INSPIRING QUR'AN :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (TQS. Ali-Imran : 133)

Selasa, 25 Oktober 2011

HOT NEWS : Satu dari Lima Warga Jawa Barat Terserang Gangguan Jiwa


(Sumber : Kompas.com/Jimmy Hitipeuw | Jumat, 14 Oktober 2011 | 04:16 WIB)

BANDUNG, KOMPAS.com - Data mengejutkan diungkapkan Dr Natalingrum SpKJ MKes dari Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. Ia mengatakan, satu dari lima orang di Jawa Barat mengalami gangguan jiwa.
Data mengejutkan tersebut dikatakan Natalingrum pada acara Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa Tentang Kesehatan Jiwa di Hotel Grand Seriti Hegarmanah, Kamis (13/10/2011).

"Jawa Barat menjadi provinsi dengan penderita gangguan jiwa tertinggi di Indonesia. Bahkan angka rata-ratanya mencapai 20 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional," ujarnya.

Angka rata-rata nasional sendiri hanya 11,6 persen. "Dengan data ini bisa dikatakan, ada sekitar 19 juta orang di Jawa Barat mengalami gangguan jiwa. Ini berarti 1 dari 5 orang di Jawa Barat mengalami gangguan kesehatan jiwa," kata Natalingrum.
Untuk menekan angka gangguan kesehatan jiwa ini, kata Natalingrum, puskesma di Indonesia kini harus siap untuk menangani kesehatan jiwa. Daat ini, dari 9 ribuan puskesmas, baru 700 puskesmas sudah melayani pasien kesehatan jiwa.

Namun, Natalingrum buru-buru menegaskan bahwa gangguan jiwa ini jangan lantas diartikan sebagai gangguan jiwa berat, atau gila. Sebab, depresi, stres dan cemas juga termasuk kategori gangguan kesehatan jiwa.

"Mereka yang mengalami gangguan jiwa ini berusia 17 tahun ke atas. Rata-rata mengalami depresi, cemas, dan stres karena berbagai hal. Yang mengalami gangguan jiwa berat tidak banyak," ujarnya.

Natalingrum mengatakan, ada beragam faktor yang menjadi penyebab gangguan jiwa ini. Antara lain faktor ekonomi, pekerjaan, sosial, hingga gangguan kesehatan jiwa yang dipicu karena penyalahgunaan narkoba. "Namun, ada juga yang dipicu faktor genetik. Tapi penyebab terakhir ini hanya bisa terjadi bila faktor gen-nya mengalami gangguan jiwa berat," ujarnya.

Selain hal-hal di atas, gangguan jiwa juga bisa dipicu dari gangguan kesehatan fisik, seperti sakit yang tak kunjung sembuh hingga menjadi beban pikiran si penderita yang berujung pada gangguan kesehatan jiwa.
Ia juga mengatakan, gangguan jiwa memang tidak secara langsung menyebabkan kematian, namun bisa menjadi kronis hingga ada yang memilih mengakhiri hidup.
"Mereka yang mengalami gangguan jiwa akan menjadi tidak produktif, menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat," ujarnya.

Ironisnya, gangguan kesehatan jiwa cukup banyak dialami oleh masyarakat ekonomi lemah atau miskin. Dengan alasan tidak ada biaya untuk berobat, akhirnya cukup banyak masyarakat yang memilih keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dengan cara dipasung.
"Praktik pemasungan masih cukup banyak ditemukan. Ini juga karena kurangnya informasi kepada masyarakat bahwa gangguan jiwa itu bisa ditangani bila diobati dengan cara dibawa ke rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum yang memiliki layanan gangguan kesehatan jiwa," katanya.
Untuk menekan tingginya angka gangguan kesehatan jiwa serta kasus pemasungan, Kementerian Kesehatan mencanangkan investasi kesehatan jiwa, promosi kesehatan jiwa dan investasi kesehatan masyarakat.

Sumber :
tribunnews

PRESS RELEASE


Dialog Intelektual Aktivis Kampus (Dialektika)
“Peta Politik Pergerakan Mahasiswa: Mengulang Reformasi atau Mengusung Revolusi?”

Gedung IKA UNPAD, Ahad, 23 Oktober 2011
Lajnah Khusus Mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Jawa Barat


Sejak menjelang jam 8 pagi, Ahad 23 oktober 2011, lebih dari 200 peserta dari berbagai kampus di Bandung berdatangan untuk berpartisipasi dalam Dialog Intelektual Aktivis Kampus(Dialektika), sebuah forum yang digelar oleh Lajnah Khusus Mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia DPD 1 Jawa Barat.Dialektika kali ini mengambil tema “Peta Politik Pergerakan Mahasiswa: Mengulang Reformasi atau Mengusung Revolusi?”. Forum ini digelar sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap kondisi bangsa Indonesia. Forum ini pun adalah perwujudan dari keinginan yang besar untuk mengokohkan peran nyata mahasiswa dalam membawa bangsa ini menuju kondisi yang lebih baik. Bulan Oktober sebagai momen kebangkitan dan pemuda dipilih sebagai momen yang tepat untuk mengusung isu ini.

Peserta hadir dari berbagai kampus: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Ilmu Komputer (UNIKOM), Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Universitas Pasundan (UNPAS), Universitas Islam Bandung (UNISBA), Sekolah Tinggi Farmasi Bandung (STFB), Ma’had Al-Imarat, Politeknik Bandung (POLBAN), Institut Teknologi Telkom (ITT), PIKSI Ganesha, Institut Teknologi Nasional (ITENAS), Stikes DHB, Universitas BSI Bandung serta Universitas Kebangsaan. Di awal acara peserta disambut dengan pemutaran film tentang kondisi masyarakat Indonesia dan analisis Hizbut Tahrir terhadap kondisi tersebut serta berbagai aktivitas Hizbut Tahrir untuk menyikapinya dengan menjadikan ideologi Islam sebagai solusi. Acara dibuka secara resmi pada jam 8.53 oleh MC dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Selanjutnya sambutan dari ketua pelaksana mengantarkan peserta untuk menguatkan tujuan acara yaitu agar mahasiswa/i menjadi aktor-aktor perubahan dengan bekal kesadaran ideologis serta semangat membara yang tak pernah mati yaitu Islam.

Peserta diajak untuk mengawali diskusi dengan menanggapi film pengantar “Mengulang Reformasi atau Mengusung Revolusi?” Tanggapan para peserta beragam, namun secara umum mengarah kepada dukungan untuk mengusung revolusi. Gambaran revolusi yang dimaksud adalah Revolusi Islam, sebuah revolusi pemikiran-politis-damai yang terbukti melahirkan sebuah peradaban gemilang.

Pembicara pertama, Dr. Cecep Darmawan., S.Pd., M.Sc (Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI) memulai pembicaraan dengan menyampaikan kondisi pergerakan mahasiswa pasca reformasi yang tidak tentu arah bahkan bisa dikatakan loyo. Dr Cecep menegaskan bahwa kebanyakan mahasiswa saat ini terjebak pada rutinitas yang tidak mendukung pada perannya sebagai agent of change. Kebanyakan mahasiswa kini terjebak dalam pragmatisme. Selain itu, beliau juga menjelaskan mengenai salah satu sebab melemahnya gerakan mahasiswa, yaitu tidak adanya common enemy. Jika melihat karakteristik mahasiswa kini pun dikatakan bahwasanya kebanyakan mahasiswa atau sekitar 80% dari populasi mahasiswa tergolong mahasiswa yang apatis. Jika ada mahasiswa yang aktif pun tidak sedikit yang terjebak sebagai mahasiswa yang melakukan pergerakan selayaknya event organizer, bekerja jika ada imbalan uang dari kegiatan yang dilaksanakan. Tak jarang kegiatan-kegiatan yang diadakan mahasiswa pun miskin akan makna. Akan tetapi, beliau seolah memberi semangat kepada mahasiswa yang idealis yang jumlahnya sangatlah sedikit dengan mengatakan dalam sejarahnya orang-orang idealis yang berjuang melakukan perubahan merupakan kaum minoritas tak berbeda dengan para founding father Negara ini, hanya segelintir orang saja yang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Agar pergerakan mahasiswa menjadi aktif maka pergerakan mahasiswa harus memiliki agenda politis. Jika ingin aksi, maka harus menurunkan dari ideologi agar menjadi solusi. Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa perlu menghindari solusi berupa pemikiran-pemikiran abstrak.

Sementara pembicara kedua, Ustadz Agung Wisnu Wardana (DPP hizbut Tahrir Indonesia) memulai dengan pernyataan bahwa kita harus menerima kenyataan Indonesia memang telah menjadi negara gagal karena kebrobrokan terjadi baik di ranah infrastruktur maupun suprastruktur negara. Selanjutnya Ustadz Agung Wisnu Wardhana menjelaskan time line pergerakan mahasiswa yang turun naik, timbul tenggelam. Hingga sampai pada kesimpulan bahwa pergerakan tersebut bersifat reaktif dan mahasiswa hanya menjadi pemicu perubahan tapi belum menjadi agent of change. Beliau juga menjelaskan bagaimana para aktivis pergerakan yang berada pada posisi top level pada masa penggulingan Soekarno akhirnya menjadi orang-orang yang memegang kedudukan di pemerintahan begitupun di era reformasi, para aktivis yang berada pada posisi top level menjadi bagian dari rezim baru yang mereka dirikan, tetapi mereka tidak berhasil mengubah keadaan menjadi lebih baik malahan ikut terlibat dalam keburukan yang dulu pernah mereka tuntut (saat mahasiswa) agak diakhiri. Beliau mencontohkan tuntutan mahasiswa pengusung reformasi untuk menghapuskan korupsi, tapi justru ketika mereka masuk ke dalam sistem dan menjadi bagian dari pemerintahan malah ikut melakukan korupsi.

Ustadz Agung yang juga merasakan hiruk pikuk reformasi 98 mengatakan bahwa saat itu terjadi perdebatan yang sengit antara kelompok mahasiswa yang pro penggulingan Soeharto dan mahasiswa yang mengusung ide keharusan perubahan sistemik. Ia menjelaskan bahwa pada akhirnya, para mahasiswa dengan berbagai kepentingan kelompoknya masing-masing pada akhirnya melebur menjadi satu dengan tuntutan keresahan yang sama bahwasanya apapun yang terjadi, Soeharto harus dilengserkan karena opini tersebut sudah cukup mendominasi di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi, hal yang menarik untuk diambil pelajaran adalah bagaimana pada akhirnya mahasiswa pun terpecah ketika sudah sampai di gedung DPR/MPR. Mereka kembali kepada kepentingan kelompoknya masing-masing. Hal ini memberikan pelajaran bagi kita bahwasanya pergerakan yang reaktif dan pragmatis tidak akan membawa perubahan yang sebenarnya. Ia akan sangat mudah diarahkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan politik dan memanfaatkan posisi mahasiswa yang dianggap mampu memicu terjadinya perubahan. Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa pergerakan mahasiswa harus memiliki visi dan misi yang jelas dan benar. Visi dan misi yang jelas dan benar tersebut adalah Islam. Visi dan misi Islam tersebut akan mampu mengantarkan muslim dan non muslim pada kehidupan berkah dengan jaminan kesejahteraan dengan hukum-hukumnya yang solutif dalam naungan Khilafah.

Enam orang peserta dengan antusias mengajukan pertanyaan juga pernyataan di sesi diskusi. Kedua pembicara memberikan jawaban sekaligus pesan agar mahasiswa bisa mengevaluasi dan mengambil pelajaran dari kelemahan juga kesalahan langkah pergerakan sebelumnya. Pelajaran berharga tersebut adalah bahwa perubahan yang harus dilakukan adalah perubahan total atau revolusi, bukan hanya mengubah personal atau rezim tapi juga mengubah sistemnya secara mendasar dan menyeluruh. Perubahan yang menyeluruh tersebut haruslah dilakukan karena ketika kita menganalisis permasalahan dapatlah diambil sebuah kesimpulan bahwasanya kerusakan yang terjadi bukanlah problem individual yang bisa diselesaikan dengan cara yang reformatif. Kerusakan yang terjadi sudah menjadi fenomena sosial, sehingga yang diperlukan adalah perubahan yang revolutif. Karena ibarat pohon, reformasi hanyalah mencabut daun-daun yang busuk dari pohonnya, sedangkan akarnya yang busuk tetap dibiarkan. Berbeda halnya dengan revolusi, ia mencabut pohon yang rusak tersebut dari akarnya dan menggantinya dengan pohon yang baru.

Sempat disinggung pula mengenai permasalahan antara Islam dan Pancasila. Menyandingkan Pancasila dengan Islam bukanlah membandingkan sesuatu yang setara atau apple to apple karena Pancasila adalah suatu value yang tidak cukup kuat untuk memberikan suatu gambaran yang jelas menggenai sistem pengaturan Negara sehingga pada akhirnya Pancasila tidak jarang hanya dijadikan alat untuk menjegal opini penerapan syariat Islam. Mengapa dikatakan demikian? Ustadz Agung mencontohkan bahwa tidak ada yang mengatakan Soekarno tidak Pancasilais ketika memasukkan ide Nasakom ke dalam Pancasila padahal sila pertama Pancasila dan Komunisme adalah ide yang bertentangan. Begitupun dengan kebijakan di era Soesilo Bambang Yudoyono (SBY), tidak ada yang mengatakan SBY tidak Pancasilais ketika melakukan kebijakan privatisasi berbagai sumber daya alam Indonesia sehingga menyebabkan kekayaan alam yang sejatinya milik rakyat hanya dikuasai oleh segelintir orang yang notabene adalah pihak asing. Akan tetapi, ketika ada sekelompok orang yang mengusung ide penerapan syariat Islam yang notabene merupakan solusi bagi permasalah manusia dikatakan sebagai pihak yang mengancam Pancasila. Oleh karena itu, beliau menegaskan untuk kembali mendudukkan definisi apa yang memang layak diperbandingkan dan mana yang tidak. Beliau mengatakan ketika Islam dilawankan dengan Kapitalisme baru merupakan perbandingan yang setara karena sejatinya sistem yang kini sedang diterapkan di Indonesia adalah kebijakan Kapitalisme Liberal. Oleh karena itu, sangat urgen untuk dilakukan suatu perubahan sistemik yaitu dengan mengganti sistem kapitalisme menjadi sistem Islam dan itulah yang sudah seharusnya menjadi landasan bagi pergerakan mahasiswa.

Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa mahasiswa memiliki agenda untuk terus memperdalam Islam sekaligus memperjuangkannya agar tegak di tengah-tengah masyarakat.

Panitia DIALEKTIKA
“Peta Politik Pergerakan Mahasiswa: Mengulang Reformasi atau Mengusung Revolusi?”
Lajnah Khusus Mahasiswa
Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Jawa Barat

Senin, 10 Oktober 2011

Komoditisasi Perempuan dan Borok Kapitalisme


(Catatan atas Kontroversi Kedatangan Miss Universe )
Oleh : Siti Nafidah Anshory


Ketua Muslimah DPD I Hizbut Tahrir Indonesia Jawa Barat

Rencana kedatangan Miss Universe 2011 asal Angola, Leila Lopes ke Kota Bandung pada 11 Oktober 2011 memang layak ditolak semua pihak. Karena meskipun dipandang bisa membawa manfaat untuk menaikan citra positif khususnya bidang pariwisata Kota Bandung di dunia internasional, namun biaya sosial yang harus dikorbankan sesungguhnya jauh lebih besar. Selain berbenturan dengan visi Kota Bandung sebagai Kota Agamis yang anti miras, pornoaksi dan pornografi, membiarkan rencana ini terjadi berarti melegitimasi upaya sistematis pelecehan martabat kaum perempuan sekaligus mengamini gerakan demoralisasi yang dilakukan melalui event ratu-ratuan.

Pada faktanya, event semacam ini hanyalah merupakan alat para kapitalis untuk mencetak kapstok dan etalase berjalan bagi produk industri mereka yang berwujud kaum ‘perempuan’. Adalah Pacific Mills, perusahaan yang pertama menggagas pemilihan Miss Universe dengan tujuan untuk mempromosikan produk pakaian renang Catalina mereka pada tahun 1952. Lalu pada tahun 1996, Donald Trump menariknya ke dalam bisnis hiburan global dengan membeli hak kepemilikan kontes ini dan kemudian menayangkannya melalui stasiun CBS dan pada 2003 beralih ke NBC. Bahkan Trump kemudian memproduksi event serupa bernama ajang Miss USA dan Miss Teen USA dan berhasil meraup keuntungan besar dari bisnisnya.

Hingga saat ini, kontes Miss Universe kadung dipandang sebagai acara yang prestisius dan layak menjadi ajang unjuk gigi negara peserta termasuk Indonesia. Mereka termakan opini bahwa memenangi event semacam ini akan menaikkan martabat bangsa, hingga mereka pun latah membuat event serupa untuk memilih siapa perempuan tercantik yang layak bertarung di level dunia.

Naif memang. Bagaimana bisa martabat bangsa disetarakan dengan wajah cantik dan tubuh seksi perempuan yang dipoles dengan sedikit kelebihan otak (brain) dan pola sikap (behavior), yang faktanya juga dinilai entah dengan standar apa.Apalagi dalam pelaksanaannya, event tersebut selalu identik dengan aksi umbar aurat dan pakaian bikini para pesertanya. Bahkan konon ada sesi ukur buah dada dan (maaf) pemeriksaan alat kelamin para peserta. Nah, bukankah ini merupakan bentuk pelecehan? Dan bukankah ini bentuk komoditisasi perempuan?


Cermin Kebusukan Kapitalisme

Maraknya kontes ratu-ratuan sesungguhnya menggambarkan bagaimana posisi kaum perempuan dalam masyarakat sekuler kapitalistik. Dalam sistem rusak ini, perempuan memang dinilai dengan harga sangat murah dan terhina. Perempuan tak lebih dari benda/komoditas yang diperalat untuk memutar mesin industri kapitalis baik sebagai faktor produksi maupun sebagai objek pasar bagi produk yang dihasilkannya.

Keberadaan tenaga kerja industri di berbagai bidang yang mayoritas berjenis kelamin perempuan membuktikan hal ini. Upah yang murah dan karakter perempuan yang cenderung pasrah menjadi alasan para kapitalis lebih suka menggunakan tenaga mereka. Kemiskinan struktural akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme pun turut memaksa kaum perempuan terjun dalam dunia kerja yang keras tersebut. Padahal di saat sama, mereka tak bisa melepas peran kodrati mereka sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka. Dampaknya bisa dibayangkan. Perempuan terjebak dalam dilemma. Dan kualitas keluarga sebagai basis masyarakat pun menjadi taruhannya.

Hal ini kemudian diperparah dengan diintrodusirnya pemikiran kesetaraan jender di tengah masyarakat yang senyatanya dikembangkan untuk mendukung suksesnya agenda kapitalisme. Bagaimana tidak, selain alasan kebutuhan, pemikiran inilah yang berhasil mendorong kaum perempuan berbondong-bondong masuk dunia kerja dan mengabaikan peran kodrati mereka sebagai ibu dan manajer rumahtangga tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Mereka berpikir, dengan berdaya secara ekonomi, martabat mereka menjadi lebih tinggi, terutama di hadapan laki-laki.

Di saat yang sama, kapitalisme juga menumbuh suburkan paham liberalisme dan materialisme di masyarakat. Keberadaan paham-paham inilah yang memudahkan berbagai industri kapitalis yang melibatkan kaum perempuan berkembang pesat, tanpa mengindahkan halal haram, termasuk di dalamnya nilai-nilai moral. Industri prostitusi, trafficking, pornografi pornoaksi dan industri hiburan semacam kontes ratu-ratuan yang merusak akhlak bahkan menjadi sektor ekonomi bayangan yang menjanjikan untung besar, baik bagi para pengusaha maupun bagi negara (sumber pajak).

Paham inipun telah meracuni masyarakat terutama kaum perempuan untuk bersikap konsumtif dan mengutamakan nilai-nilai yang bersifat materi, termasuk ketika mereka memaknai kebahagiaan dengan sesuatu yang jasadi. Wajarlah jika mereka menjadi sasaran empuk iklan-iklan produk kapitalis, mulai dari produk makanan, mode pakaian, produk kosmetik dan produk-produk hiburan semacam film dan lain-lain. Dan tragisnya, tanpa sadar kaum perempuan telah menjadi penopang utama langgengnya hegemoni sistem kapitalis yang rusak dan merusak ini di tengah-tengah umat.


Bahaya Kapitalisme bagi Umat

Paham kapitalisme sejatinya merupakan adik kandung sekularisme yang menafikan peran agama dalam mengatur kehidupan. Paham ini diemban negara-negara adidaya dan diwujudkan dalam bentuk sistem hidup kapitalis yang bertumpu pada sektor perekonomian. Sesuai dengan namanya, yang menjadi aktor utama dalam mengeksiskan sistem ini adalah para pemilik modal. Mereka berkolaborasi dengan para penguasa, namun merekalah penguasa sebenarnya, yang menyetir berbagai kebijakan negara agar memberi keuntungan besar sekaligus melanggengkan hegemoni korporasi mereka.

Pada prakteknya, paham kapitalisme identik dengan imperialisme. Bahkan imperialisme menjadi metoda pengembanan paham ini ke seluruh dunia. Inilah yang melatarbelakangi praktek-praktek penjajahan yang terjadi sejak dulu hingga sekarang, baik dalam bentuk penjajahan fisik/militeristik, penjajahan ekonomi, pemikiran, budaya maupun politik.

Selain identik dengan imperialisme, kapitalisme juga identik dengan liberalisme. Paham yang dikembangkan John Lock ini menggambarkan kehidupan sebagai sesuatu yang keras, dimana manusia lahir untuk bersaing satu sama lain secara bebas dalam menguasai asset ekonomi sebagaimana srigala lapar bersaing satu sama lain memperebutkan makanan. Struggle for life. Siapa kuat, dia yang dapat. Si kuat memangsa yang lemah.

Keberadaan paham-paham rusak ini satu sama lain saling mengukuhkan, hingga kapitalisme dan negara-negara pengembannya tampil sebagai monster yang membahayakan., ekspansif dan imperialistik. Dengan modal yang kuat, mereka setir dunia dan mereka beli loyalitas para penguasa negara boneka, hingga dengan mudah, negara-negara lemah ini mereka jadikan sapi perah yang kekayaannya dirampok dan rakyatnya dibiarkan kian miskin dan bodoh.

Pada kondisi ini, kaum perempuan tak luput dari sasaran. Bahkan mereka telah lama dijadikan jalan melanggengkan penjajahan. Caranya dengan menumpulkan potensi mereka sebagai pencetak generasi unggul yang berpotensi melakukan perlawanan, baik melalui penjajahan ekonomi yang memiskinkan, maupun melalui serangan budaya dan pemikiran sebagaimana paham kesetaraan jender yang mengikis fitrah kewanitaan.

Saatnya Meraih Ketinggian Martabat Hakiki

Sebagai bagian dari masyarakat, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Jawa Barat merasa berkewajiban untuk turut memahamkan umat, termasuk kaum perempuan tentang bahaya terselubung di balik hingar bingar event ratu-ratuan yang ternyata hanya menjadi alat para pengemban kapitalisme untuk mengukuhkan hegemoni politik dan ekonomi mereka atas dunia melalui kaum perempuan. Padahal jelas bahwa hegemoni kapitalismelah sumber segala kerusakan, termasuk penghinaan atas harkat dan martabat kaum perempuan.

Untuk itu, terkait kedatangan Miss Universe ke Kota Bandung, Jawa Barat, kami menyerukan kepada semua pihak untuk secara bersama:

1. Menolak perempuan dijadikan komoditas berdasarkan ukuran primitif berupa kemolekan fisik.
2. Menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk dan dalih apapun, termasuk event ratu-ratuan.
3. Mengarahkan perempuan Indonesia, kembali kepada kemuliaannya sebagai perempuan yang berpegang teguh pada nilai agama, bukan nilai-nilai sekular kapitalistik.
4. Mengarahkan perempuan Indonesia untuk berprestasi di ajang internasional tanpa mengorbankan jati dirinya sebagai umat beragama.
5. Mengarahkan perempuan Indonesia untuk berkarya dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, bahkan sebagai negara pertama di dunia. Bukan sebagai negara pengekor yang hanya menjadi pasar bagi kapitalisme global.

Ala kulli hal, patut diingat, bahwa Indonesia adalah negara yang berpotensi menjadi negara pertama, Selain potensi sumber daya alam dan manusianya yang melimpah ruah serta potensi geografis yang strategis, Indonesia juga menyimpan potensi ideologi yang bisa mengancam hegemoni kapitalisme global di masa yang akan datang, yakni ideologiIslam. Itulah kenapa Indonesia selalu menjadi sasaran bidik serangan budaya dan pemikiran, termasuk melalui cara-cara yang dikemas apik sebagaimana agenda kedatangan Miss Universe ini. Jadi waspadalah! [SNA]

Minggu, 25 September 2011

ISLAM DAN PARTAI-PARTAI POLITIK DI INDONESIA


Oleh : Siti Nafidah Anshory

(Catatan ini baru kembali ditemukan. Ditulis sudah cukup lama, yakni jelang Pemilu tahun 2009 dan sempat menjadi bahan diskusi kelas saat kuliah dulu. Meski "jadul", saya pikir isunya masih tetap relevan untuk dibicarakan,terlebih hingga hari ini, perubahan hakiki belum juga berhasil diwujudkan)

Pengantar
Tidak berapa lama lagi, rakyat Indonesia kembali akan menggelar perhelatan akbar bernama Pemilu. Melalui perhelatan ini, mereka akan memilih para wakil rakyat di parlemen dan akan disusul dengan pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Untuk itu, seluruh parpol peserta pemilu seakan berlomba membuat berbagai strategi pemenangan, sekaligus mencari celah koalisi yang diprediksi bisa menjamin kursi kekuasaan ada di tangan.

Hanya saja, sebagian besar kalangan telah memprediksi bahwa hasil pemilu kali ini tidak akan jauh berbeda dengan hasil pemilu-pemilu sebelumnya. Meski pemilu telah berulangkali dilaksanakan (tiga kali di antaranya diikuti banyak partai; tahun 1955,1999 dan 2004), ternyata belum mampu membawa keadaan Indonesia menjadi lebih baik. Bahkan masyarakat cenderung kian apatis. Fakta ini terlihat dari kian menurunnya partisipasi politik masyarakat terhadap proses pemilu. Jika pemilu 1955 jumlah partisipasinya lebih dari 90 %, di awal reformasi, partisipasi itu turun menjadi sekitar 86 %dan Pemilu legislatif 2004 lalu bahkan turun lagi menjadi sekitar 77 %. Fakta ini juga terlihat saat pemilihan kepala daerah digelar, dimana hampir seluruh pilkada dimenangkan oleh golput. Dalam catatan Media Ummat , angka golput pada rentang waktu 2005-2008 mencapai 45-47%. Koordinator nasional JPPR (Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat) Jeirry Sumampow memprediksi besarnya jumlah golput dalam Pilkada akan merembet ke Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD, dan pilpres di tahun 2009.(www.mediaummat.com).

Fenomena Golput dan Citra Partai Hari ini
Fenomena golput (golongan putih) sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari penilaian masyarakat terhadap kinerja pemimpin, para wakil rakyat dan terutama partai politik. Masyarakat berpandangan bahwa memilih atau tidak memilih hasilnya sama saja karena tidak membawa pada perubahan. Terlebih secara kualitas dan kuantitas, kondisi Indonesia tak dipungkiri memang kian memburuk di berbagai bidang kehidupan, mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, dan sebagainya. Dengan demikian fenomena golput semakin menguatkan bahwa rakyat tidak terlalu yakin pemilu akan membawa pada perubahan. Apalagi mereka sudah berulang kali dikecewakan oleh orang-orang yang mereka percayai sebagai wakil dan pembawa aspirasi mereka, berikut parpol yang mengusungnya.

Kesimpulan ini bukan tanpa bukti. Survei Indo Barometer yang dilakukan di 33 provinsi selama hampir satu tahun menunjukkan, bahwa mayoritas masyarakat menilai kinerja parpol masih buruk dan tidak memuaskan. Hasil survey menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja parpol hanya sebesar 30,1%, sementara yang tidak puas lebih banyak lagi, yakni 54,6%. Mayoritas publik juga menyatakan bahwa partai politik belum memberikan manfaat nyata untuk rakyat, yaitu 54,1%. Hanya sebesar 31,5% dari publik yang menyatakan bahwa partai politik telah memberikan manfaat nyata untuk rakyat.(www.indobarometer.com)

Buruknya penilaian sebagian masyarakat terhadap kinerja parpol tersebut tentu saja bukan tanpa sebab. Mereka memandang bahwa selama ini budaya politik yang dikembangkan parpol adalah berlomba meraih kekuasaan dengan menjadikan rakyat hanya menjadi pihak yang dimanfaatkan dan bukan menjadi pihak yang diperjuangkan. Ketika rame-rame pemilu atau pilkada digelar, parpol juga rame-rame ’beriklan dan obral janji’ seolah mereka yang paling peduli dengan nasib rakyat, bahkan tak segan turun ke bawah menjambangi rakyat kecil sambil bertingkah bak ’sinterklas’; membagi-bagi sembako, safari majelis ta’lim dan pesantren sambil bagi-bagi karudung, membangun posko berbendera parpol di kawasan-kawasan bencana, berbecek-becek di pasar-pasar tradisional dan lain-lain. Namun begitu pemilu/pilkada selesai, parpol justru meninggalkan konstituennya (rakyat) dan kembali sibuk dengan kepentingan partai ketimbang kepentingan rakyat.

Kesimpulan ini juga terlihat dari survey Indo Barometer mengenai alasan publik yang menyatakan tidak puas terhadap kinerja partai politik. 47,5% diantaranya beralasan karena partai tidak memperjuangkan kepentingan rakyat, disusul dengan alasan fungsi partai tidak berjalan (misalnya dalam melakukan pengkaderan, pendidikan politik, dsb) 28,5%. Sementara dari responden secara keseluruhan, pandangan mereka terhadap peran parpol yang paling menonjol adalah memperjuangkan kepentingan partai dan pengurus partai itu sendiri 24,2%, disusul memperebutkan kekuasaan di pemerintahan, yaitu 18,3%, pelayanan publik 17,2 %, penyampaian aspirasi masyarakat 12,5 %, pendidikan politik 7,5 %, kaderisasi 2,6 %, tidak tahu 18,3 %. Tampak bahwa dalam pandangan masyarakat, peran partai memang masih belum pro-publik.

Kenyataan ini seolah memperkuat pernyataan Arief Budiman, sosiolog Indonesia yang kini menetap di Australia di dalam bukunya “Krisis Tersembunyi dalam Pembangunan, Birokrasi - Birokrasi Pembangunan” (1988). Dia menulis, “Dari sepuluh kebijakan yang dikeluarkan oleh birokrat/legislatif, maka sembilan diantaranya merupakan kebijakan yang semata-mata diarahkan untuk menguntungkan dirinya sendiri”. Sehingga sangat dimengerti bila rakyat mengalami kekecewaan berat dan fenomena ini terwujud dalam sikap tidak memilih (undecided voter).

Faktanya, masyarakat memang sudah terlalu sering disuguhi praktek-praktek abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) parpol dan kader partai di parlemen yang dilakukan secara telanjang. Parpol diduga sering menyalahgunakan fungsi-fungsi politiknya untuk mendapatkan keuntungan materi, seperti melelang dukungan kepada para pemilik modal yang berniat menjadi penguasa, memeras gubernur atau para petinggi eksekutif yang dikemas dengan bentuk-bentuk dukungan tidak langsung kepada mereka atau bahkan melalui tekanan terhadap petinggi bermasalah dalam penanganan proyek-proyek pembangunan mereka. Sedangkan parlemen, khususnya di sejumlah DPRD, masyarakat juga telah menyaksikan sendiri bagaimana sepak terjang para politisi dapat memainkan banyak pos anggaran APBD untuk mendapatkan keuntungan pribadi, termasuk memainkan laporan pertanggungjawaban (LPJ) bupati, wali kota, dan gubernur untuk kemudian mendapatkan imbalan materi agar LPJ diloloskan sehingga petinggi eksekutif di daerah dapat melanjutkan roda pemerintahannya.

Selain itu, parlemen sebagai representasi parpol, terbukti tidak mampu menyerap aspirasi rakyat. Bahkan, banyaknya kursi kosong atau politisi tertidur saat sidang-sidang penting di parlemen, menunjukkan bahwa para wakil rakyat memang tidak sungguh-sungguh berniat memperjuangkan kepentingan rakyat. Padahal selama ini rakyat terlanjur ’ditipu’ dengan berbagai slogan dan simbol seakan-akan kader parpol di parlemen adalah penyambung lidah rakyat demi mewujudkan harapan rakyat, yaitu tercapainya kesejahteraan hidup. Namun berbagai ‘pengkhianatan’ telah dilakukan anggota parlemen yang mengatasnamakan wakil rakyat dengan cara mengukuhkan bobroknya sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan penguasa. Terbukti produk hukum yang dilahirkan oleh parlemen kebanyakan tidak memihak kepada rakyat, bahkan bertentangan dengan kehendak rakyat atau pro kapitalis bahkan pro asing. UU Migas, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal, UU SDA, UU BHP, UU Pornografi, UU KDRT, UU Kespro dan UU lainnya adalah buktinya. Melalui UU Migas misalnya, pemerintah dan kader parpol di parlemen berselingkuh dengan membuat kebijakan yang merugikan rakyat; mengurangi subsidi terhadap BBM. Akibatnya, harga BBM dalam negeri naik dan lagi-lagi rakyat sebagai pemilih sah kekayaan bumi ini yang menjadi korbannya. Berdasarkan UU Kelistrikan, PLN pun secara bertahap di privatisasi (baca: swastanisasi/asingisasi). Dipastikan dengan privatisasi PLN, listrik akan semakin mahal. Harapan atas kesejahteraan hidup-pun hanya ilusi.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan pertunjukan perilaku amoral yang dilakukan sebagian oknum kader partai di parlemen. Apa yang terekspose ke permukaan, hanyalah puncak gunung es dari budaya yang sudah kadung dipahami “lumrah” dilakukan sebagian warga gedung parlemen. Begitupun perilaku korup dan menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan, menjadi catatan terbuka yang bisa dibaca siapapun dan kapanpun. Sehingga sangat beralasan jika tingkat kepercayaan masyarakat kian melemah. Mereka kesal dengan rapuhnya kinerja para penguasanya, termasuk para anggota parlemen yang diusung parpol.

Bagaimana Dengan Parpol Islam?
Hasil survey di atas memang tidak membedakan antara parpol Islam dengan parpol sekuler. Artinya, setuju atau tidak setuju, hasil survey menunjukkan begitulah pendapat atau pencitraan masyarakat terhadap parpol –termasuk parpol Islam-- saat ini. Terlebih tak bisa ditutupi jika banyak kasus korupsi dan perilaku amoral juga dilakukan oknum kader parpol Islam. Begitupun, tak sedikit kebijakan politik yang nyata-nyata merugikan rakyat justru didukung partai-partai Islam (ingat kasus kenaikan harga BBM yang diamini PKS). Wajar jika masyarakat punya penilaian, bahwa partai Islam tak jauh berbeda dengan partai lainnya, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian Indo Barometer (2008) yang menyebutkan: persepsi masyarakat bahwa tidak ada bedanya partai Islam dengan partai lain mencapai 43,3%, dan persepsi mereka tentang perilaku elit/pengurus dari partai Islam sama dengan partai lain yang bukan dari partai Islam mencapai 34,8%. Selain itu, mayoritas publik (antara 60-70%) juga mengaku kesulitan membedakan diferensiasi 24 partai politik di Indonesia, baik membedakan nama, sikap politik dan kebijakan ekonomi partai.

Dalam konstelasi politik Indonesia, partai politik memang –sengaja atau tidak-- telah terlanjur dipolarisasi ke dalam dua kelompok besar, yakni partai Islam dan partai sekuler (nasionalis dan Kristen). Dalam dunia akademik, biasanya definisi partai Islam itu dibagi menjadi tiga. Pertama, partai yang menganut asas Islam (dan tentu basis massanya adalah Islam) seperti PPP, PKS, dan PBB (sekarang ditambah PKNU dan PMB). Kedua, partai yang tidak menganut asas Islam tetapi berbasis massa Islam seperti PKB dan PAN. Ketiga, definisi yang tidak memisahkan keduanya. Artinya, yang disebut partai Islam mencakup baik yang berasas Islam maupun tidak berasas Islam namun berbasis massa Islam.

Dalam catatan sejarah perpolitikan di Indonesia, peran politik umat Islam yang direpresentasikan oleh gerakan dan parpol-parpol Islam memang cukup mengalami pasang surut. ‘Kegagalan’ diperjuangkannya aspirasi politik umat untuk menjadikan Islam sebagai dasar bernegara melalui pencantuman 7 kata dalam piagam Jakarta tak menyurutkan tekad para politisi berideologi Islam (baca: bukan sekedar Muslim) untuk terus berjuang agar Islam bisa menjadi asas bernegara. Munculnya partai Masyumi yang digagas M. Natsir dianggap sebagai saluran aspirasi umat di tengah pertarungan ideologi yang kencang terasa antara Islam di satu sisi dan sekularis (baik yang berideologi nasionalis-kapitalis maupun nasionalis komunis) di sisi yang lain. Hingga pada pemilu multipartai tahun 1955 (diikuti 172 peserta) partai ini mendapatkan suara cukup signifikan, yakni 20,9%, meski jika dibandingkan perolehan suara oleh parpol sekuler secara kumulatif masih kalah jauh (yakni 61%).

Hanya saja, pada perkembangan berikutnya keberadaan parpol Islam seolah terkebiri oleh kebijakan politik represif yang dikembangkan rezim orde lama dan orde baru. Kebijakan penguburan partai-partai oleh Soekarno yang menerapkan demokrasi terpimpin dan pemaksaan ideologi Nasakom memaksa Masyumi memilih membunuh dirinya sendiri daripada memilih menerima ideologi kiri tersebut sebagai nyawa barunya. Sementara penyeragaman ideologi parpol dengan asas tunggal Pancasila dan kebijakan pembatasan jumlah parpol di masa orde baru memaksa parpol-parpol yang ada melakukan fusi di bawah naungan asas tunggal tadi.

Sebagian kalangan yang memandang kebijakan-kebijakan diktator semacam ini sebagai pengkhianatan ideologi (semisal M. Natsir dan Hamka), memilih bersikap mufarraqah (berlepas diri), sekalipun harus mengambil resiko diasingkan secara politik dan mengalami upaya pembunuhan karakter politik. Sementara yang lain, memilih bersikap kompromistis dengan konstelasi politik yang ada, seraya berharap bisa tetap memelihara ‘jati diri’nya sebagai parpol Islam, sekalipun ‘sementara’ harus menyembunyikan ideologi politik Islamnya di bawah asas tunggal Pancasila. Sejak itulah aspirasi masyarakat dipaksa dipecah dalam 3 faksi besar; merah, kuning dan hijau, yang sejatinya 3 tapi 1, atau 1 tapi 3, dengan settingan, yang selalu harus menjadi pemenang ‘hanya yang berbendera kuning’.

Penyeragaman corak politik ala orde lama dan orde baru ini tentu bukan tanpa biaya. Bahkan bisa dikatakan social cost-nya ternyata sangat tinggi. Pada masa orde baru misalnya, aspirasi politik umat Islam benar-benar terbungkam dan peran politik mereka otomatis terpinggirkan. Tokoh-tokoh politik yang ‘syari’ah minded’ terkena blacklist dan tak sedikit yang ditangkap. Berbagai operasi intelejenpun digelar sebagai pengejawantahan UU Subversi, hingga berbagai kasus politik bermunculan dan mengkondisikan masyarakat pada situasi ‘tak berani’ melawan mainstream politik yang diciptakan penguasa saat itu. Bermunculanlah kasus Imran, Peristiwa Tanjung Priok, Haur Koneng, Peristiwa Lampung, Borobudur, dan lain-lain. Bahkan di kalangan Militer dan pegawai pemerintahan, pengkotakkan hijau dan kuningpun terjadi dan berpengaruh pada terbuka tidaknya jenjang karir bagi mereka. Di tingkat grassroot, proses pembodohan politikpun berlangsung secara massif lewat berbagai bidang, terutama kebijakan pendidikan, dan media massa, sekalipun upaya-upaya itu tak mampu membendung munculnya arus kesadaran identitas kemusliman --dan identitas kekirian di sisi lain-- di kalangan kampus (kaum terpelajar), sebagai dampak tidak langsung revolusi Islam di Iran dan revolusi negara-negara Amerika Selatan. Bahkan saat itu, gerakan-gerakan bawah dan atas tanah berideologi kiri (soskom) dan kanan (islam) bermunculan bak jamur di musim hujan.

Situasi kemudian berubah ketika di akhir kekuasaan rezim orde baru, Soeharto ‘sedikit’ mengubah haluan politiknya dengan membuka pintu bagi kalangan Muslim moderat berkiprah dalam percaturan politik nasional. Bahkan sebagian kalangan melihat kedekatan hubungan dan ‘sikap ramah’ Soeharto dengan kalangan ‘hijau’ (antara lain direpresentasikan oleh Habibi dengan ICMI-nya) ini-lah yang telah membuat AS yang awalnya memback up kekuasaan Soeharto ketar-ketir dan akhirnya mendesain skenario penjatuhan rezim Soeharto dengan menciptakan berbagai krisis, termasuk krisis ekonomi yang sangat parah yang memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dan berakhir dengan jatuhnya Soeharto dari tampuk kekuasaan yang sedemikian panjang.

Masa yang dinamai orde reformasi ini awalnya memang membawa angin segar. Euphoria atas kebebasan dan isu demokratisasi benar-benar membuat masyarakat begitu menikmati kesempatan mengungkapkan ekspresi politiknya melalui berbagai cara. Salah satunya nampak dari munculnya berbagai partai politik dalam jumlah yang hampir menyamai tahun 50-an. Tercatat 150 parpol berdiri di tahun 1999 dan 48 di antaranya ikut pemilu. Pada tahun 2004 terdapat 24 parpol lolos verifikasi. Dan untuk 2009 berdiri 80 parpol dan 38 di antaranya lolos verifikasi. Ini menandakan begitu besar harapan masyarakat atas perubahan.

Namun harapan tinggal harapan. Banyaknya jumlah partai –termasuk parpol Islam- dan politisi dadakan di panggung politik tak lantas membuat rakyat bertambah sadar atas arah dan jalan perubahan. Lemahnya pondasi perubahan yang di bangun akibat disfungsi peran parpol justru membuat gerakan perubahan berjalan seolah tanpa arah. Barangkali motto yang berlaku bagi rakyat hanya “pokoknya asal berubah”. Hingga kekuatan politik masyarakatpun kian bergantung pada ‘bungkus’ dan ‘iklan politik’ yang mampu dipasang parpol. Tingginya jumlah swing voters yang siap berubah pilihan dari satu partai ke partai lain dan besarnya angka floating mass adalah buktinya. Dan ironisnya, fakta miris ini justru dipahami sebagai peluang bisnis bagi parpol-parpol bermodal besar. Inilah yang membuat dunia politik berubah menjadi high cost area, yang memaksa parpol dan orang yang ingin berkiprah didunia politik harus cermat menghitung angka-angka sebagai input maupun outputnya. Karena itulah, istilah politik dagang sapi, menjual kucing dalam karung, uang lamaran, serangan fajar, money politic dan yang lainnya menjadi istilah yang lekat dalam dunia politik kita.

Di era ini, nasib parpol Islampun tak jauh berbeda. Tanpa berniat menafikan idealisme dan niat ikhlas sebagian pejuang Islam yang menjadikan parpol sebagai alat perjuangan dan mimbar dakwahnya, parpol Islam nampaknya masih terposisi sebagai penggembira, bahkan menjadi alat legitimasi atas proses demokratisasi yang kini masih dianggap sebagai jalan tol menuju perubahan. Seolah-olah, demokratisasi memang sedang berjalan baik (on the track), karena mengakomodir berbagai kepentingan kelompok politik aliran, termasuk diantaranya Islam. Padahal, jika dicermati faktanya, partai politik Islam sesungguhnya sedang diseret oleh sistem demokrasi --yang disebut Saiful Mujani sebagai mesin politik besi -- yang secara alami akan memaksa parpol Islam menerima atau berkompromi dengan nilai-nilai sekularisme. Sehingga menurutnya, yang terjadi sebenarnya bukan proses islamisasi, melainkan sekularisai kekuatan-kekuatan politik Islam.

Ini dibuktikan dengan adanya koalisi-koalisi politik yang dibangun parpol Islam yang cenderung tak lagi mempertimbangkan ideologi partai. “Kepentingan pragmatik” dan “yang penting berkuasa” justru seakan menjadi rumus paten bagi kiprah parpol Islam saat ini, hingga keberadaan ideologi dan asas parpol seolah cuma berfungsi sebagai merek dagang yang kosong dari substansi. Sebagian parpol Islam malah ada yang beralih menjadi parpol terbuka dan seolah minder ‘beriklan’ dengan simbol-simbol yang menunjukkan jati dirinya sebagai parpol Islam. Wajar jika dalam persepsi masyarakatpun, parpol Islam tak ada beda dengan parpol sekuler. Dan akhirnya, dari pemilu ke pemilu pilihan masyarakat masih berkutat di sekitar partai sekuler, sebagaimana temuan LSI pada survey per September 2007 yang menunjukkan dukungan terhadap parpol sekuler diakumulasikan sebesar 52%, parpol Islamis (PPP&PKS) 8% dan parpol berbasis masa Islam (PKB&PAN) hanya 7%.

Revitalisasi Parpol Islam Untuk Perubahan
Yang seharusnya menjadi pemikiran kita, fakta-fakta tadi (fenomena golput dan masih besarnya dukungan atas parpol sekuler) justru menunjukkan bahwa parpol Islam hingga kini dianggap belum mampu meyakinkan masyarakat bahwa Islam adalah jalan terbaik menuju perubahan. Terlebih, temuan di atas sebenarnya menjadi menarik ketika dihubungkan dengan hasil-hasil survey mengenai preferensi masyarakat terhadap isu syariat Islam atau lebih khusus isu penegakkan syariat Islam. Survei yang dilakukan oleh Roy Morgan Research pada awal 2008, melibatkan 8.000 responden dari seluruh negeri, menemukan bahwa 52 % orang Indonesia mengatakan bahwa syariah Islam harus diterapkan di wilayah mereka. Pada survei yang lain yang diadakan oleh aktivis gerakan nasionalis (GMNI) pada 2006, sebanyak 80 % mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Penelitian PPIM-UIN Jakarta tahun 2003 menggambarkan 74% masyarakat Indonesia menghendaki penerapan syariah Islam. Bahkan tahun 2008 hasil penelitian SEM-Institute menunjukkan rakyat yang setuju dengan penerapan syariah Islam di Indonesia mencapat 83%. Artinya, hasil survey di atas menunjukkan, bahwa keberadaan partai yang benar-benar memperjuangkan aspirasi Islam sesungguhnya sangat ditunggu-tunggu umat Islam.

Anomali ini sesungguhnya bisa dibaca sebagai ‘peringatan’ atas parpol Islam yang ada, bahwa pertama, mereka seharusnya konsisten dengan khiththah sebagai parpol Islam, yang menjadikan Islam bukan semata sebagai ruh, melainkan juga sebagai jalan baru bagi perubahan. Artinya, seharusnya parpol Islam berupaya menghadirkan ajaran Islam sebagai solusi tuntas atas seluruh problema kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, dan sebagainya, dengan menyodorkan konsep-konsep yang gamblang dan praktis, yang digali dari ajaran-ajaran Islam itu sendiri, bukan malah menyokong sistem rusak yang ada dan terjebak pragmatisme atau bahkan tak menawarkan konsep apapun. Tidak jelasnya visi-misi parpol, sikap mendua dan minder wardeg yang mereka tunjukkan selama ini, justru membuat umat kian menjauh, bukan cuma dari partainya, tetapi dari Islamnya. Dan ini berbahaya, karena parpol Islam berarti memfasilitasi terjadinya proses sekularisasi struktural di kalangan umat.
Kedua, mereka belum berhasil melakukan penyadaran politik Islam pada umat, hingga umat masih menjadikan Islam dan kehidupan Islam hanya sebagai alternatif pilihan, bukan satu-satunya pilihan. Padahal dalam prinsip Islam, persoalan keterikatan kepada aturan Islam merupakan konsekuensi keimanan dan keterikatan inilah yang sejatinya akan membawa kemaslahatan bagi bangsa secara keseluruhan.

Kondisi ini bisa dipahami, mengingat selama ini energi partai lebih banyak difokuskan pada pembesaran jumlah suara dan kampanye pemenangan. Sementara proses kaderisasi, mendidik masyarakat dengan pemikiran politik Islam dan penanaman Islam sebagai way of life yang seharusnya menjadi aktivitas utama parpol tidak tergarap.
Ketiga, parpol Islam belum berhasil menjadi saluran aspirasi sekaligus model sebagai entitas terbaik yang membawa kebaikan bagi umat. Perilaku politik kader partai yang mencederai Islam, berbagai friksi internal yang kerap terjadi dan konflik antar partai yang dipertontonkan parpol-parpol Islam menjadi alasan tersendiri mengapa umat lebih memilih parpol sekuler atau golput.

Memang, bisa jadi ada yang tidak setuju dengan kesimpulan di atas, bahkan meragukan metodologi yang digunakan dalam survey-survey mengenai preferensi masyarakat terhadap penegakkan syari’at Islam tadi. Namun, kenyataan bahwa parpol Islam sudah kehilangan jati dirinya sebagai parpol Islam dan melepaskan tanggungjawabnya untuk memperjuangkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat adalah hal yang tidak dapat dibantah. Bahkan tak satupun partai Islam yang bersengaja ‘menjual’ syari’at Islam sebagai ‘dagangannya’ hingga umat tertarik dan yakin bahwa Islam adalah jalan kebangkitan hakiki yang harus mereka tempuh, bukan cuma karena‘butuh’ tetapi karena mereka paham bahwa Islam memang ‘wajib’ diperjuangkan sebagai konsekuensi dari iman. Oleh karenanya, sangat wajar jika hingga hari ini, umat justru lebih memilih parpol sekuler yang ‘kemasannya’ memang lebih menarik dan seolah bisa menjadi harapan bagi penyelesaian problem-problem pragmatik kehidupan mereka.

Itulah kenapa, diperlukan semacam upaya revitalisasi parpol Islam dengan –pertama kali—melakukan introspeksi ke dalam untuk melihat kembali apa yang menjadi asas perjuangannya dan bagaimana harus diperjuangkan. Jangan sampai Partai Islam hanya sekedar nama belaka. Posisi abu-abu harus disingkirkan dengan memperjelas platform perjuangannya sebagai pembawa suara Islam dan umat Islam, tanpa harus mengabaikan prinsip-prinsip tasamuh yang juga diajarkan Islam. Parpol Islam juga harus berani tegas menyatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah, berani
mendobrak kebuntuan saluran aspirasi Islam, termasuk melakukan koreksi terhadap berbagai kebijakan keliru penguasa, baik karena bertentangan dengan Islam maupun yang merugikan umat Islam.

Lebih jauh dari itu, parpol Islam harus mulai memaksimalkan fungsi-fungsi politisnya yang selama ini terabaikan, dimana idealnya parpol Islam harus mampu menjalankan empat fungsi parpol yang ada. Pertama, sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat. Kedua, sebagai sarana komunikasi politik. Ketiga, sebagai sarana rekruitmen politik. Dan keempat, sebagai sarana peredam konflik.

Partai politik dalam era modern memang dimaknai sebagai suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuannya adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka . Namun sesungguhnya fungsi sejati dari parpol adalah mendidik masyarakat. Sedangkan kekuasaan, hanyalah ekses (bukan tujuan) dan alat untuk mewujudkan cita-cita partai yang diadopsi menjadi cita-cita masyarakatnya tadi.

Menurut Ramlan Surbakti , Parpol sejatinya merupakan representation of ideas atau mencerminkan suatu preskripsi tentang negara dan masyarakat yang dicita-citakan dan karena itu hendak diperjuangkan. Ideologi, platform partai atau visi dan misi seperti inilah yang menjadi motivasi dan penggerak utama kegiatan partai politik yang mengharuskannya berjuang bersama masyarakat untuk mewujudkannya dalam realita. Karena itulah parpol harus memfungsikan dirinya sebagai sarana pendidikan dan komunikasi politik, yang hakekatnya merupakan internalisasi dan peleburan platform, visi dan misi parpol agar menjadi platform, visi dan misi masyarakat. Dalam konteks parpol Islam, tentunya yang menjadi platform, visi dan misinya adalah Islam. Karenanya, parpol Islam seharusnya sudah memiliki berbagai pemikiran Islam ideologis yang jelas, terkait konsep-konsep kemasyarakatan berikut metode penerapannya yang semata diadopsi dari ajaran Islam.

Adapun targetnya tentu tak lepas dari upaya pembesaran tubuh partai melalui kaderisasi sekaligus prmbentukan opini umum yang akan mengarahkan pada percepatan terwujudnya cita-cita partai. Dalam kaitan itu, pembinaan kader-kader partai Islam tidak bisa diremehkan. Partai Islam harus melahirkan kader-kader pejuang Islam, bukan kader karbitan yang didapat di jalanan sebagaimana yang terjadi selama ini. Partai-partai Islam harus selalu mewaspadai penumpang-penumpang gelap yang berusaha mendompleng partai untuk kepentingan uang dan kepentingan pribadi yang menjadikannya sebagai kendaraan politik atau sekedar menjadi batu loncatan dalam meraih kursi kekuasaan.

Sejatinya eksistensi partai Islam, adalah partai perjuangan. Dan partai seperti ini hanya akan besar jika didukung oleh ideologi Islam yang kuat dan kader pejuang Islam yang mumpuni; yakni kader partai yang loyal terhadap ideology partai (Islam) dan partainya. Pembuktian kemenangan partai Islam nantinya, sesungguhnya adalah pembuktian keumatan. Harapannya, partai politik Islam akan eksis menjadi partai harapan, yang membawa bangsa ini pada perubahan hakiki. Dan hal ini hanya mungkin dilakukan oleh partai yang berhasil melakukan pendidikan politik umat, yang menjadikan kekuatan umat sebagai penopang perjuangan dan penopang keberhasilan yang diraihnya.

Yang harus dicamkan, sejarah membuktikan bahwa kekuasaan tanpa dukungan umat/masyarakat tak akan pernah langgeng. Jadi saatnya Parpol Islam menjadikan umat sebagai partner perjuangan sejati, dengan menjadikan mereka yakin dan ikut mengemban ideology dan plattform partainya, bukan sekedar memberi rangkulan basa-basi. Dan yang tak kalah penting, seluruh parpol Islam harus mau bersinergi membangun koalisi solid agar dukungan umat tak terpecah di bawah bendera parpol yang berbeda.
[SNA09]


-----------

DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Miriam. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia.
Done Ali Usman, Menakar Signifikansi Parpol Negeri Ini, www.waspada.co.id (online resource), diakses 9 Maret 2009.
Ebenstein, William, et. All. 1994. Isme-Isme Dewasa ini (Today’s Isms, ninth edition). Jakarta: Erlangga. Cet.II.
Isdiyanto, Memfungsikan Partai Politik. www.jalanjalankesimpanglima.com (online resource), diakses tanggal 9 Maret 2009.
Kantaprawira, Rusadi. 2006. Sistem Politik Indonesia, Suatu Model Pengantar. Bandung : Sinar Baru Agensindo. Cet. X.
Macridis, Roy C. dan Bernard E Brown (Penyunting). 1996. Perbandingan Politik, Catatan dan Bacaan. Edisi Keenam (Terj.). Jakarta : Penerbit Erlangga.
MR. Kurnia, Merebut Masa Mengambang, www.hizbut-tahrir.or.id (online resource), diakses tanggal 9 Maret 2009.
Muh. Hermawan Ibnu Nurdin, Kiprah dan Peran Politik Masyumi. www.hermawaneriadi.wordpress.com (online resource), diekses tgl 6 Maret 2009.
Ramlan Surbakti, Perkembangan Partai-Partai Politik di Indonesia, www.knaw.nl (online resource), diakses tanggal 6 Maret 2009.
Siti Nafidah. Artikel pribadi. Sekularisasi Politik Dan Mimpi Menyelamatkan Bangsa,17 Oktober 2008.
Tim Indo Barometer. Artikel. Ringkasan Temuan Kepuasan Terhadap Kinerja Parpol, www.indobarometer.com (online resource), diekses tgl 6 Maret 2009.
Tim Indo Barometer. Laporan penelitian tahun 2007. www.indobarometer.com (online resource), diakses tgl 6 Maret 2009.
Tim LSI. Parpol Islam Kian Terpuruk, www.lembagasurveyindonesia.com (online resource), diakses tanggal 6 Maret 2009.
Waspada Online http://www.waspada.co.id (online resource), diakses tgl 6 Maret 2009.
Yusril Ihza Mahendra, Kebijakan Orde Baru, Masyumi Dan Islam, www.yusril.Ihzamahendra.com (online resource) diakses Ttnggal 9 Maret 2009.
www. mediaummat.com (online resource), diekses tgl 6 Maret 2009.

Sabtu, 24 September 2011

FATHIMAH AZ-ZAHRA RA.


(Sosok Wanita Sempurna,Mutiara Ummat)
Fathimah dilahirkan di Ummul Qura, ketika orang-orang Quraisy merehab bangunan ka’bah, yaitu lima tahun sebelum kenabian. Kedua orangtuanya sangat senang dan gembira karena kelahirannya. Ia tumbuh di rumah yang suci, mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua orangtuaya dan berkembang dalam suasana nubuwwah yang suci. Matanya terbuka untuk melihat urusan risalah yang dikhususkan Allah bagi ayahnya, Muhammad saw.

Fathimah sebagaimana putri-putri Rasulullah lainnya berada dalam satu ikatan bersama ibu mereka Khadijah dalam kelompok terdepan di pelataran Islam, yang membenarkan ayah mereka yang memang telah dikaruniai sifat-sifat yang diberkahi sebelum risalah. Ke-Islaman keluarga ini, Muhammad saw, istri dan putri-putrinya merupakan ke-Islaman fitrah yang suci, yang disuapi dengan iman dan nubuwwah, yang dibesarkan pada keutamaan dan kemuliaan akhlak.

Abu Nu’aim mensifati Fathimah Az-Zahra dengan berkata : “Di antara para wanita yang suci dan ahli ibadah serta bertakwa ialah Fathimah radhiyallahu anha. Dia menghindari dunia dan kesenangannya, mengetahui aib dunia dan bencananya”. Kehidupannya diwarnai kesederhanaan namun ditaburi barokah dan cahaya yang mengisyaratkan zuhud, wara’ dan ketakutannya kepada Allah serta berbuat secara berkelanjutan untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Pada tahun kedua setelah hijrah, Ali bin Abu Thalib menikahi Fathimah dengan mas kawin baju besi senilai empat dirham. Keduanya menjalani kehidupan suami istri dengan penuh kebahagiaan. Sejarah tidak mengenal seorang perempuan yang mampu menghimpun kesabaran dan ketakwaan seperti halnya Fathimah Az-Zahra’, putri Rasulullah ini. Sejak hari pertama pernikahannya dengan Ali, ia mengerjakan sendiri tugas rumah tangganya yang cukup berat pada waktu itu. Dia harus menggiling bahan makanan dan membuat adonan roti hingga rambutnya terkena percikan-percikan tepung, kemudian ia memprosesnya dan memasaknya hingga matang. Sementara suaminya yang zuhud dan mujahid tidak mampu mengupah pembantu untuk membantu Fathimah dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Sebagai seorang ibu, nampak dari anak-anaknya yang sangat cinta kepada Allah swt, menjadi anak-anak yang dicintai dan disayangi oleh siapapun, terutama Rasulullah saw. Siapa yang tidak mengenal Hasan dan Husein, mereka adalah anak-anak yang sangat dekat dengan Allah swt, sangat besar pengorbanannya untuk Islam dan kaum muslimin.

Sebagai seorang anak pun tak ada yang bisa meragukannya bahwa Fathimah adalah anak yang berbakti kepada kedua ayah bundanya. Dari Ibnu Abbas raa dia berkata, “ Setelah turun ayat Idza ja’a nashrullah wal fathu, maka nabi saw memanggil Fathimah dan bersabda kepadanya, bahwa kematian beliau sudah dekat yang membuat Fathimah menangis. Lalu beliau bersabda, “Jangan engkau menangis, karena engkaulah keluargaku yang pertama kali bersua denganku,” Sehingga membuat Fathimah tersenyum.
Ketika sakit, Nabi saw semakin berat sehingga membuat beliau pingsan, maka Fathimah berkata, “Aduhai kasihan engkau wahai ayah !” Setelah siuman beliau bersabda, “Tidak ada lagi kesusahan yang menimpa ayahmu setelah hari ini.” Setelah itu Rasulullah berpulang ke Rahmatullah, yang membuat Fathimah bersedih dan menangis. Dia berkata, “Wahai ayah, kepada Jibril kami sampaikan kabar kematianmu. Wahai ayah, kepada Rabb engkau penuhi seruan-Nya. Wahai ayah syurga Firdaus tempat kembalimu”.

Fathimah Az-Zahra’ memiliki sepak terjang yang harum di medan jihad, sejarah telah mencatat keutamaan-keutamaannya di berbagai pertemuan, bersama-sama dengan Rasulullah saw. Dalam perang Uhud, peperangan yang mengandung banyak pelajaran dan pengorbanan, Nabi Muhammad saw mendapatkan luka di badan dan wajah beliau, hingga darah beliau mengalir deras, Fathimah langsung memeluknya. Kemudian ia mengusap darah Rasulullah dan mengalirkan air di atasnya. Ketika ternyata darah tersebut tidak berhenti mengalir, maka Fathimah membakar potongan tikar, kemudian abunya ditempelkan ke luka tersebut hingga akhirnya darah tersebut berhenti mengalir. Pada saat ini beliau bersabda : “Amat besar kemarahan Allah terhadap orang-orang yang membuat wajah Rasul–Nya berdarah”.

Dalam perang Uhud ini Fathimah keluar bersama-sama dengan perempuan-perempuan dari kalangan Muhajirin dan Anshor sambil mengusung air dan makanan di punggung mereka. Tentang peran Fathimah ra dalam perang Uhud ini, shahabat Sahl bin Sa’d berkata, “Rasulullah saw terluka hingga gigi seri beliau patah, Fathimah binti Rasulullah saw mencuci darah dan Ali mengalirkan air kepada beliau dengan menggunakan teko. Ketika Fathimah melihat bahwa air itu justru membuat darah semakin deras mengalir, dia mengambil potongan tikar dan membakarnya hingga ia menjadi abu, lalu dia menempelkan abunya di luka beliau, hingga darah tidak lagi mengalir dari lukanya.

Fathimah juga ikut dalam perang Khandaq dan Khaibar, ia pernah juga keluar bersama empat belas perempuan lainnya, diantaranya Ummu Sulaim binti Milhan dan Ummul Mukminin Aisyah untuk membawa air dalam qirbah dan membawa perbekalan di punggungnya untuk memberi makan dan minum orang-orang mukminin yang sedang berperang.
Itulah Fathimah Az-Zahra’, perempuan yang cantik dan elok rupa dan perilakunya. Di saat yang bersamaan ia adalah anak yang sholehah yang berbakti kepada ayah dan bundanya, sehingga menjadi kebanggaan orangtuanya Ia juga seorang istri yang mengerti tugas dan posisinya. Ia tidak mengeluh atas peran dan tanggungjawab yang diberikan aturan Allah dan Rasul-Nya atas kaum perempuan, termasuk dirinya, sekalipun ia sendiri yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Di sisi lain, ia juga merupakan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Ia didik anak-anaknya menjadi anak-anak yang sangat cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw. Bukan semata-mata karena Muhammad saw adalah kakeknya, tapi karena Muhammad saw adalah orang yang diutus oleh Allah swt untuk menyampaikan atau menyebarkan syariat Islam.

Meskipun demikian, Fathimah tidak terkungkung/terpenjara hanya dalam peran domestiknya saja. Ia menyadari betul bahwa ia adalah bagian dari umat atau masyarakat Islam yang memiliki andil dan tanggungjawab untuk memajukan dan mengantarkan umat Islam kepada umat yang mulia, sebagai umat yang terbaik di muka bumi ini. Ia tidak pernah merasa malu untuk bertanya kepada Rasulullah tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam, kemudian menyampaikan kepada suaminya ataupun wanita-wanita lain apalagi Fathimah termasuk orang yang dekat dengan Rasulullah. Karenanya ia sering dijadikan tempat bertanya para shahabat atau shahabiyat lainnya. Sebagai bagian dari umat Islam, Fathimah pun tidak segan-segan terjun langsung ke medan Jihad, melawan musuh-musuh kaum muslimin dan segala bentuk kesesatan yang ada. Subhanallah ketakwaannya dan ketawakalannya kepada Allah serta ketinggian berpikirnya membawanya untuk dapat menjalankan seluruh perintah-perintah Allah secara sinergis dan harmonis, tidak mengutamakan yang satu lalu mengabaikan yang lain.
(Sumber : Buku Revisi Politik Perempuan)

Kamis, 15 September 2011

TEKS KHUTBAH IDUL FITRI


RAIH HIDUP SEJAHTERA DENGAN SYARIAH DAN KHILAFAH
(Disampaikan Oleh Ust. Luthfi Afandi, Humas DPD I HTI Jawa Barat)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الْعَزِيْزِ الْقَهَّارِ، نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ، وَ نُؤْمِنُ بِهِ وَ نَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَ نَشْكُرُهُ وَ لاَ نَكْفُرُهُ وَ نَخْلَعُ وَ نَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُهُ.
أَشْهَدَ أَنَّ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْمُتَوَحِّدُ فِيْ الْجَلاَلِ بَكَمَالِ الْجَلاَلِ تَعْظِيْمًا وَ تَقْدِيْرًا،
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ،
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، فَاتَّقُوْا اللهَ يَا عِبَادَ اللهِ.
وَ قَالَ اللهُ تَعَالَى:     •   •                      (فاطر:10)

اَمَّا بَعْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslim rahimakummullah…
Alhamdulillah, hari ini kita berada pada Hari Raya Idul Fitri. Layaknya hari raya, hari ini merupakan hari yang penuh dengan kebahagiaan. Hari ini adalah satu dari dua kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Ucapan takbir, tahlil dan tahmid terus keluar dari hati dan mulut kita semua; menembus langit, menggema ke angkasa. Kalimat thayyibah itu kita lantunkan sebagai rasa syukur kita. Kita berharap, hari ini dosa-dosa kita telah dihapus oleh Allah SWT. Semoga hari ini kita mendapatkan apa yang disabdakan Rasulullah saw.:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mewajibkan puasa Ramadhan atas kalian dan aku mensunnahkan kepada kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa yang melaksanakn puasa dan qiyam Ramadhan dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya (HR an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah:
Kita patut bersyukur atas nikmat ini. Namun, di sisi lain hati dan jiwa kita pun masih tetap sakit laksana teriris sembilu. Betapa tidak, sejak Khilafah diruntuhkan oleh agen Inggris, Musthafa Kemal, pada 28 Rajab 1342H, 90 tahun lalu, umat Islam hingga kini berada dalam keterpurukan.

Marilah kita merenung sejenak. Al-Quran menegaskan bahwa Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Kini riba justru dijadikan tulang punggung perekonomian. Utang Indonesia dalam sistem riba pada Juni 2011 ini mencapai Rp 1.716 triliun.

Orang yang mengabaikan fakir-miskin disebut oleh al-Quran sebagai pendusta agama. Faktanya, justru proses pemiskinan terus berjalan dan makin meluas. Di Indonesia saja, jumlah orang miskin yaitu orang yang pengeluarannya kurang dari Rp 211.726,- per bulan atau kurang dari Rp 7 ribuan perhari, jumlahnya mencapai 31,02 juta jiwa. Biaya sekolah mahal. Biaya rumah sakit pun melangit.

Islam menegaskan bahwa air, hutan, barang tambang dan energi merupakan milik rakyat. Realitasnya, semua itu malah diserahkan kepada pihak asing. Listrik diprivatisasi. Uangnya dikorupsi!

Allah SWT mewajibkan penerapan hukum Islam, tetapi yang kini diterapkan adalah kapitalisme-demokrasi dari JJ Rousseau, John Lock, Plato, Adam Smith, dll. Para pejuang yang menyerukan kebenaran di hadapan penguasa oleh Rasulullah saw disebut sebagai penghulu syuhada, sebagaimana Sayidina Hamzah ra. Namun, kini mereka dituduh sebagai fundamentalis bahkan teroris. Dirancanglah RUU Intelijen, RUU Keamanan Nasional dan revisi UU Antiterorisme untuk menghadang perjuangan Islam. Darah kaum Muslim yang diharamkan oleh Rasulullah saw. kini justru ditumpahkan di mana-mana: di Palestina, Irak, Afganistan, Pakistan, Libya, dsb.

Allah SWT menggelari umat Islam dengan khayru ummah (umat terbaik). Faktanya, umat yang mulia ini justru masih dijajah. Dalam sistem Kapitalisme ini, kesejahteraan baik secara materil (mâdiyah), spiritual (rûhiyah), moral (akhlâqiyah) maupun kemanusiaan (insâniyah) hanyalah isapan jempol belaka.

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah…
Pertanyaannya, dimanakah letak kemuliaan dan kesejahteraan itu? Dimanakah kita harus meraihnya? Kemuliaan —yang salah satu bentuknya kesejahteraan hakiki— itu sesungguhnya terletak dalam penerapan hukum Allah SWT, yakni syariah Islam. Allah SWT berfirman:

   •   • ...

Siapa saja yang menghendaki kemuliaan maka milik Allahlah kemuliaan itu semuanya… (TQS Fathir [35]: 10).

Dengan gamblang Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut, “Siapa saja yang menghendaki kemuliaan di dunia dan akhirat, haruslah ia menaati Allah, niscaya Allah akan menunaikan keinginannya. Sebab, Allahlah Pemilik dunia dan akhirat, dan milik Allah sajalah semua kemuliaan.”
Allah SWT juga berfirman:

  •       

Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tiada mengetahui (TQS al-Munafiqun [63]: 8).

Jelaslah, kesejahteraan dan kemuliaan hakiki hanya akan tercapai dengan penerapan syariah Islam. Penerapkan aturan apapun selain Islam hanya akan melahirkan kehidupan yang sempit, jauh dari kesejahteraan hakiki. Allah SWT berfirman:

     •        

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta… (TQS Thaha [20]: 124).

Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah: menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Tafsir al-Quran al-‘Azhim, V/323). Jelaslah, kemuliaan itu hanya ada dalam penerapan syariah Islam.


اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah…
Wajar saja, kemuliaan dan kesejahteraan hakiki tidak kunjung datang sampai sekarang. Sebab, penguasa kaum Muslim saat ini mencari kemuliaan bukan pada tempatnya. Mereka menjadikan kaum kafir penjajah sebagai pemimpinnya dan sistem kufur seperti demokrasi sebagai aturan hidupnya. Padahal Allah SWT berfirman:

   •               • • •     (النساء: 139-138)

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Padahal sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah (TQS an-Nisa’ [4]: 138-139).

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah…
Sekali lagi, kemuliaan yang salah satu bentuknya kesejahteraan itu hanya ada dalam penerapan syariah Islam. Lalu siapakah yang bertanggung jawab melaksanakannya? Siapakah yang menjadi benteng dalam penerapannya? Rasulullah saw. menegaskan bahwa Khalifah (Imam) sebagai penanggung jawabnya. Rasulullah saw. bersabda:

« الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ » (رواه البخارى)
Imam (Khalifah) adalah pemimpin dan dialah yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya (HR al-Bukhari).

Dalam syarah Shahih al-Bukhari disebutkan makna hadis ini adalah: “Sesungguhnya Imam (Khalifah) wajib mengurusi urusan rakyatnya, mengurusi pendidikannya dan menasihatinya, baik rakyat laki-laki maupun perempuan.” (Ibnu Bithal, Syarh Shahih al-Bukhari, I/175).

Rasulullah saw. pun menegaskan:

« إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ ‏ ‏يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »
Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah laksana benteng; umat berperang di belakangnya dan dilindungi oleh dia (HR Muslim).

Imam di sini maksudnya adalah khalifah (Mirqah al-Mafatih Syarhu Misykat al-Mashabih, 11/298). Lebih jauh Imam an-Nawawi menyatakan, hadis itu bermakna bahwa Imam/Khalifah merupakan benteng/tameng karena ia melindungi rakyat dari serangan musuh terhadap kaum Muslim, memelihara hubungan kaum Muslim satu sama lain dan menjaga kekayaan Islam. Berdasarkan hal ini makin terang bahwa kemuliaan dan kesejahteraan hanya dapat diraih dengan menerapkan syariah di bawah kepemimpinan Khalifah.

Selain itu, hubungan kesejahteraan dengan syariah dan Khilafah tampak jelas dalam kitab suci al-Quran:

        •              •                   

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka —sesudah mereka berada dalam ketakutan— menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Siapa saja yang kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasik (TQS an-Nur [24]: 55).

Dalam ayat tersebut Allah SWT menjanjikan empat hal yang saling terkait. Pertama: kekuasaan/kekhilafahan (istikhlaf). Kedua: peneguhan ajaran Islam (tamkinu ad-din). Ketiga: keamanan (al-amnu). Keempat: ibadah dan tidak syirik.
Adanya huruf waw (dan) dalam ayat itu menegaskan adanya keterkaitan yang kuat antara Khilafah, penerapan syariah Islam dan kesejahteraan baik dalam bidang materi, ruhiah, akhlak maupun kemanusiaan (insaniyah). Waspadalah, ayat itu mengatakan bahwa siapa saja yang mengingkari janji Allah SWT maka ia termasuk orang fasik. Na’udzu billah min dzalik.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah...
Hanya Khilafah saja sistem yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Khalifah akan menghabiskan hidupnya untuk kebahagiaan dan kenyamanan umat Islam. Ia didampingi para pendamping yang siap mengingatkan dan meluruskan dirinya ketika terjadi kesalahan. Ia pemimpin yang mencintai umat dan umat pun mencintai dirinya. Ia ridha terhadap umat dan umat pun ridha terhadap dirinya. Ia mendoakan kebaikan untuk umat dan umat pun mendoakan kebaikan bagi dirinya. Umat menaati dirinya dan ia memberikan kebaikan kepada umat. Umat berlindung kepada dirinya dan ia pun melindungi mereka. Ia menjadi tempat peristirahatan yang menyenangkan dan bahkan ‘surga’ bagi mereka yang mencari perlindungan. Seperti itulah kehidupan para imam/khalifah. Sungguh, mereka ini adalah para kekasih Muhammad saw., yang sangat keras terhadap orang-orang kafir dan penyayang terhadap sesama mereka. Mereka adalah di antara manusia yang terbaik, sebagaimana firman Allah SWT:

    •   

Yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang Mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir (TQS al-Maidah [5] : 54).

Jelaslah, untuk meraih kemuliaan dan kesejahteraan hanya ada satu cara, yaitu menegakkan syariah dan Khilafah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah…
Marilah pada hari Idul Fitri ini kita membulatkan tekad untuk melipatgandakan upaya dan pengorbanan demi tegaknya syariah dan Khilafah itu. Raihlah hidup sejahtera dengan menegakkan syariah dan Khilafah!


اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah:
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT.


أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ اَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَ نُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَ جَلاَءَ اَحْزَانِنَا، وَ ذِهَابَ هُمُوْمِنَا وَ غُمُوْمِنَا، وَ قَائِدَنَا وَ سَائِقَنَا اِلَى رِضْوَانِكَ، اِلَى رِضْوَانِكَ وَ جَنَّاتِكَ جَنَّاتٍ نَعِيْمٍ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ شَفِيْعَنَا، وَ حُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا،
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا من النَّارَ وَتُدْخِلُهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِي ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفِظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.
اَللَّهُمَّ يَامُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسِمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَسُبْحَانَ رَبُّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Selasa, 30 Agustus 2011

KH Drs. Hafidz Abdurrahman, MA: Kesatuan Awal dan Akhir Ramadhan Membutuhkan Khilafah


(Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Pengantar:

Alhamdulillah, tahun ini mayoritas kaum Muslim di seluruh dunia—kecuali hanya segelintir orang—mengawali Ramadhan serentak pada hari dan tanggal yang sama. Kita berharap tahun ini kaum Muslim juga mengakhiri Ramadhan dan merayakan Idul Fitri pada hari dan tanggal yang sama. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun yang akan datang, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sering muncul perbedaan di tengah-tengah kaum Muslim mengenai penentuan awal dan akhir Ramadhan. Mengapa perbedaan itu kerap terjadi? Apa faktor penyebabnya? Adakah ini murni semata-mata alasan fiqhiyah yang ditoleransi? Ataukah ada alasan lain? Mungkinkah perbedaan ini disatukan? Jika mungkin, bagaimana caranya? Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan Redaksi kepada Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) KH Hafidz Abdurrahman, MA. Berikut petikan wawancaranya.


Kadang terjadi perbedaan di tengah kaum Muslim tentang penetapan awal dan akhir Ramadhan. Mengapa bisa terjadi perbedaan itu?

Perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan ini bisa terjadi karena tiga faktor: faktor astronomi, fikih dan faktor politik. Dari ketiga faktor ini, faktor politiklah sebenarnya yang paling dominan. Sebagai contoh, ketika pemerintah Yaman mengumumkan hilal tanggal 7/12/1999 sehingga 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 8/12/1999, pemerintah Arab Saudi tidak mau mengikuti mereka sehingga menetapkan 1 Ramadhan di Arab Saudi jatuh pada tanggal 9/12/1999. Padahal dari segi jarak, Yaman dan Saudi adalah dua wilayah yang berdekatan.

Sebagian bersandar pada perhitungan atau hisab baik hisab astronomis ataupun perhitungan dengan teori lainnya. Apa yang menjadi argumentasi mereka?

Mereka yang berpatokan pada hisab (perhitungan bulan/matahari) bersandar pada sabda Nabi saw. yang menyatakan: Fain ghumma ‘alaykum faqduru lahu (Jika mendung menutupi pandangan kalian maka hitunglah bilangan bulan tersebut) (HR Muslim, an-Nasa’i dan Ibn Majjah). Ibn al-’Arabi menyatakan, bahwa dalam memahami maksud faqduru lahu (hitunglah bilangan bulan tersebut) ada dua pandangan. Pertama: melakukan perhitungan terhadap bulan/matahari. Kedua: menghitung jumlah hari (menggenapkan hitungan hari).

Bagaimana yang lain bersandar pada rukyat, apa yang menjadi argumentasi mereka?

Argumentasi yang bersandar pada rukyat adalah hadis Nabi saw.: Shumu li ru’yatihi wa afthiru li ru’yatihi (Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah kalian karena melihat hilal) (HR Muttafaq ‘Alaih). Bagi mereka, konotasi faqduru lahu (hitunglah bilangan bulan tersebut) juga jelas, bukan melakukan perhitungan bulan/matahari, tetapi menghitung jumlah hari untuk mengenapkan hari bulan tersebut. Sebab, dalam riwayat lain, Nabi saw. Menyatakan: fa akmilu ‘iddata Sya’bana tsalatsina yawm[an] (maka genapkanlah jumlah hari Sya’ban menjadi 30 hari) (HR Bukhari).

Lalu menurut Kiai, mana yang paling kuat?

Dari kedua argumentasi tersebut, yang paling kuat jelas berpuasa dan berhariraya dengan rukyat. Mengapa? Pertama: karena dengan jelas Nabi saw. memerintahkan kita agar berpuasa dan berhari raya dengan merukyat hilal, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain-lain. Kedua: dalam riwayat Muslim yang lain, Nabi saw. menegaskan, bahwa satu bulan itu berjumlah 29 hari. Kemudian baginda melarang kita berpuasa dan berhari raya hingga melihat hilal Ramadhan/Syawal. Hadis yang kedua ini disertai takhshish bi al-ghayah, yaitu hatta tarawhu (hingga kalian melihat hilal). Dengan kata lain, larangan berpuasa dan berhari raya tersebut bersifat umum, berlaku untuk siapapun hingga mereka melihat hilal Ramadhan dan Syawal. Ketiga: jika tarkib (frasa) faqduru lahu (hitunglah bilangan hari) tersebut dianggap mujmal, karena ambigu, antara perintah menghitung dan perintah menyempurnakan jumlah hari, maka adanya riwayat lain yang menyatakan fa akmilu ‘iddata Sya’bana tsalatsina yawm[an] (genapkanlah jumlah hari Sya’ban menjadi 30 hari), telah mengugurkan ke-mujmal-an tersebut. Dengan demikian, konotasi “perintah menghitung” atau hisab tersebut sudah hilang, karena sudah dijelaskan dengan dalil lain. Dalam kaidah ushul dinyatakan, jika ada konotasi yang mujmal dan mubayyan, maka mubayyan-lah yang harus digunakan, sedangkan yang mujmal harus ditinggalkan.

Secara syar’i, apakah boleh ada perbedaan awal dan akhir Ramadhan di tengah kaum Muslim?

Perbedaan seperti ini sebenarnya telah terjadi sejak zaman Nabi saw. Namun, perbedaan ketika itu lebih disebabkan karena faktor keterbatasan sarana komunikasi sehingga hasil rukyat di satu wilayah tidak bisa sampai kepada penduduk di wilayah lain. Padahal belum tentu kedua wilayah yang berbeda tersebut sama-sama bisa melakukan rukyat. Karena itu, Ibn Abbas, sebagaimana dalam riwayat Kuraib, membenarkan adanya perbedaan tersebut. Riwayat yang sama kemudian digunakan oleh Imam as-Syafii untuk membenarkan perbedaan awal dan akhir Ramadhan, karena perbedaan mathla’.

Namun, argumentasi multi-mathla’ ini, selain dalilnya lemah, karena menggunakan pendapat Ibn Abbas, juga tidak relevan dengan fakta saat ini karena keterbatasan sarana informasi dan komunikasi tidak lagi terjadi. Saat ini, jika ada penduduk di satu wilayah berhasil merukyat hilal, maka pada jam yang sama informasi tersebut bisa sampai kepada penduduk di wilayah lain. Karena itu, jika pada zaman seperti ini masih terjadi perbedaan, sebenarnya bukan karena tidak ada informasi hasil rukyat yang sampai kepada mereka, tetapi lebih disebabkan oleh faktor politik. Jika masalahnya adalah masalah politik, maka solusinya harus solusi politik, yang bisa menghentikan perbedaan fikih, astronomi hingga politik.

Apa yang menyebabkan kesatuan awal dan akhir Ramadhan itu sulit diwujudkan saat ini? Apakah karena kendala teknis, politis, ekonomi, perbedaan mazhab atau yang lainnya?

Secara teknis sebenarnya tidak ada kendala. Perbedaan mazhab juga bisa di-tarjih sehingga pendapat yang dipandang lemah dengan mudah bisa ditinggalkan. Namun masalahnya, sekali lagi, bukan itu, melainkan masalah politis, termasuk kepentingan ekonomi di balik perpecahan tersebut, yaitu penjajahan terhadap Dunia Islam.

Bisakah kendala-kendala itu ke depan dihilangkan?


Jelas bisa.

Kalau begitu, bisakah ke depan seluruh kaum Muslim mengawali dan mengakhri Ramadhan secara bersamaan?

Bisa. Karena secara teknis, itu mungkin. Apalagi dengan teknologi satelit, internet dan sebagainya. Tinggal, apakah ada political will yang menyatukan itu, ataukah tidak? Di situlah relevansi Khilafah, yang akan menghilangkan seluruh perbedaan baik fikih, astronomi maupun politik. Saya membayangkan, kalau ada Khilafah, maka menjelang awal Ramadhan, Khalifah dengan sangat serius mempersiapkan upaya pemantauan hilal, sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah saw. Khalifah akan mengerahkan ulama, pakar astronomi di berbagai kawasan negeri Khilafah mulai dari Indonesia hingga Spanyol. Teknologi pun dipersiapkan untuk membantu siaran langsung dari berbagai kawasan pemantauan dari seluruh dunia dilakukan, seperti siaran langsung piala dunia. Kemungkinan detik-detik terlihatnya hilal bisa disaksikan oleh kaum Muslim di seluruh dunia.

Setelah hilal terlihat, Khalifah segera mengumumkan masuknya 1 Ramadhan; atau bulan Sya’ban digenapkan 30 hari, kalau belum terlihat. Siaran langsung pidato Khalifah dipancarkan secara langsung oleh televisi ataupun radio Departemen Penerangan dari ibukota negara Khilafah yang akan disaksikan dan didengarkan via satelit oleh hampir 1,5 milyar umat Islam di berbagai penjuru dunia. Dengan kecanggihan sains dan teknologi ini tidak ada kendala untuk menyampaikan pesan penting ini dengan cepat dan akurat di seluruh dunia. Pidato Khalifah ini sekaligus merupakan keputusan politik yang akan mengakhiri perbedaan di kalangan umat Islam, sebagaimana kaidah ushul yang menyatakan: Amru al-Imam yarfa’ al-khilaf (Perintah Imam/Khalifah bisa menghilangkan perbedaan). Seluruh rakyat pun satu kata, taat dan patuh pada instruksi sang Khalifah, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Jadi, apa yang dibutuhkan umat ke depan?

Fakta ini menyadarkan kita, bahwa umat Islam membutuhkan Khilafah. Khilafah adalah institusi tunggal bagi kaum Muslim di seluruh dunia, yang dipimpin oleh seorang khalifah. Khilafahlah satu-satunya institusi yang mempunyai otoritas untuk menyatukan kata umat Islam. Dengan Khilafah, umat Islam di seluruh akan mempunyai satu suara, termasuk dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Sebaliknya, tanpa adanya Khilafah, umat Islam saat ini tetap centang-perenang; tidak bisa satu kata dalam menentukan keputusan mereka.

Mengapa harus Khilafah? Karena sudah terbukti bahwa persatuan apapun yang dibentuk oleh umat Islam, termasuk para penguasa mereka, nyatanya tidak bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan yang hakiki. Justru, organisasi-organisasi “persatuan” bentukan mereka ini—seperti OKI, Rabithah al-’Alam al-Islami, atau yang lain—malah meninabobokkan umat Islam dari kewajiban utama mereka, bersatu sebagai satu umat di bawah naungan Khilafah.

Tegasnya, apa yang harus kita lakukan ke depan?

Tidak diragukan lagi, bahwa yang harus dilakukan oleh umat Islam ke depan adalah berjuang sungguh-sungguh untuk sesegera mungkin mengakhiri permasalahan ini, dengan cara menegakkan Khilafah bersama para pejuang yang ikhlas. Hanya itu satu-satunya agenda yang akan bisa menyelamatkan mereka dari perpecahan, dan perbedaan permanen yang tidak pernah berujung ini. []

Kamis, 25 Agustus 2011

Renungan Di Akhir Ramadhan


Ramadhan, ternyata masih banyak menyisakan umat Islam yang tak paham Islam kecuali kulit.
Masih banyak meninggalkan umat Islam yang ragu, takut bahkan benci bicara syari'at kaffah. Masih banyak meninggalkan umat yang antipati terhadap perjuangan penegakkannya sekalipun atas perjuangan tanpa kekerasan. Adakah ini hakekat taqwa yang ingin diraih dari ibadah sepanjang ramadhan?

Ramadhan seharusnya melahirkan taqwa individu dan umat. Adapun taqwa hakekatnya adalah mentaati aturan Allah yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia bukan hanya aspek ibadah saja. Dengan demikian individu dan umat yang taqwa akan menafikan sistem kehidupan sekularisme yang hari ini menjadi habitat hidup umat Islam. Individu dan umat yang taqwa justru akan terdorong untuk bejuang mewujudkan sistem Islam. Sudahkah Ramadhan kali ini berbuah ketaqwaan?

Selasa, 23 Agustus 2011

KEMBALINYA KHILAFAH BUKAN MIMPI DI SIANG BOLONG


(Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Bagi beberapa kalangan, gagasan bahwa seluruh umat Islam di dunia dapat bersatu dalam satu Negara Islam di bawah bendera Khilafah merupakan omong kosong. Baru-baru ini, beberapa ahli mengemukakan pendapat yang menentang gagasan kemungkinan bersatunya umat Islam di Abad ke-21. Mereka menukil contoh-contoh masa kini tentang ketidakpaduan dan pengelompokan Dunia Islam sebagai bukti-bukti yang mendukung gagasan mereka.

Antropolog Madawi ar-Rasheed yang bermukim di London mengatakan, “Saya kira seisi Jazirah Arab telah terjerumus ke dalam kekerasan sektarian, karena itu menurut saya, tidak mungkin Khilafah dapat terwujud…Kini, pada Abad ke-21 ini, gagasan tersebut hanya impian di siang bolong dari para aktivis Muslim.”

Seorang analis Saudi, Faris bin Houzam mengatakan, “Impian besar mereka ialah untuk mendirikan satu Negara Islam, namun tidak ada satu bukti pun yang dapat menunjukkan bahwa hal tersebut akan terwujud.”

Mubashar Akbar, seorang jurnalis dan penulis asal India, dalam salah satu tulisannya yang dimuat Newsweek mengatakan, “Saya mendengar dari para pengamat bahwa umat Islam hendak menegakkan kembali Khilafah. Gagasan tersebut sungguh konyol.”

Beberapa alasan dalam pendapat yang menentang berdirinya Negara Khilafah dapat kita rangkum sebagai berikut:

Umat Islam sedunia sangat beragam.

Paham Nasionalisme telah berakar kuat.

Perbedaan antara Sunni dan Syi’ah yang terlalu mencolok dan tak mungkin disatukan.

Umat Islam lebih suka hidup di bawah negara-bangsa (nation-state) yang terpisah-pisah.

Amerika tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

1. Umat Islam Sedunia Sangat Beragam

Bahwa Dunia Islam terdiri atas beragam bahasa, makanan, pakaian, dan tradisi-tradisi yang berbeda-beda, ini merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Namun keragaman ini menjadi tidak bermakna apabila kita berbicara tentang ‘Sistem Politik’ yang mengatur negara. Sistem politik tidak memaksa orang untuk memakan makanan yang sama atau berwarna kulit sama. Sistem politik mengurusi masalah aturan ekonomi, politik, dan sosial dalam urusan kemasyarakatan. Dunia Islam saat ini pada umumnya menjalankan sistem politik yang berasal dari Barat, seperti merujuk Konstitusi Perancis, Konstitusi Inggris, Konstitusi Belanda, yang menjadi landasan bagi kebanyakan negeri Muslim setelah kemerdekaan palsu mereka pada Abad ke-20.

Mari kita ambil Irak sebagai contoh. Etnis Kurdi disana menginginkan sebuah Negara Kurdi Merdeka. Namun ternyata masalah di Irak, sebagaimana di Dunia Islam lainnya, bukan berkisar pada masalah etnisitas semata, namun pada sistem pemerintahan yang dijalankan. Saddam Hussein tidak hanya menekan bangsa Kurdi, namun ia secara brutal juga menyiksa dan membunuhi ribuan rakyatnya sendiri, baik yang beretnis Kurdi, Arab, Sunni, ataupun Syi’ah. Bahkan ia tega mengeksekusi dua orang menantunya sendiri!

Budaya dasar bangsa Kurdi adalah Islam. Mereka berbagi budaya Islam yang sama dengan yang dimiliki umat Islam lainnya, baik di Turki, Irak, ataupun di Dunia Islam lainnya. Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang etnis Kurdi yang terkenal dalam sejarah. Ia tidak hanya dicintai bangsa Kurdi, namun juga oleh seluruh Dunia Islam dari berbagai etnis karena jasa besarnya membebaskan Masjid al-Aqsha di al-Quds, kota suci ketiga dalam ajaran Islam.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya orang beriman saling mencintai dan berlaku baik antar sesamanya, perumpamaannya ialah bagaikan satu tubuh, sehingga bila salah satu anggota tubuh disakiti, seluruh tubuh (lainnya) akan ikut merasakan sakit karenanya.” [Bukhari]

Selain itu, adakah aturan dalam syariat yang tidak mungkin diterapkan pada seseorang karena etnisnya? Perhatikan, bagaimana umat Islam di seluruh dunia -yang terdiri atas beragam warna kulit, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku- sama-sama bias menjalankan shalat lima kali sehari, berpuasa di bulan Ramadhan, memberikan shadaqah, dan melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Mereka semua bisa menikah, mendidik anak-anak, berperang untuk mempertahankan tanah-tanahnya dari pendudukan, membayar pajak, mendirikan perusahaan, dan menghukum pelaku tindak pidana. Tidakkah fenomena itu menunjukkan bukti yang amat jelas tentang persatuan Islam, dan kesanggupan Islam untuk menyatukan seluruh pengikutnya?

2. Paham Nasionalisme Terlalu Berakar Kuat

“Coba saja tawarkan seorang Khalifah Pakistan pada orang Bangladesh,” ujar Mubashar Akbar.

Sesungguhnya, seorang Khalifah bukanlah Khalifah Pakistan, atau Khalifah Bangladesh, atau Khalifah Arab. Khalifah ialah seorang Muslim yang menjadi pemimpin Negara Islam. Salah satu kelemahan nasionalisme adalah hanya dapat menyatukan rakyat dari satu bangsa tertentu, dan hanya bersifat temporer, (yaitu bisa menyatukan sebuah bangsa hanya) pada saat mereka menghadapi aggressor atau adanya ancaman bersama. Rakyat suatu bangsa tidak akan mengikuti pemimpin bangsa lain sepanjang mereka memandang negeri asal sang pemimpin. Namun, Khalifah adalah pemimpin yang mewakili kepentingan Islam secara keseluruhan, bukan merepresentasikan kepentingan kelompok etnis, suku, klan, atau bangsa, dan karena itu tidak terikat atau terbiaskan pada suatu suku, keluarga, atau bangsa tertentu. Maka dari itu, Khalifah akan mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia berdasarkan Akidah Islam.

Rasulullah saw bersabda:

“Dengarkan dan patuhilah pemimpin, sekalipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang kepalanya seperti kismis.” [Bukhari]

Sebagai contoh, baik orang Bangladesh maupun orang Pakistan sama-sama Muslim. Saat terjadi bencana gempa bumi di Pakistan, umat Islam di Bangladesh dan dunia mengirimkan jutaan dolar untuk membantu korban gempa. Mayoritas umat Islam tidak memandang batas buatan yang dibangun oleh penjajah Barat dan dijaga oleh para penguasa korup berdasarkan bendera (atau lambang) bangsa, hari kemerdekaan, dan garis perbatasan palsu. Pada kenyataannya, para pemimpin itulah yang telah menebar kebencian di antara sesama umat Islam. Umat Islam adalah satu kesatuan yang berbagi kebudayaan Islam yang sama. Konsep umat Islam sangat mendalam. Ini juga merupakan masalah besar bagi kekuatan Barat dalam menerapkan kebijakan luar negeri kolonialis karena dukungan terhadap perlawanan atas pendudukan yang mereka lakukan tidak hanya datang dari populasi yang sama, namun dari seluruh Muslim di segala penjuru dunia.

Nasionalisme adalah sebuah konsep kuno yang merasuki Dunia Islam saat terjadinya kemunduran intelektual pada abad ke-19. Di masa sekarang ini, globalisasi memungkinkan meningkatnya volume perjalanan dan komunikasi modern sehingga pesan Islam dapat sampai dengan cepat ke seluruh dunia. Umat mendekati patriotisme, nasionalisme, dan rasisme, akibat kecelakaan sejarah semata.

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang menyeru kepada ashabiyah (nasionalisme/tribalisme) atau yang berperang deminya, atau mati karenanya, maka ia tidak termasuk golongan kami.” [Abu Dawud]

3. Perbedaan Sektarian

Banyak anggapan bahwa kawasan Syi’ah di Dunia Islam yang terdiri atas Libanon, Suriah, Irak, dan Iran, bersatu untuk memerangi negara lain yang Sunni di kawasan tersebut. Perang saudara yang terjadi di Irak juga digambarkan sebagai konflik antara Sunni dan Syi’ah.

Perpecahan antara Sunni dan Syi’ah telah dibesar-besarkan oleh mereka yang berkuasa di Dunia Islam maupun mereka yang berada di luar Dunia Islam, yang mencoba mengail keuntungan dari situasi tersebut. Pada kenyataannya, tidak pernah ada masalah antara Sunni dan Syi’ah sejak sebelum invasi Amerika Serikat dan koalisinya ke Irak tahun 2003. Kini, sebagai hasil dari pendudukan, terlepas dari asal golongan yang Sunni maupun Syi’ah, beberapa orang saling serang antar sesamanya. Penyebabnya jelas bukan akibat perbedaan antara Sunni dan Syi’ah, namun karena pemerintahan Irak yang dibentuk atas dasar etnis dan sekte. Masing-masing kelompok memiliki milisi sendiri yang kini saling beperang demi kepentingan politik mereka sendiri, bukan demi kepentingan Sunni atau Syi’ah.

Fenomena menarik yang perlu dicermati, kemenangan Hizbullah di Libanon tidak dipandang sebagai kemenangan Syi’ah semata, namun sebagai kemenangan Islam, yang didukung baik oleh Sunni maupun Syi’ah di seluruh dunia. Manakala seorang pemimpin politik memainkan sentimen Sunni dan Syi’ah sebagai kartu truf, berarti ia melakukan itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Semua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Upaya memanas-manasi isu sektarian yang dilakukan oleh beberapa negeri Muslim seperti Saudi Arabia, hanyalah contoh dari ketamakan dan keengganan mereka untuk mengutamakan kepentingan Islam dan rakyat mereka sendiri. Karena itu, kita tidak usah kaget apabila mendengar bahwa Saudi akan mempersenjatai milisi Sunni di Irak untuk memerangi Syi’ah apabila Amerika meninggalkan Irak.

Diriwayatkan dari al-Ahnaf bin Qais:

“Saat aku beranjak hendak menolong orang ini (Ali bin Abu Thalib), Abu Bakar menemuiku dan berkata, “Kemana engkau hendak pergi?” Aku jawab, “Aku hendak menolong orang itu.” Ia berkata, “Kembalilah, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Apabila dua orang Muslim saling berkelahi dengan pedang mereka dan salah satunya terbunuh karenanya, maka tempat bagi keduanya adalah di dalam neraka.’ Lalu aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Aku paham akan hukuman untuk yang membunuh. Tapi bagaimana dengan yang terbunuh? (mengapa ia masuk neraka juga?) Rasulullah saw bersabda, ‘Karena ia pun memiliki nafsu untuk membunuh saudaranya’.”

4. Umat Islam Lebih Suka Hidup di bawah Negara-Bangsa yang Terpisah-pisah

Mubashar Akbar berkata, “Bangsa-bangsa Arab disatukan oleh bahasa, budaya, serta keyakinan yang sama, namun masih saja lebih suka untuk hidup di bawah 22 negara yang berbeda. Mereka tidak mau berbai’at kepada satu Khalifah Arab saja.”

Salah satu survey yang diadakan oleh The Centre for Strategic Studies dari University of Jordan menghapus seluruh klaim tak berdasar yang dibuat tuan Akbar tersebut. Menurut survey yang bertajuk Revisiting the Arab Street: “Tanyakan apakah syariat harus menjadi satu-satunya sumber hukum, salah satu sumber hukum, atau sama sekali menjadi sumber hukum”. Mayoritas umat Islam meyakini bahwa syariat harus menjadi satu-satunya sumber hukum. Dukungan akan hal ini terutama sangat kuat di Yordania, Palestina, dan Mesir, di mana hampir dua-pertiga responden Muslim menyatakan bahwa syariat harus menjadi satu-satunya sumber hukum, sedangkan sepertiga lainnya yakin bahwa syariat setidaknya harus menjadi salah satu sumber hukum.

Aspirasi dan perhatian perempuan Muslim, khususnya, tahun lalu diungkap dalam salah satu jajak pendapat yang dilaporkan dalam New York Times. Perhatian mereka ialah: kurangnya kesatuan antar bangsa-bangsa Muslim, ekstrimisme dengan kekerasan, serta korupsi politik dan ekonomi. Semua permasalahan tersebut hanya dapat dipecahkan oleh Negara Khilafah.

Bukan umat Islam yang menginginkan hidup di bawah 22 negara yang terpisah, namun justru berasal dari para pemimpin mereka yang korup. Para penguasa di Dunia Islam saat ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah dunia. Mereka juga adalah orang-orang terkaya di dunia –mendapat kekayaan dengan cara mencurinya dari umat yang mereka pimpin. Apa yang diinginkan umat Islam adalah mengganti mereka semua. Sayangnya, para penguasa tersebut memiliki teman-teman pada skala tinggi yang tinggal di London dan Washington, yang dengan dukungan merekalah para penguasa ini memerintah rakyatnya dengan tangan besi.

Terlepas dari kenyataan tersebut, para penguasa di Dunia Islam sesungguhnya hidup dalam ketakutan. Rakyat mereka mulai tidak takut lagi menghadapi penyiksaan dan penahanan brutal yang mereka lakukan, serta mulai berani bicara terbuka untuk melawan mereka. Berbagai demonstrasi marak terjadi di seluruh Dunia Islam. Mesir, yang secara tradisional merupakan negara yang paling represif di Timur Tengah, memiliki tokoh dari kalangan politisi, praktisi hukum, dan media yang beroposisi pada pemerintahan brutal Husni Mubarak.

Rasulullah saw bersabda:

“Jihad terbaik adalah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim.” [Abu Dawud dan Tirmidzi]

5. Amerika Tidak Akan Membiarkan Hal Ini Terjadi

Dalam pidatonya tentang Perang Global Melawan Teror, Presiden AS George W. Bush berkata: “Mereka ingin mendirikan kekuatan politik utopia di seluruh kawasan Timur Tengah yang mereka namakan “Khilafah” –di mana semua diperintah berdasarkan ideologi mereka yang penuh kebencian…saya tidak akan membiarkan ini terjadi – dan juga tidak ada satu Presiden AS pun di masa mendatang yang akan membiarkan hal ini.”

Pernyataan arogan macam ini sama sekali tidak sejalan dengan kenyataan yang terjadi di Dunia Islam. Perang Irak telah menyedot kekuatan perang AS secara besar-besaran. Terlepas dari klaim pasca invasi bahwa hantu Vietnam telah berlalu, Irak sekarang ini telah menjelma menjadi Vietnam kedua bagi AS. Sekitar 100 serdadu AS mati sia-sia tiap bulannya, dan Amerika juga menghadapi perlawanan keras dari seisi penjuru negeri yang menginginkan mereka pergi. Pendudukan di Afghanistan juga tidak berlangsung lebih baik karena ketidakmampuan Amerika untuk mengamankan wilayah yang telah mereka duduki.

Para politisi AS yang lebih memahami situasi daripada Bush dapat melihat jelas betapa terbatasnya kekuatan AS. Pat Buchanan, salah seorang pendiri majalah The American Conservative dan penasehat bagi tiga Presiden AS sebelumnya, Nixon, Ford dan Reagan, berkata, “Apabila aturan Islam adalah gagasan yang disetujui oleh seluruh kekuatan Islam, bagaimana mungkin pasukan terbaik di dunia dapat menghentikannya?”

Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam percaya kalau kemenangan (an-nashr) datang dari Allah Swt bukan melalui sejumlah angka atau sumberdaya materi. Bahkan sejumlah kecil umat Islam dapat mengatasi kekuatan superpower yang besar bila mereka berpegang teguh pada tali Allah dan berserah diri kepada-Nya. Kekalahan memalukan Israel dari sekelompok milisi bersenjata Libanon tahun lalu adalah contoh jelas dalam hal ini.

Rasulullah saw bersabda:

“Akan tiba suatu masa di mana umat ini dipermainkan oleh umat-umat lain, seperti makanan di atas meja”. Seseorang lalu bertanya, “Apakah jumlah kami saat itu sangat kecil?” Ia (Rasulullah) menjawab, “Tidak, jumlah kalian sangat banyak saat itu. Namun kalian akan tercerai-berai dan terbagi-bagi bagai makanan diperebutkan di atas meja, dan Allah telah mengambil ketakutan pada kalian dari hati musuh-musuh kalian dan menempatkan wahn di hati kalian.” Seseorang lalu bertanya, “Apa itu wahn?” Rasulullah saw menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” [Abu Dawud]

Sekitar 60 tahun yang lalu, bangsa-bangsa Eropa masih terlibat dalam perang brutal antar sesama mereka. Kini mereka bersatu di bawah bendera Uni Eropa dengan satu mata uang yang sama –sesuatu yang tak terbayangkan beberapa dekade lalu. Bila Uni Eropa dengan nasionalismenya yang kuat, serta perbedaan bahasa, dan tradisi yang berbeda dapat bersatu, mengapa Dunia Islam tidak?

Apakah kemungkinan digantinya para diktator di Dunia Islam oleh Negara Khilafah hanya merupakan fantasi bila ini merepresentasikan harapan dari seluruh umat Islam? Tidak ada pemimpin Muslim di dunia ini yang dipilih oleh rakyat mereka yang dapat memenangkan pemilu secara telak. Mereka umumnya berkuasa melalui sebuah kudeta, seperti yang dilakukan Jenderal Musharraf di Pakistan. Tak peduli betapapun kuatnya pemerintah saat ini mencoba menekan gerakan politik dan kebudayaan Islam, mereka tidak akan pernah mampu memadamkan gagasan ini. Gagasan syariat dan pemerintahan Islam kini semakin mengakar di tengah umat Islam, baik rakyat biasa maupun kalangan berpengaruh. Gagasan ini semakin merasuk di tengah kalangan Angkatan Bersenjata, dan tinggal masalah waktu untuk menanti salah seorang atau beberapa perwira senior di Dunia Islam merasa cukup dengan situasi saat ini dan melakukan tindakan yang benar –dengan menyingkirkan rezim-rezim saat ini, dan menggantinya dengan seorang Khalifah Rasyid yang akan menerapkan Qur’an dan Sunnah dengan benar.

Kalangan berpengaruh dan mereka yang ada dalam Angkatan Bersenjata di Dunia Islam harus memahami bahwa bila mereka memfasilitasi tegaknya kembali pemerintahan Islam melalui penegakan kembali lembaga Khalifah, maka mereka akan segera memperoleh dukungan dari mayoritas umat Islam, yang kemudian akan membantu mereka dengan berbagai cara.

Rasulullah saw bersabda:

“Masa kenabian akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Kemudian akan ada (masa) Khilafah Rasyid (yang mendapat petunjuk) yang berjalan selaras dengan kenabian. Khilafah itu akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada (masanya) banyak pemimpin, dan itu akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada (masa) pemerintahan tirani, dan akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Kemudian, akan muncullah (masa) Khilafah Rasyid (kembali) yang berjalan selaras dengan kenabian.” Kemudian beliau (Rasulullah) terdiam.” (Musnad Imam Ahmad (v/273)).
Add This!