. Sebab, ini dijelaskan dalam banyak ayat al-Quran. Mereka adalah pelaku kekufuran, kemaksiatan dan kejahatan. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ *يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ *وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ *

Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu  (QS Al Infithar [82]: 14-16).

Maka dari itu, selagi masih diberikan kesempatan, para pelaku kejahatan itu hendaknya segera bertobat sebelum menyesal. Penyesalan tidaklah berguna.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [][]

Catatan kaki:

1       Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiyy, 1987), 741;  Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), 376.
2       Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kalim al-Thayyib, 1994), 530; Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 472; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (BeirutL Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), 324.
3       Al-Asfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 607.
4       Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4, 741; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8 (Beirut: dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 376; asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 8, 520; as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 472.
5       Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 8, 520.
6       Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 376.
7       Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 8, 520; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 324.
8       Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur’ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 382.
9       Al-Baghawi, Al-Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur‘ân, vol. 8 (Beirut: Dar Thayyibah, 1997, 404.
10      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 376.
11      Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4, 741;  ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 24, 382; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 324.
12      Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 8, 520.
13      Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 139.
14      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 20 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 26; asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 8, 521; ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 138.
15      Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 472.
16      Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 139.
17      Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 385.
18      Al-Baghawi, Al-Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 8, 404.
19      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 377.
20      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 377.
21      Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 29.
22      Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur’ân, vol. 24, 385.
23      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 377.
24      Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 385.
25      Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 20, 29.
26      Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur’ân, vol. 24, 385.

Sumber tulisan : 
http://www.hizbut-tahrir.or.id

Sumber foto :  
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/zaqqum-dunia-ada-di-thaif-saudi.htm#.URO2zfLdXMw

Print Friendly

Selasa, 22 Januari 2013

TIPS MENGHINDARI "FITNAH" FACEBOOK :

By Siti Nafidah Anshory

1. Pastikan tujuan kita benar dan niat kita lurus semata untuk mencari keridhaan Allah swt.

2. Yakinkan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan, tak luput dari hisab dari Dzat Yang Maha Teliti Auditnya.


3. Jadikan fb sebagai sarana mencari ilmu dan memperkaya informasi. Dan yang lebih utama, menjadikan fb sebagai sarana menyebar kebaikan serta mengajak orang lain agar makin paham dan cinta Islam. Insya Allah, apapun ajakan kebaikan yang anda tulis di fb bisa jadi jariyah kebaikan yang pahalanya mengalir melampaui umur anda sepanjang kebaikan yang anda tunjukkan menjadi jalan hidayah bagi yang lain ...


4. Jangan jadikan fb sebagai sarana "unjuk gigi", narsis, curhat, mengeluh, mengumbar aib, mengumbar syahwat dan segala sesuatu yang seharusnya masuk dalam wilayah privat. Karena ketahuilah, dengan begitu anda sebenarnya sedang memaksa orang lain berbuat dosa dan itu akan menjadi jariyah keburukan bagi anda.


4. Jangan mudah terpancing dengan provokasi yang menyebabkan anda abai terhadap akhlaq Islam, menghujat sesama muslim, tak fokus pada dakwah pemikiran dan bahkan terjebak dalam ananiyah dan kesombongan. Ingat, bahwa jikapun anda ada di pihak yang benar, tak ada jaminan kebenaran itu akan dinilai sebagai amalan yang diterima di sisi Allah swt bagi anda.


5. Fokus pada dakwah dengan mujadalah yang mengedepankan hujjah wal mauidzatilhasanah dan tetap tawadhu di hadapan sesama muslim seraya terus mengingat, bahwa kewajiban kita hanya menyampaikan dan saling mengingatkan.


6. Tutup semua peluang kemaksiatan, terutama peluang terjadinya interaksi ghair masyru' (tidak syar'iy) antara lawan jenis yang membuka peluang terjadinya kemaksiatan-kemaksiatan yang lebih besar. Salah satu caranya adalah dengan meng-offline-kan fasilitas chatting di kanan bawah layar komputer anda. Ingat, di luar sana, banyak orang yang tidak paham akan ajaran Islam tentang pergaulan atau memang berakhlaq buruk ingin menjererumuskan anda pada kesia-siaan bahkan dosa syahwat yang menggoda untuk diperturutkan.


6. Bagi yang masih single, jangan pernah berniat menjadikan fb sebagai sarana mencari jodoh, yaa... karena tentu saja, anda akan terdorong utk membuka ruang interaksi dengan alasan yang dibuat seolah syar'i seperti silaturrahmi; berupaya menghubungi, lalu mengajak chatting, atau melakukan hal-hal lain yang akan menyulitkan anda untuk menjaga iffah dan berupaya menjaga ketentuan syari'at. Ingat selalu, orang yang baik hanya untuk orang yang baik, dan jodoh yang baik hanya didapat dengan jalan yang baik... Terlebih, syaitan adalah musuh yang nyata dan selalu punya cara menjerumuskan manusia. Jadi tetap waspada!


7. Buka wall fb sekali-kali saja sesuai dengan kebutuhan. Ingat pekerjaan anda di dunia nyata jauh lebih penting dan utama dikerjakan daripada bersibuk ria di dunia maya... 


Baarakallaahu fiikum ... [SNA]

Senin, 21 Januari 2013

Khilafah, Memang Beda ....

By Siti Nafidah Anshory

Sistem pemerintahan Islam adalah sistem yang unik yang berbeda dengan sistem demokrasi republik, kerajaan, federasi dll, karena sistem pemerintahan Islam (al-Khilaafah) tegak di atas 4 pilar :

1. As-Siyaadah lis-Syaari' (kedaulatan ada ti tangan Sang Maha pembuat Hukum, yakni Allah SWT), sehingga khilafah hanya boleh menjadikan Syariat Islam yang bersumber dr Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma shahabat dan qiyas syar'iy sebagai UUD. Dalil2nya sudah sangat jelas.


2. As-Sulthon lil-ummah (kekuasaan ada di tangan ummat). Umatlah yang berhak menentukan dan membai'at khalifah yang dipilih untuk menerapkan meri'ayah/mengurus urusan2 mrk dg hukum2 Allah. Dalil2nya juga sudah sangat jelas.


3. Hak tabanny (adopsi/legalisasi) hukum ada pada kholifah. karena "amr al imaamu yarfa'ul khilaaf", imam/kholifahlah yang akan mengangkat perbedaan, yakni terkait hukum2 kemasyarakatan yang penerapannya memungkinkan ada perbedaan penafsiran akibat kedzanni-an dalil2nya.


4. Satu kepemimpinan untuk seluruh umat di dunia, karena Rasulullah saw bersabda ANTARA LAIN : "idza buuyi'a li kholifatayni, faqtuluuhul aakhor", jika dibai'at dua orang kholifah, maka bunuhlah yang terakhir.

Mangga bandingkan dengan sistem yg lain, adakah yang sama?

Kamis, 17 Januari 2013

Epidemik Pemerkosaan, Tamparan Untuk Pemuja Demokrasi

(Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Kelompok liberal yang mendewa-dewakan demokrasi dan anti syariah Islam tentu kecewa, melihat fakta  negara-negera Eropa yang tingkat pemerkosaannya tinggi. Sesuatu yang seharusnya menjadi tamparan bagi Yeni Wahid—salah  satu pentolan kelompok liberal—yang  dengan bangga menyatakan angka perkosaan di Saudi lebih tinggi daripada Eropa yang perempuannya banyak pakai bikini.

Padahal menurut data statistik tentang angka Pemerkosaan di 116 negara, 7 dari 10 negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi justru terjadi negara-negara Eropa. Seperti dilansir nationmaster.com,  Prancis, Jerman, Rusia, dan Swedia adalah negara Eropa dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia.
Kelompok liberal ini tentu lebih kecewa lagi, ketika melihat realita, banyaknya  negara yang mengklaim sebagai negara demokratis yang tingkat kriminalitas seksual juga tinggi. Menurut data  United States Department of Justice total korban pemerkosaan atau serangan seksual yang dilaporkan di Amerika pada pada tahun 2005 ada 191.670 orang.

Data pada 1995 dari lembaga perlindungan anak lokal AS mengidentifikasi 126 ribu anak-anak menjadi korban kekerasan seksual baik dapat dibuktikan atau hanya terindikasi. Dari jumlah korban itu, 75 persen adalah anak perempuan. Sekitar 30 persen korban kekerasan seksual itu berusia empat hingga tujuh tahun.
Harian The Guardian (10/1) menambahkan potret rusak negara kampiun demokrasi Inggris. Berdasarkan sebuah studi dilaporkan hampir satu dari lima wanita di Inggris dan Wales menjadi korban serangan seksual sejak berusia 16 tahun. Studi ini juga menunjukkan ada sekitar 473 ribu orang dewasa yang menjadi korban kejahatan seksual setiap tahun, termasuk di dalamnya ada 60 ribu sampai 95 ribu korban perkosaan.

Kondisi yang sama terjadi di negara demokratis lain di luar Amerika dan Eropa, seperti India. Negara ini tergoncang dengan meninggalnya mahasiswi kedokteran India berusia 23 tahun yang menjadi korban dari serangan pemerkosaan brutal  (16/12) oleh enam orang laki-laki di dalam bis di New Delhi.
Pemerkosaan di negara demokratis terbesar di dunia ini  ini memang mencengangkan, mencapai tingkat epedemik. Menurut Al-Jazeera, seorang perempuan diperkosa setiap 20 menit di India, dan 24.000 kasus perkosaan telah dilaporkan hanya untuk tahun lalu saja. Dilaporkan 80 persen wanita di Delhi telah mengalami pelecehan seksual. Sementara The Times of India melaporkan, perkosaan di India telah meningkat secara mengejutkan sebanyak 792 persen selama 40 tahun terakhir.

Perlu kita catat, angka pemerkosaan yang tinggi justru terjadi di negara-negara demokratis sekuler yang justru tidak menerapkan syariah Islam. Kita tentu saja bukan ingin  menyatakan bahwa di negara-negara Arab tidak terjadi pemerkosaan, karena negara-negara Arab juga bukanlah potret negara yang benar-benar menerapkan syariah Islam.

Yang ingin kita soroti adalah kegagalan negara-negara demokratis untuk melindungi wanita dari kejahatan seksual. Nilai-nilai liberal yang mereka agung-agungkan justru menjadi sumber malapetaka. Karena itu penting kita renungi komentar Dr Nazreen Nawaz, anggota Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir  tentang kejahatan seksual yang marak di India.

Menurutnya, di saat pemerintah Barat terus mengekspor “demokrasi” pada dunia Islam sebagai sistem terbaik dalam menjamin martabat dan hak-hak perempuan, maka negeri demokratis terbesar di dunia ini justru dengan spektakuler telah gagal dalam melindungi kaum perempuannya.

Kejahatan seksual dengan tingkat yang mengerikan, sikap longgar pihak kepolisian India dalam menjaga martabat perempuan, dan sikap apatis dari pemerintah India dalam menjamin keamanan mereka adalah hasil dari kultur liberal yang secara rutin dan sistematis merendahkan nilai kaum perempuan. Kultur yang dibanggakan oleh negara dan diwujudkan dalam industri hiburan Bollywood.

Nazreen menambahkan, kultur Bollywood ini, bersama dengan industri lain seperti entertainment, periklanan, dan pornografi yang didukung oleh sistem demokrasi sekuler liberal India telah menampilkan kaum perempuan sebagai obyek untuk dimainkan sekadar memuaskan hasrat kaum lelaki, melakukan seksualisasi masyarakat, mendorong individu untuk mengejar keinginan egois jasmaniah mereka, mempromosikan hubungan di luar nikah, memelihara kultur pergaulan bebas dan memurahkan hubungan antara pria dan wanita. Semua ini telah menumpulkan kepekaan terhadap rasa jijik yang seharusnya dirasakan kaum lelaki, saat martabat kaum perempuannya dinodai.

Oleh karena itu, menurutnya,  tidak mengherankan India telah mengejar posisi dan status yang sejajar dengan negara-negara liberal lainnya seperti US dan Inggris, yakni berada di antara para pemimpin global kekerasan terhadap perempuan. Sistem demokrasi sekuler liberal ini, di mana setengah penduduknya hidup dalam ketakutan, bukanlah model yang pantas ditiru oleh dunia Muslim.

Islam satu-satunya sistem yang terbukti melindungi kehormatan masyarakat dan kemulian wanita. Masyarakat Islam dibangun atas dasar ketaqwaan yang juga melandasi hubungan pria dan wanita. Bukan hubungan yang mengumbar hawa nafsu dan seksualitas yang justru akan merugikan keduabelah pihak terutama wanita.

Syariah Islam secara komprehensif menjaga kehormatan wanita dengan pakaiannya yang menutup aurat, terpisahnya kehidupan pria dan wanita kecuali ada kebutuhan syar’i yang dibolehkan.  Islam hanya melegalkan hubungan seksual pria dan wanita melalui lembaga pernikahan yang mulia dan penuh tanggung jawab. Syariah Islam tentu saja tidak membiarkan segala aktifitas yang melecehkan wanita, tidak membiarkan wanita menjadi obyek seksual seperti industri hiburan penuh syahwat atau bisnis pornografi. Meskipun secara ekonomi mungkin menguntungkan.

Kehormatan wanita pun semakin terjaga dengan keberadaan lembaga pengadilan yang bersikap tegas dan adil berdasarkan syariah Islam untuk menghukum siapapun yang merusak dan melecehkan kehormatan wanita. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah : 50). [] Farid Wadjdi

Print Friendly

MENYOAL "ISLAM TETEK BENGEK"

By Siti Nafidah Anshory

Ada yang bilang, berdebat soal aturan tentang haramnya mengucapkan natal adalah urusan tetek bengek semata. Yang karenanya kita akan kehilangan hakekat beragama dan Islam jadi kehilangan apinya. Toh --katanya-- jika kita berakhlak baik, maka kita bersama akan masuk sorga. Menurutnya juga, mengucapkan syahadat sekedar pengetahuan tanpa keimanan, tak akan membuat orang-orang non muslim menjadi muslim. Dan orang-orang muslim menyanyikan lagu-lagu gereja pun tak kan membuat mereka menjadi kristen.


Pendapat saya : 
 
Justru ketika kita kaum Muslim menganggap aturan Allah SWT --Dzat Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui hakekat segala sesuatu-- hanya sebagai "tetek bengek", itulah yang membuat agama Islam kehilangan apinya, kehilangan wibawanya. Bagaimana bisa kita berharap orang lain menghargai, wong kita umat Islamnya sendiri tak punya kepercayaan diri?

Perlu diketahui, bahwa ketika Allah SWT melarang umat Islam mengucapkan selamat natal, bukan berarti Islam tidak mengajarkan toleransi pada non Muslim. Banyak sekali aturan2 yang memerintahkan kita berlaku baik pada mereka, melarang menyakiti mereka dan melanggar kehormatan, harta dan nyawa mereka sepanjang mereka juga tidak menyakiti dan tidak melanggar kehormatan, harta dan nyawa kita. Bahkan dalam konteks masyarakat Islam, keberadaan mrk dilindungi oleh negara yang menerapkan hukum2 Islam dan hak-hak mereka sama dengan warga negara muslim.

Hanya saja, toleransi yang dituntut oleh Islam bukanlah toleransi yang menggadaikan keyakinan. Keyakinan bahwa di sisi Allah hanya Islam agama yang diridhai. Dan bahwa surga, hanya layak bagi orang yang beriman dengan keimanan yang benar, yakni iman Islam dan yang meyakini bahwa hanya Allah satu2 Tuhan yang layak disembah dan dijadikan hakim/pembuat hukum.

Sesungguhnya keyakinan bahwa semua agama baik dan benar adalah keyakinan rusak dan bathi. Dan bahwa orang2 kafir (yahudi dan nashrani) yang mengusung gagasan pluralisme yang rusak ini tak bersungguh2 meyakini hal tersebut dengan hati mrk. Karena jika semua agama benar, mereka tak pernah berpikir untuk memilih Islam sbg agama mrk dan membuat mrk mau hidup dengan aturan2nya.

Sesungguhnya mereka hanya ingin agar keyakinan pluralisme ini diambil oleh umat Islam, agar umat Islam ---yg agamanya dan aturan2nya sangat sempurna krn mengatur seluruh aspek kehidupan ini-- tak bisa kembali bangkit sebagai umat yang unggul sebagaimana awalnya dan negaranya menjadi negara adidaya sebagaimana dulu berabad2 lamanya mampu mengungguli peradaban mereka... Jadi jangan terperdaya ...


------------------------

Dalam pandangannya, Islam telah kehilangan apinya karena selalu berkelahi mengenai tektek bengek sehingga agama Islam sbg rahmat tak kelihatan. Yang kelihatan adalah orang2 picik yg jalan di tempat bahkan ingin kembali ke abad VI. Padahal Islam mencapai kejayaan pada abad ke XVIi waktu sains mengalami kemajuan di kalangan orang Islam. Sekarang kalau ada yang salah dalam masyarakat Islam di mana2, disalahkanlah pihak lain. Kalau saling bunuh di Sampang itu karena apa? Pasti yang disalahkan yang di ujung dunia.

Dan ini pendapat saya :

Seruan untuk kembali kepada syariat bukan sekedar didorong oleh romantisme sejarah, tapi karena keimanan memang menuntut demikian. Tudingan bahwa dengan syariah berarti umat mundur ke belakang juga salah, karena faktanya, justru dengan syariahlah umat yang sebelumnya jahiliyah kemudian berubah menjadi khoiru ummah.

Kemajuan sains bukan baru muncul pada abad XVII saja. Kalau kita baca sejarah, maka fondasi kemajuan saintek sebetulnya sudah dimulai saat baginda Rasul mendakwahkan Islam dan menerapkannya dalam sistem kenegaraan di negeri Madinah. Fondasi itu adalah mind frame AQIDAH. Yakni keyakinan tentang tugas penciptaan manusia di muka bumi sebagai khalifah (pengelola bumi) dan pembawa risalah ke seluruh alam. 

Keyakinan mendasar inilah yang menuntun generasi Islam awal merintis peradaban, mengubah diri dr entitas jahiliyah menjadi entitas penuntun umat menuju kemajuan. Menjadikan senjata dan unta yang semula hanya mjd modal perang antar suku menjadi sarana menebar kebaikan. Spirit ini pulalah yang menuntun mereka mencreate sarana2 yang memudahkan misi hidup mereka. Mencipta senjata perang demi memenangi jihad fii sabiilillah, mencipta alat navigasi, kompas, teknik perkapalan yang menuntun mereka sampai ke negeri seberang, mencipta teknik2 kedokteran untuk meningkatkan derajat kesehatan, termasuk mengobati para tentara yang luka karena perang, mencipta teknik hitungan yang memudahkan mereka mencatat kebutuhan dan pengeluaran anggaran, membuat teknik komunikasi dan percetakn untuk memudahkan dakwah dan pengajaran... dan banyak lagi karya2 umat Islam yang lahir dari sebuah keyakinan, hingga saat segala sesuatunya Allah mudahkan bagi umat Islam, karya2 seni pun mulai bermunculan. Dan akhirnya, peradaban umat Islam yang agung menjadi patron bagi umat2 lainnya yg saat itu msh terkurung dalam sejarah panjang bernama "abad kegelapan" (dark age).. dan belasan abad umat Islam mampu tampil sbg umat terbaik dan negaranya menjadi negara pertama dan adidaya yang ditakuti bangsa2 lain di dunia hingga kekuatan itu runtuh tahun 1924.

Jd menurut sy, itulah yg hilang dari kita sekarang. Yakni aqidah sebagai modal kebangkitan. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru berpikir bahwa dengan menjauhi Islam dan hidup mengekor pada Barat dan hidup dengan pemikiran2 yang dipropagandakan barat akan menjadikan kita mulia. Justru mnrt sy, yg tetek bengek itu adalah ketika kita berpikir bahwa peradaban sampah kebebasan yg dipropagandakan Barat adalah kunci kebangkitan. 

Bukankah dengan prinsip kebebasan, akhirnya sumber daya alam kita dirampok dan kita dimiskinkan?

Bukankah dengan kebebasan, anak2 kita masuk dalam pergaulan bebas yang membuat mrk tertular penyakit menjijikkan dan menghalalkan pembunuhan?

Bukankah dengan kebebasan, anak2 kita tak menganggap para orang tua layak dihormat dan didengarkan?

Bukankah atasnama kebebasan para pemimpin berlomba saling berebut kekuasaan dan kekayaan? 

Bukankah dengan kebebasan para loyalis barat dengan tanpa merasa salah menggadai negeri demi dana proyek yang ditawarkan?

Bukankah dengan kebebasan, penodaan agama tak bisa dihentikan dan aliran2 sesat banyak bermunculan dan akhirnya memunculkan konflik berkepanjangan? Ataukah ini yang memang diinginkan?

Jadi,  jika hari ini banyak "borok" yang nampak dari umat Islam, pantaskah jika Islam yang dipersalahkan?

------ [SNA]