INSPIRING QUR'AN :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (TQS. Ali-Imran : 133)

Jumat, 14 Januari 2011

UMMAHAT : Khadijah binti Khuwailid ra., sosok wanita sempurna


Beliau adalah salah satu istri Rasulullah saw dan termasuk ke dalam orang-orang yang pertama masuk ke dalam Islam,; Wanita pertama yang membenarkan dan memeluk risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw untuk seluruh umat manusia. Hidupnya dihiasi dengan kebajikan serta jiwanya mencerminkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw pernah bersabda tentang istri yang sangat dicintainya ini : “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Ia membenarkan ajaranku ketika orang-orang mendustakan. Dan ia adalah perempuan yang selalu membantu perjuanganku dengan harta kekayaan ketika orang-orang tiada mempedulikan." (HR Ahmad)

Khadijah lahir dari keluarga Bani Hasyim dari kalangan keluarga yang mulia, jujur dan pemimpin. Besar dikalangan keluarga mulia, terdidik dengan akhlak yang terpuji, teguh dan cerdik. Kaumnya memberikan julukan baginya Al-Thahirah yang berarti ‘Yang Suci’ karena sangat baik akhlaknya dan sopan santunnya, seakan-akan tanpa cacat.

Beliau juga dikenal sebagai perempuan cerdas dan piawai dalam bidang perdagangan, sukses dalam menjalankan roda-roda usahanya dan sanggup membiayai hampir seluruh dakwah Rasulullah saw. Sekalipun demikian beliau tetap rendah hati, berakhlak mulia dan menjaga kesuciannya. Beliau juga tetap menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, serta tetap menghormati dan mentaati Rasulullah saw sebagai suaminya meski usianya lebih tua 15 tahun dari Rasulullah. Dari ibu yang mulia inilah lahir anak perempuan yang mulia pula Fathimah Az-Zahra.

Sebagai istri tak ada satupun orang yang mencela Kahdijah, bahkan justru pujian yang datang untuknya. Khadijah mendampingi Rasulullah saw hampir seperempat abad lamanya. Hidupnya dilalui dengan penuh kesetiaan dan kebajikan. Dan sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya, beliaupun mendampingi Rasulullah dalam suka dan duka.

Ibnu Ishaq menyebutkan dalam Al-Siyar wal Maghazy ; Khadijah adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan apa yang beliau sampaikan, sehingga dengan begitu Allah meringankan beban dari Rasulullah saw. Rasulullah tidak pernah mendapat hal-hal yang tidak disukai dari ucapan-ucapan Khadijah, baik penolakan terhadap beliau atau pendustaan yang membuat Rasulullah bersedih hati, bahkan justru Allah memberikan jalan keluar melalui Khadijah, dimana jika Rasulullah kembali kepada Khadijah, maka ia akan menegaskan hati Rasulullah dan meringankan bebannya.

Khadijah tahu betul bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah, Nabiyullah, laki-laki pilihan yang diturunkan oleh Allah swt untuk seluruh umat manusia, sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira untuk seluruh umat. Khadijahlah orang yang senantiasa berperan dalam menenangkan ketakutan Rasulullah saw ketika wahyu turun kepada beliau. Ketika turun wahyu yang pertama, yaitu QS Al-Alaq 1-5, Rasulullah pulang dari tepatnya bertahanuts (menyendiri dan beribadah) di gua Hiro dalam keadaan terguncang gemetaran. Lalu Khadijah menyelimuti Rasulullah, hingga ketakutan beliau mereda. Beliau Saw bersabda kepada Khadijah , “Aku takut atas diriku.” Lalu Khadijah berkata : “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menelantarkan engkau, karena engkau suka menyambung hubungan kekerabatan, membawakan beban, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu dan menolong orang yang melakukan kebaikan”. Dalam kisah yang lain pun diungkapkan bagaimana Khadijah menenangkan Rasulullah saw ketika wahyu turun, yakni ketika Muhammad saw baru saja melihat Jibril, “Terimalah kabar gembira wahai anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang diriku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap engkau menjadi nabi Umat ini”

Dari kisah tentang Khadijah r.a di atas jelas sekali bahwa apa yang dilakukannya kepada Muhammad saw, bukanlah sekedar perannya sebagai seorang istri yang sangat berbakti kepada suaminya. Tapi lebih dari itu, Khadijah sesungguhnya telah menjalankan peran politiknya sebagai seorang muslimah, dimana dengan ketajaman dan kepekaan akalnya beliau mampu mencermati secara mendalam masalah wahyu dan risalah yang sampai kepada Rasulullah saw. Di samping itu kepeduliannya yang tinggi tentang berbagai hal yang ada di sekitarnya menunjukan tingkat kesadaran politik yang tinggi. Begitu pula, pendampingan Khadijah dan upaya yang dilakukan untuk menenangkan Rasulullah saw bukan sekedar dorongan sebagai istri atau ibu dari anak-anaknya, tetapi dorongan sebagai bagian dari umat Islam karena dengan kemampuan berfikir yang dimilikinya Khadijah tahu benar bahwa apa yang terjadi pada diri Muhammad saw bukan semata-mata karena keberadaannya sebagai suami atau ayah dari anak-anaknya, tetapi sebagai seorang utusan Allah dalam membawa wahyu dan risalah-Nya untuk ummat manusia yang ada pada masa itu hingga manusia di masa yang akan datang. Hal ini tidak lain sebagaimana apa yang dipahami dari perkataan Waraqah, anak pamannya, ketika Khadijah mencari tahu tentang peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah saw, yaitu : “Wahai Khadijah, kalau engkau masih percaya kepadaku, sesungguhnya telah datang ‘an-nams al-akbar’ kepadanya. Dia adalah nabi umat ini. Maka katakan kepadanya agar dia teguh hati.

Kisah lain yang akan lebih menguatkan bagaimana Khadijah sangat berperan dalam mendukung perjuangan Rasulullah saw dalam dakwah Islam adalah ketika Rasulullah saw bangkit menyampaikan risalah, tampil menyeru kaumnya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, maka mereka mendustakan beliau dan melecehkan dakwah beliau, sementara Khadijah justru sebaliknya menjadi pendukung beliau dalam menghadapi pelecehan tersebut. Dia berbuat apa yang dapat diperbuatnya untuk meringankan beban Muhammad saw, sampaipun akhirnya terjadi pemboikotan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah Saw dan para shahabat dan kerabatnya.

Dalam peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy membuat perjanjian tertulis yang isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib secara total. Mereka tidak memiliki dan menerima tawaran nikah dari kaum muslimin, tidak menjual dan membeli apapun kepada dan dari kaum muslimin, dengan tujuan agar kaum muslimin menaruh ketidak percayaan kepada Rasulullah saw, yang akhirnya kaum muslimin meninggalkan Rasulullah saw dan meninggalkan Islam. Jika ini terjadi, Muhammad akan terkucil sendirian dalam kondisi seperti itu, dan mereka berharap Muhammad akan mencampakkan dakwahnya .Tetapi apa yang akhirnya terjadi ?

Pemboikotan itu tidak memberi pengaruh sedikitpun bagi para shahabat maupun Rasulullah dan para pengikutnya, sebaliknya semakin mempekokoh keimanan mereka, kekuatan dan keteguhan orang-orang mukmin yang menyertainya tidak surut. Termasuk ummul mukminin, Khadijah binti Khuwailid ia senantiasa berada di samping Muhammad saw, memberikan pembelaan terhadap beliau, bergabung bersama Rasulullah dalam memikul penderitaan karena sikap kaumnya dengan jiwa yang ridha dan sabar, hingga akhirnya setelah + 3 tahun pemboikotan tersebut dicabut oleh orang Kafir Quraisy sendiri.

Tidak berapa lama setelah berakhirnya pemboikotan, dalam usia 65 tahun Khadijah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tentu saja Rasulullah Saw merasa kehilangan atas meninggalnya Khadijah, seorang istri yang dengan setia mendampinginya dalam suka dan duka, seorang ibu yang dengan pemahaman yang tinggi mampu menghasilkan generasi yang berkualitas prima, seperti Fatimah Az-Zahra dan sebagainya, serta seorang muslimah yang dengan pengorbanan yang luar biasa mendukung terhadap perjuangan dakwah Rasulullah saw, bahkan berperan aktif dalam perjuangan menyebarkan dakwah Islam ke tengah-tengah umat manusia.

(Sumber : Buku Revisi Politik Perempuan)

Selasa, 11 Januari 2011

MAKIN BANYAK WANITA INGGERIS MENJADI MUSLIM


Sumber : antaranews.com, Senin 10 Januari 2011)

London (ANTARA) - Lebih dari 100.000 wanita Inggris kulit putih yang berusia rata-rata 27 tahun memilih menjadi Muslim, angka tersebut dua kali lipat dalam 10 tahun dengan rata-rata usia 27 tahun karena mereka muak dengan konsumerisme dan imoralitas.

Koran terkemuka Inggris Daily dalam laporannya minggu ini yang ditulis Jack Doyle menyebutkan terjadi gelombang pada wanita kulit putih muda mengadopsi agama Islam, tahun lalu tercatat sekitar 5.200 orang di Inggris memilih Islam diantaranya adik ipar mantan PM Inggris Tony Blair.

Tahun lalu Lauren Booth, saudara ipar mantan Perdana Menteri Tony Blair, menarik perhatian luas ketika ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.

Pengamat masalah Islam di Inggris, Hakimul Ikhwan, S.Sos., MA kepada koresponden Antara London, Senin menyebutkan fenomena bertambahnya jumlah Muslim di Inggris, terutama White British ke Islam tidak bisa dilepaskan dari tingginya intensitas dan masifnya publikasi mengenai Islam.

Menurut dosen di Universitas Gajah Mada yang sedang mengambil Phd di Essex University, mengatakan jumlah masyarakat Muslim sejak beberapa dekade terakhir dan semakin meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.

Hakimul Ikhwan mengatakan menarik untuk melihat alasan sebagian wanita yang convert adalah karena Islam "membebaskan" mereka dari konsumerisme dan immoralitas dengan penggunaan burqah, jilbab, kerudung dan busana muslimah sejenisnya.

Lagi-lagi berbasis spirit demokrasi dan individualitas, wanita berbusana muslimah banyak ditemui di berbagai kota di Inggris. Para immigran bisa dengan bebas berbusana muslimah.

Kondisi ini menyajikan "cermin" bagi wanita Inggris menjawab problem konsumerisme dan kebiasaan pesta di kalangan muda Inggris, ujar sarjana sosiologi UGM Yogjakarta.

Justru diminati

Hakimul mengungkapkan muncul pertanyaan, mengapa Islam yang cenderung tampil dengan wajah negatif (radikal destruktif) justru diminati atau menarik "White British untuk Convert ke Islam" Fenomena ini bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Menurut Hakimul Ikhwan, yang sedang melakukan riset S3 nya Islamifikasi di Inggris dan Barat, pertama, prinsip-prinsip Barat yang menekankan pada kreativitas dan kebebasan berfikir individu memungkinkan individu-individu di Inggris untuk mempelajari (mengkaji) lebih dalam mengenai Islam.

Informasi yang sangat luas mengenai Islam bisa didapat melalui internet, ujar dosen sosialogi UGM, menambahkan selain itu, diskursus mengenai Islam dan masyarakat Muslim menjadi topik kajian dan penelitian yang semakin diminati di perguruan tinggi.

Ketika Islam dikaji oleh individu dalam kerangka akademik/ intelektual, maka sesuai dengan prinsip-prinsip keilmuan (scientific Barat) harus mengakses beragam sumber pemikiran (school of thoughts) dan mazhab yang beragam (pros and cons).

Hal ini memungkinkan tampilnya kekayaan tafsir, hikmah (wisdom), dan humanity dalam Islam. Islam yang nonradikal, damai (peaceful), moderat dan pluralis semakin menarik perhatian masyarakat Barat, ujar salah satu pendiri MASIKA ICMI Yogyakarta, dan ketua Indonesian Moslem Association in Nottinghamshire-Leicestershire, UK .

Kecenderungan ketertarikan terhadap Islam yang antikekerasan dan moderat bisa dilihat misalnya dalam wacana dialog multiagama (multi-faiths dialog) serta upaya untuk "mengarusutamakan" (mainstreaming) Islam yang non-Timur Tengah.

Dikatakannya dalam konteks inilah, Indonesia menjadi primadona.

"Wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran dan sadar gender, misalnya menjadi "topik" utama yang diangkat oleh mantan PM Tony Blair dan Presiden AS Barrack Obama dalam kunjungan mereka ke Indonesia," ujar Hakimul Ikhwan, yang meraih Master di bidang Politics dan Social Policy di University of Nottingham, Inggeris.

Sebagai bagian dari masyarakat Muslim Indonesia, memiliki kesempatan besar yang luar biasa untuk menjadikan ekspresi Islam Indonesia sebagai "mainstream" atau alternatif dari ekspresi Islam Timur Tengah yaitu Islam adalah satu dalam kaitannya dengan Al-Qur`an, tetapi ekspresinya berbeda-beda di Timur Tengah, India Pakistan dan Indonesia.

Selain faktor publisitas dan discourse Islam yang menguat di tingkat global, faktor lain yang juga sangat menentukan meningkatnya conversion ke Islam di kalangan White British adalah meningkatnya jumlah para imigran Muslim di Inggris seperti dari Pakistan, Turki, Bangladesh, Timur Tengah, dan Asia seperti Indonesia dan Malaysia.

Banyaknya imigran muslim tersebut membuat simbol-simbol Islam tersebar luas dan dapat ditemui di berbagai penjuru kota. Misalnya, Butcher Halal atau halal meat, pizza halal, dan lain sebagainya seperti banyaknya wanita di jalan yang mengenakan jilbab.

Istilah "halal" telah menjadi "ikon" publisitas yang sangat efektif tentang Islam. Penjualan daging halal di supermarket seperti Tesco, Asda, dan Sainsburry, misalnya, membuat Menteri Pertanian Inggris harus menjelaskan kepada publik tentang pengertian daging halal atau halal meat.

Dalam perkembangannya, halal meat tidak semata soal Islam, tetapi juga soal makanan yang sehat Healthy meat/food, demikian Hakim.

Sabtu, 08 Januari 2011

PERLAKUAN NEGARA KHILAFAH TERHADAP PEREMPUAN


(Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Mispersepi Barat terhadap Nasib Perempuan dalam Negara Khilafah

Hingga saat ini masih sering dijumpai adanya kebingungan di kalangan masyarakat Barat mengenai pembagian peran antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam kehidupan. Pada masa lalu, kaum perempuan mempunyai kedudukan yang lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki, dan bahkan pernah disejajarkan dengan hewan atau dipandang sebagai “makhluk yang tidak memiliki ruh”, atau dianggap hanya sebagai hak milik kaum laki-laki. Sementara pada masa sekarang ini, berbagai pergerakan dan organisasi perempuan berjuang melawan status quo untuk mendapatkan status dan hak-hak yang sama sebagaimana kaum laki-laki.

Sabtu, 01 Januari 2011

MUTIARA UMAT : Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah ra.


Sosok Muslimah Cerdas dan Tangguh

Asma’ masuk Islam bersama para perempuan yang lebih dahulu masuk Islam dari kalangan Anshor melalui tangan Mush’ab bin Umair. Dia seorang wanita suci yang ideal dalam iman, ilmu dan kesabaran, serta memiliki keutamaan yang banyak. Ditambah lagi ia termasuk perempuan yang meriwayatkan hadits Rasulullah saw. Dia termasuk perempuan yang berbaiat dan mujahidah yang hidup pada permulaan Islam di Madinah. Kelebihan lain yang dimilikinya adalah bahwasanya Asma’ binti Yazid merupakan seorang orator, singa podium dari kalangan perempuan mukmin. Karenanya bukan suatu hal yang aneh jika ia dipercaya menjadi delegasi atau wakil kaum perempuan dalam menyampaikan permasalahan yang berhubungan dengan perempuan pada Rasulullah saw dalam majelis syuro.

Asma’ pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang mengundang decak kagum orang-orang yang mendengarnya. Sebuah pertanyaan yang dilandasi keimanan dan kerakusan untuk berbuat kebaikan semata demi keridhaan Allah, bukan karena dikuasai paham feministik yang memelihara rasa iri kepada laki-laki semata karena prestise yang materialistis. Kita simak kisahnya:

“Ya Rasulullah, aku mewakili kaumku untuk menanyakan kepada engkau. Bukankah Allah mengutus engkau untuk seluruh umat, baik laki-laki maupun perempuan. Kami beriman kepadamu dan Tuhanmu. Namun kami merasa diperlakukan tidak sama dengan kaum laki-laki. Kami adalah golongan yang serba terbatas dan terkurung. Kerja kami hanya menunggu rumah kalian (laki-laki), memelihara dan mengandung anak kalian dan tempat pemuas nafsu laki-laki (suami). Kami tidak pernah diberi kesempatan untuk melakukan seperti yang dilakukan kaum laki-laki. Kami tidak berkesempatan untuk mendapatkan pahala shalat Jum’at (karena memang tidak wajib), menengok orang sakit, mengantar dan merawat jenazah, berhaji (kecuali disertai mahrom), dan amalan yang paling utama jihad fî sabîlillâh. Ketika kalian pergi haji dan berjihad, kami bertugas menjaga harta dan anak kalian, menjahit pakaian kalian. Apakah mungkin dengan itu kami memperoleh pahala seperti amalan yang kalian lakukan ?” Mendengar pertanyaan demikian, Rasulullah saw kaget dan bangga seraya berkata kepada para shahabat yang lain, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan yang lebih baik dalam soal agama selain dari perempuan ini?” Para shahabat menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak menyangka dan berpikir bahwa perempuan itu akan bertanya sedemikian jauh. “ Maka Rasulullah bersabda, “Wahai Asma’ kau pahamilah dan nanti sampaikanlah kepada kaummu. Kebaktian kalian pada suami dan usaha mencai keridhoannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami-suami kalian.”

Jawaban yang singkat namun padat dan bermakna tinggi. Jawaban yang memberikan ketenangan bagi kaum perempuan beriman, karena kekhawatiran mereka salah dalam melangkah atau lalai dalam menjalankan aturan Allah serta karena sangat lobanya mereka untuk mendapatkan pahala dari Allah swt. Asma’ pun dengan gembira segera pulang dan menyampaikan berita gembira tersebut pada kaum perempuan. Dan mereka menerima dengan senang hati, sami’na wa atha’na.

Asma’ adalah orang yang sangat haus akan ilmu. Ia senantiasa bertanya kepada Rasulullah tentang berbagai hal hingga kepada rinciannya, sehingga ia mendapatkan kejelasan tentang apapun yang ditanyakan dan tidak ada lagi masalah yang dianggapnya rumit dan tersamar.

Di antara keluhuran perangainya, Asma’ binti Yazid adalah dalam hal hafalan dan pemahamannya tentang hadist nabi. Ia meriwayatkan hadist sebanyak delapan puluh satu hadist . Ini menunjukkan bahwa Asma’ sangat memperhatikan ilmu dan iapun sangat rajin mengunjungi Rasulullah saw dan ummul mukminin untuk bertanya tentang Islam.

Keluarga Asma’ adalah keluarga mujahid. Ayahnya Yazid bin As-Sakan Al-Anshary dan pamannya Ziyad bin Sakan Al-Anshary, adalah dua pahlawan penunggang kuda yang menjual dirinya bagi Allah, hingga mereka mati syahid dalam perang Uhud. Dalam perang Khandaq, Asma’ binti Yazid mengirimkan makanan untuk nabi Muhammad dan para shahabat, demikian pula dalam perang Khaibar dan perang Yarmuk, ia memberi makan dan minum para prajurit yang kehausan dan mengobati orang-orang yang terluka. Di samping itu, Asma’ bersama-sama dengan kaum perempuan bersiaga di garis belakang sambil terus menyemangati para prajurit Muslimin, sehingga jikapun ada prajurit yang mundur ke garis belakang, kaum perempuan mengacung-acungkan kayu, sehingga prajurit Muslim yang berniat mundur kembali maju dan memberikan perlawanannya kepada tentara Romawi. Mereka pun terus bertempur hingga Allah memberikan kemenangan dan mampu mengalahkan pasukan Romawi. Adapun di antara pahlawan perempuan tercatat di antaranya Asma binti Yazid ra. Dia terjun dalam kancah pertempuran dan berhasil membunuh sembilan orang pasukan Romawi dengan menggunakan tiang penyangga kemahnya.

(Sumber : Buku Revisi Politik Perempuan)

Kamis, 23 Desember 2010

Momentum Hari Ibu, 22 Desember 2010 "IBU INDONESIA TOLAK KAPITALISME, PERJUANGKAN SYARIAH & KHILAFAH"


Muslimah HTI Pertanyakan Kesetaraan Gender
Rabu, 22 Desember 2010 | 11:45 WIB


HTI melakukan aksi damai dalam peringatan Hari Ibu di Gedung Sate, Bandung, Jabar (22/12). (TEMPO/Prima Mulia/http://www. tempointeraktif.com)

TEMPO Interaktif, Bandung - Ratusan anggota Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Jawa Barat mempertanyakan kesetaraan gender dalam aksi memperingati Hari Ibu di depan Gedung Sate, Bandung Rabu (22/12). Ketua Muslimah HTI Jawa Barat Siti Nafidah menuding kebijakan tentang kesetaraan gender justru menyebabkan kaum ibu mengabaikan perannya sebagai pendidik generasi.

Sejumlah fakta menurut Siti telah menunjukkan hal itu. Di antaranya, data yang dirilis BKKBN menyebutkan separuh dari remaja perempuan usia 13-15 tahun mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks pra nikah, serta data yang menunjukkan 30 persen pelaku aborsi di Indonesia merupakan remaja. "Ini buat kita sebuah pertanyaan, di mana peran ibu," kata Siti.

Dia menuding, kondisi ini disebabkan sistem yang ada. Siti mengajak, di Hari Ibu ini, untuk mengingatkan lagi peran ibu sebagai pemelihara peradaban. "Yang kita butuhkan, bagaimana mengoptimalkan peran ibu, ini menyangkut kondisi masa depan bangsa," kata Siti.

Aksi ratusan perempuan itu "menggantikan" perayaan Hari Ibu yang tengah berlangsung di depan Gedung Sate Bandung. Unjuk rasa itu berlangsung di penghujung acara peringatan Hari Ibu yang di gelar pemerintah Jawa Barat yang tengah menggelar pertunjukan tari-tarian.

Ratusan perempuan itu memadati pintu masuk di depan pintu gerbang Gedung Sate. Masing-masing membawa poster kertas, di antaranya ditulisi: "Jangan Jual Ibuku Demi Devisa Negara", dan "Sibuk Berkarir=Tuntutan Kapitalisme". Di antaranya, ada yang menggelar aksi teatrikal, para ibu yang mengusung replika glondongan kayu di atas kepalanya.

AHMAD FIKRI


-------------

Rabu, 22/12/2010 12:19 WIB
Demo HTI di Hari Ibu
Single Parent Tarik Gulungan Tikar Berlabel Kapitalisme
Vita Principalia - detikBandung

Bandung - Momentum Peringatan Hari Ibu dimanfaatkan oleh 500-an muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Jabar berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Rabu (22/12/2010). Mereka prihatin dengan bergesernya peran ibu sebagai pencetak generasi muda gara-gara kapitalisme.

Hal itu mereka perlihatkan dengan menggelar teaterikal. Beberapa orang perempuan terlihat membawa gulungan tikat yang dibalut kertas bertuliskan 'kapitalisme'. Beberapa perempuan itu berkalung kertas, yang antara lain bertuliskan 'single parent', 'ibu menyusui', 'lanjut usia'.

Di belakang mereka tampak seorang perempuan berkalung 'kapitalisme' sambil memegang pecut. Ini digambarkan bahwa perempuan Indonesia saat ini tengah diperbudak kapitalisme.

"Sengaja kami gunakan momen hari ibu untuk menolak kapitalisme," ujar Ketua Muslimah DPD I HTI Jabar Siti Nafidah di sela-sela aksi. Menurutnya peran ibu harus dioptimalkan untuk menggagalkan kapitalisme.

Aksi berakhir pukul 12.00 WIB. Sebagian massa masih memegang poster bertuliskan 'wanita miskin, wanita sengsara = korban kapitalisme'
(ern/ern)

Jumat, 17 Desember 2010

“SAATNYA UMAT PEDULI IBU DAN GENERASI”


by Siti Nafidah Anshory

Peran ibu sejatinya merupakan peran yang sangat penting. Selain berperan secara biologis, ibu juga memiliki peran politis dan strategis. Sebagai madrasah pertama dan utama, di tangannyalah eksistensi dan kualitas generasi umat masa depan akan ditentukan.

Sayangnya pemahaman seperti ini kian hilang dari benak masyarakat. Serangan budaya dan pemikiran sekular-materialistik telah menjadikan peran ibu seolah tak berarti apa-apa. Sebagian ibu hanya tahu bagaimana melahirkan dan membiarkan anak besar dengan sendirinya, tanpa ruh dan apa adanya. Sementara sebagian lain, sibuk mengejar prestise atau karir sebagai simbol kebebasan dan kemandirian, seraya tak segan menanggalkan cita-cita dan kebanggaan menjadi ibu ideal bagi anak-anak mereka.

Penerapan sistem kapitalisme sekulerpun telah membuat peran ibu kian jauh dari optimal. Betapa tidak? Kebijakan ekonomi neolib yang inhern dengan sistem batil ini senyatanya telah berhasil menciptakan kemiskinan struktural dan gap sosial yang demikian lebar dan memaksa para ibu berperan lebih dari apa yang seharusnya mereka pikul. Selain harus berperan sebagai ibu dan pengelola rumahtangga, mereka pun terpaksa bekerja mencari nafkah yang tak cukup didapat para suami mereka.

Pada kondisi seperti ini, para pejuang gender malah sibuk memasang umpan mereka; menawarkan gagasan beracun bernama “keadilan dan kesetaraan gender” atau ‘pemberdayaan perempuan’ yang targetnya, melepas keterikatan kaum perempuan pada peran-peran domestik, termasuk peran sebagai ibu. Peran mulia ini mereka gambarkan sebagai peran yang ‘marginal, tak produktif dan diskriminatif’. Sehingga sebagian para ibu, seolah mendapat pembenaran atas abainya mereka akan tugas dan tanggungjawab mempersiapkan generasi masa depan.

Tak heran jika hari ini muncul generasi tanpa visi, yang dididik ibu pengganti bernama televisi dan lingkungan sekuler yang intens memapar budaya permissif, hedonis dan anarkis. Pelan tapi pasti, merekapun terinfeksi kanker peradaban yang sedikit demi sedikit membunuh masa depan mereka sehingga umatpun nyaris kehilangan pelanjutnya. Seks bebas, aborsi, narkoba, HIV/AIDS, pornografi-pornoaksi, tawuran, dan kriminalitas, menjadi hal biasa di kalangan remaja. Sementara di sisi lain, kemiskinan struktural yang tercipta di negeri kaya raya ini tak urung melemahkan fisik dan akal sebagian mereka akibat gizi buruk dan ancaman keterlantaran. Alih-alih beroleh kehidupan dan pendidikan yang layak,bahkan tak sedikit anak yang harus banting tulang menyelamatkan ekonomi keluarga mereka.

Sebenarnya kondisi ini tak akan terjadi jika para ibu menyadari peran utamanya sebagai pendidik generasi. Kondisi inipun tak seharusnya terjadi, jika umat peduli dan hidup dengan aturan Illahi yang berperspektif penyelamatan generasi. Persoalannya, hari ini kehidupan para ibu dan umat memang jauh dari ideal. Sistem pendidikan yang diterapkan, tak mampu membuat mereka cerdas untuk memahami perbedaan yang fana dan abadi, yang semu dan hakiki. Sistem ekonomi yang dijalankanpun tak mampu mewujudkan kesejahteraan yang menjamin optimalnya peran ibu. Bahkan sistem rusak ini, meniscayakan seluruh kekayaan yang dimiliki dirampok para kapitalis dalam dan luar negeri yang berkolaborasi dengan penguasa khianat di negeri ini.

Pertanyaannya, akankah kondisi buruk ini kita biarkan hingga eksistensi umat hancur berantakan? Sudah saatnya kita bangkit melakukan perubahan. Agar sebagaimana dahulu, umat ini bisa kembali tampil sebagai umat terbaik (khoyru ummah) dan kembali bangkit sebagai pionir peradaban. Caranya tidak lain dengan membina para ibu agar menyadari peran strategis-politis mereka dalam mencetak generasi unggul, yakni generasi yang bertakwa, cerdas dan berkarakter pemimpin, sesuai aturan-aturan Islam. Juga dengan membina umat agar mampu menjadi barier tangguh untuk menangkal serangan pemikiran dan budaya yang dilancarkan musuh-musuh Islam, yang hendak melanggengkan hegemoni dan menjegal kebangkitan Islam dengan melemahkan generasi mereka.

Hanya saja mencetak generasi unggul melalui optimalisasi peran ibu dan umat ternyata tak mungkin dilakukan dalam sistem sekuler yang secara genial memang rusak dan membawa kerusakan. Upaya ini justru membutuhkan sistem yang benar dan datang dari Dzat Yang Maha Benar. Yakni sistem Islam bernama al-khilafah. Khilafah inilah yang akan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan yang karenanya peran ibu dan umat dapat optimal dilaksanakan, dan generasi berkualitaspun akan bisa diwujudkan.

Disinilah urgensi dakwah yang bersifat politik ideologis. Yakni dakwah yang tidak hanya mengarah pada perbaikan kualitas individu ibu dan umat saja, namun juga mengarah pada terwujudnya sistem masyarakat Islam (khilafah Islam) yang rahmatan lil ‘alamin. Dan upaya ini tentu tak bisa dilakukan sendirian, melainkan harus ada sinergi dari seluruh komponen umat yang sudah berkesadaran, termasuk para ibu tangguh arsitek generasi unggul yang bertakwa dan terbina dengan pemikiran-pemikiran Islam.[][]

Kamis, 16 Desember 2010

BERBAHAGIALAH UKHTI, KARENA ENGKAU TELAH DIMULIAKAN ....



Ukhti Fillâh……..
Banyak yang bilang bahwa syari’at Islam tak berpihak pada perempuan.
Mereka bilang,
Bukankah kerudung dan jilbab adalah simbol pengungkungan atas perempuan?
Bukankah menjadi isteri dan ibu adalah bentuk marjinalisasi perempuan?
Lalu, bagaimana dengan pendapat ukhti?

Di banyak kesempatan mereka gembar-gembor bahwa aturan waris dan perwalian sangat diskriminatif terhadap perempuan.
Dan bahwa hak thalaq dan kebolehan poligami merupakan wujud kekerasan terhadap perempuan.
Bahkan ukhti, ketika Islam menetapkan tanggungjawab kepemimpinan ada pada laki-laki,
tak sedikit yang protes meradang.
Dan lantas menuding, bahwa Islam tak adil dan melegitimasi penindasan terhadap perempuan.
Lalu, bagaimana pula dengan pendapat ukhti?

Ukhti,
Betapa naïf ya, jika kebodohan kita menjadi dasar untuk menolak kebenaran …..?!!
Bukankah Islam datang dari Dzat Yang Menciptakan Kehidupan, Manusia; Laki-Laki dan Perempuan?
Bukankah Islam datang dari Dzat Yang Maha Mengetahui Segala Kebaikan dan Keburukan, Menggenggam Waktu; Dahulu, Sekarang dan Yang Akan Datang??
Bukankah pula, Islam datang dari Dzat Yang Maha Memiliki Segala Kesempurnaan, Yang Maha Adil dan Maha Penyayang?
Lantas, kenapa mereka pertanyakan keberpihakan aturan-aturanNya, ya Ukhti ?
Kenapa pula mereka ragukan kesempurnaan syari’atNya dalam mengatur kehidupan?

Padahal Ukhti,
Bukankah tak bisa dipungkiri lemahnya pengetahuan kita, bahkan akan diri kita sendiri?
Bukankah banyak hal yang bisa menyadarkan, betapa –siapapun- lemah dihadapan Dzat Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan?
Lantas atas dasar apa, ya Ukhti,
Sehingga dengan sombong mereka katakan bahwa manusia layak menjadi Robb semesta alam?

Ukhti…..
Barangkali benar ya,
Bahwa kejernihan berpikir dan sikap tau diri akan menghantarkan seseorang kepada ketundukan.
Dan bahwa kejernihan dan sikap tau diri pula, yang akan memastikan terhujamnya keyakinan
Bahwa syari’at adalah manifestasi Rahmat Allah atas penciptaan.
Sehingga, hanya yang bisa jernih berpikir dan tau dirilah yang bisa mencerap kebahagiaan dari pesan cinta Dzat Pencipta Kehidupan.

Ukhti…..
Sungguh, betapa ingin saya katakan,
Bahwa sudah saatnya mereka campakkan kedengkian dan kesombongan,
Sebelum satu saat mereka berhadapan dengan Dzat yang sifat-sifatNya selalu mereka nafikan.
Betapa ingin juga saya katakan,
Bahwa sudah saatnya mereka kembali ke jalan Islam, satu-satunya jalan yang menyelamatkan.
Karena senyatanya ukhti
Inilah fitrah mereka….
Dan untuk inilah mereka diciptakan.

Berbahagialah Ukhti….
Karena ukhti sudah termasuk yang tercerahkan……!!!
Dan berbahagialah Ukhti …..
Karena nyata, dengan cara ini Yang Maha Rahim menyatakan kecintaan!!!
[][][]

Rabu, 15 Desember 2010

Ummahat : Sumayyah binti Khubath ra.


Wanita Perkasa Yang Cukup Baginya Surga ...

Ia termasuk perempuan-perempuan pertama yang masuk ke dalam Islam, termasuk tujuh orang pertama yang memeluk Islam, bersama-sama dengan suaminya Yasir bin Amir bin Malik dan anaknya Ammar. Tidak lama setelah cahaya Islam menerangi Makkah, keluarga Yasir langsung memenuhi panggilan iman kepada Allah dan membenarkan Nabi Muhammad saw. Dalam keluarga ini terhimpun keutamaan kesabaran dan jihad. Dan sejak mereka masuk ke dalam Islam, mereka mendapat siksaan dari orang-orang Kafir Quraisy.

Apalagi ketika orang-orang Kafir Quraisy melihat kekokohan iman mereka yang dinilai tinggi, maka kemarahan orang-orang Kafir Quraisy semakin memuncak. Hampir setiap helaan nafas yang mereka hembuskan ditujukan untuk menyiksa orang-orang yang mengucapkan,”Rabb kami adalah Allah”. Termasuk yang dialami oleh keluarga Yasir, yaitu Yasir, Sumayyah dan Ammar bin Yasir, dimana mereka disiksa dengan siksaan yang amat pedih dan dipaksa untuk meninggalkan Islam. Tetapi siksaan yang mereka terima tidak berpengaruh sedikitpun pada keluarga ini kecuali tetap beriman dengan teguh dan ikhlas. Sampai ketika mereka sedang menyiksa keluarga Yasir, Rasulullah lewat di depan mereka, seraya memberikan kabar gembira. “Sabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah syurga. Sesungguhnya aku tidak memiliki apapun dari Allah untuk kalian,” Rasulullah menyatakan pada mereka bahwa tempat yang dijanjikan untuk mereka adalah syurga, maka tidak ada yang dilakukan Sumayyah kecuali berkata :”Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas, wahai Rasulullah,”

Mereka senantiasa shabar menghadapi siksaan yang ditimpakan kepada mereka oleh orang-orang Kafir Quraisy, sampai akhirnya merenggut nyawa Yasir bin Malik. Tetapi hal ini tidak menimbulkan kegentaran pada diri Sumayyah, bahkan ia lebih menantang orang-orang atau pemuka Kafir Quraisy sehingga menambah geram pemuka Kafir Quraisy, terutama Abu Jahl, hingga akhirnya ia menusukkan tombak ke tubuh Sumayyah binti Khubath r.a sampai beliau meninggal dunia sebagai syahidah pertama. Demi mempertahankan ke-Islamannya ia korbankan jiwanya. Subhanallah, tidak diragukan lagi bagaimana perannya sebagai seorang muslimah, sebagai bagian dari masyarakat yang bertanggungjawab bagi tegaknya Islam, sehingga dengan ikhlas dan ridho ia serahkan jiwanya hanya untuk Islam semata, sekalipun siksaan yang diterimanya sedemikian besarnya.

Semasa hidupnya, Sumayyah dikenal sebagai seorang istri yang baik, berbakti dan mengabdi kepada suaminya, dan senantiasa mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sebagai seorang ibu, dapat kita lihat dari sosok anaknya, yakni Ammar bin Yasir. Ia pun termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam bersama-sama dengan ayah bundanya, dimana kekuatan dan kekokohan imannya mampu menggentarkan orang-orang kafir Quraisy yang menyiksanya. Ia juga seorang mujahid yang tangguh, dengan gagah berani, ia mempertaruhkan nyawanya melawan musuh-musuh kaum muslimin.

Jelaslah bahwa Sumayyah tidak saja hanya memerankan tugasnya sebagai istri dan ibu, tetapi sebagai seorang muslimah yang memberikan andil dan semangat besar bagi kaum muslimin lainnya dengan mengajak keluarganya kepada Islam dan tetap kokoh memegang teguh dînnya sekalipun siksaan yang diterimanya sangat berat.
(Sumber : Revisi Politik Perempuan)

Minggu, 12 Desember 2010

TELADAN IBU TANGGUH PENCETAK GENERASI UNGGUL


ASMA BINTI ABI BAKAR RA.

Asma’ dikenal sebagai kelompok wanita yang pertama-tama masuk Islam. Ia merupakan muhajirah yang agung, yang mengorbankan harta, raga dan jiwanya hanya untuk Islam. Semua unsur keturunan yang mulia terkumpul dalam pribadinya. Hal itu cukup untuk mengangkat derajatnya ke tempat yang tinggi dan membanggakan. Ayahnya, Abu Bakar Shiddiq adalah sahabat karib yang paling utama bagi Rasulullah semasa beliau hidup, dan khalifah pertama sesudah beliau wafat. Kakeknya, Abu Atiq, ayahnya Abu Bakar. Saudara perempuannya, Aisyah Ummul Mukminin (Istri Rasulullah SAW), seorang wanita suci, bersih, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmanNya. Suaminya, Zubair bin Awwam, seorang tokoh yang sangat mengutamakan ridha Allah dan ridha ibu bapaknya.
Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, seorang pemuda miskin, tidak mempunyai pelayan yang selalu siap sedia membantu pekerjaannya, tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, kecuali hanya seekor kuda yang dirawatnya dengan baik.

Sungguh pun begitu Asma’ tidak kecewa. Dia adalah seorang istri yang baik dan setia, serta selalu khidmat kepada suaminya. Jika suaminya sedang sibuk mengemban tugas-tugas yang dibebankan Rasulullah kepadanya, Asma’ tidak segan-segan bekerja keras merawat dan menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya.
Pribadi Asma’ dirahmati Allah dengan keistimewaan yang menonjol yang jarang terdapat sekaligus, kecuali dalam pribadi segelintir pria. Dia cantik, hampir sama dengan saudaranya, Aisyah. Dia cerdas, lincah, cekatan, bangsawan dan memiliki otak yang sangat cemerlang.

Kepemurahannya menjadi teladan bagi orang banyak. Anaknya, Abdullah pernah berkata:”Aku belum pernah melihat wanita yang pemurahnya melebihi ibuku, Asma’. Bibiku berlainan. Kalau bibiku, dikumpulkannya lebih dahulu sedikit demi sedikit sesuatu yang akan dinafkahkannya, maka bila sudah terkumpul barulah dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya, lain dengan ibuku, dia tidak pernah menyimpan sesuatu sampai besok.”

Dari segi kecemerlangan berfikirnya, sangat nampak dalam diri putri Abu Bakar ini. Ia senantiasa bertindak penuh perhitungan dan bijaksana. Ketika ayahnya, Abu Bakar Shiddiq membawa seluruh uang simpanannya untuk kepentingan hijrah bersama Rasulullah saw, tidak satu sen pun ditinggalkannya untuk keluarganya. Setelah Abu Quhafah, bapak Abu Bakar atau kakek Asma’, mengetahui kepergian anaknya, dia datang ke rumah Abu Bakar untuk memastikan. Ketika itu Abu Quhafah masih musyrik. Kata Abu Quhafah:”Demi Allah! Tentu bapakmu mengecewakanmu dengan hartanya, disamping dia menyusahkanmu dengan kepergiannya.”

“Tidak kek! Sekali-kali tidak! Bapak banyak meninggali kami uang,” jawab Asma’ menghibur kakeknya. Asma’ pergi mengambil batu-batu kerikil, kemudian dimasukkannya ke kotak, tempat dia biasa menyimpan uang. Sesudah itu ditutupnya kerikil tersebut dengan kain-kain pakaiannya. Kemudian di bawanya si kakek ke tempat simpanan uang tersebut dan diletakkannya tangan kakek di atas kain-kain yang menutup kerikil itu. Kata Asma’ : ”Lihatlah Kek! Kami banyak ditinggali uang oleh Bapak,”padahal kakeknya buta.

“Bagus ..! Bagus ..! Kalian ditinggali banyak uang. Syukurlah..!” kata sang kakek.
Sesungguhnya maksud Asma’, disamping untuk menyenangkan hati kakek supaya tidak susah memikirkan dan memberinya apa-apa lagi. Lebih jauh dari itu, sebenarnya Asma’ tidak mau menerima bantuan orang musyrik, walau itu dari kakeknya sendiri. Hal ini merupakan bukti kuat yang menunjukkan sedemikian besarnya perhatiannya terhadap dakwah dan kepentingan kaum muslimin.

Asma’ binti Abu Bakar diberi julukan oleh Rasulullah sebagai Dzatun Nithâqayn (wanita yang mempunyai dua ikat pinggang). Hal ini terkait dengan peristiwa, ketika tepat di hari Rasulullah SAW hendak berangkat hijrah ke Madinah. Asma’ menyediakan makanan dan minuman untuk perbekalan beliau berdua dengan ayahnya Abu Bakar. Ketika dia hendak mengikat karung makanan dan qirbah (tempat air minum) dia merobek ikat pinggangnya sebagai tali pengikat. Karena itulah Rasulullah saw mendo’akan nya semoga Allah mengganti ikat pinggang Asma’ dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di syurga. Sejak itu Asma’ digelari “Dzatin Nithâqain”.

Berkaitan dengan peristiwa hijrah inipun, sebenarnya ada berbagai hal yang bisa kita teladani, yang menggambarkan bagaimana kekuatan berfikir dan berstrategi yang dimiliki oleh seorang muslimah, tentu saja ini berkaitan dengan aktivitas politiknya yang dihasilkan dari kecemerlangan akal yang dimilikinya, bukan sekedar aktivitasnya mengantarkan makanan saja.

Asma’ mengirim makanan untuk dua orang yang berperan penting bagi umat Islam, Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar agar keduanya tidak kehausan atau kelaparan. Tetapi lebih dari itu, Asma’ juga menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana orang-orang Kafir Quraisy terhadap kaum muslimin, yakni ketika suasana sangat genting dimana orang-orang Kafir Quraisy tengah mencari-cari Rasulullah saw untuk dibunuh karena bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan orang-orang yang mengemban risalah Islam. Dengan perut yang besar, karena kehamilannya waktu itu, Asma’ mengambil peran yang beresiko tinggi, mengapa ? Karena bila ketahuan, bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan, tetapi lebih dari itu, Abu Bakar dan utusan Allah, Muhammad saw pun akan terancam keselamatannya. Apalagi orang-orang Kafir Quraisy saat itu tengah marah besar karena Muhammad saw berhasil lolos dari kepungan, dan posisinya digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Tetapi dengan sangat cerdik dan penuh perhitungan Asma’ berjalan menuju persembunyian Abu Bakar dan Rasulullah saw di gua Tsur, sambil menggembalakan kambing-kambingnya. Ia berjalan di depan dan kambing-kambingnya berjalan di belakangnya. Dengan cara ini, tidak ada yang bisa mengikuti jejaknya, karena jejak kaki Asma’ terhapus oleh jejak kaki kambing gembalaannya. Apa yang dilakukan Asma’ itu belum tentu mampu dilakukan seorang lelaki pemberanipun, karena hal itu bisa mengundang bahaya, kezhaliman dan keberingasan orang-orang kafir Quraisy. Suatu perbuatan yang membutuhkan pemikiran yang mendalam, keteguhan hati, sekaligus keberanian dan kekuatan iman.

Ternyata permasalahannya tidak berhenti sampai disini saja, setelah Rasulullah saw dan Abu Bakar berhasil keluar dari tempat persembunyiannya dan berhijrah ke Madinah, Asma’ menuturkan, “Kami di datangi beberapa orang Quraisy, di antara mereka adalah Abu Jahal. Mereka bertanya, “Mana ayahmu wahai putri Abu Bakar ?” Dengan diplomatis Asma’ akhirnya menjawab,” Demi Allah, aku tidak tahu di mana sekarang ayahku berada, ”Seketika itu pula Abu Jahal mengangkat tangannya dan menampar pipi Asma’ dengan satu kali tamparan yang membuat anting-antingnya lepas, setelah itu mereka beranjak pergi.

Setelah Rasulullah saw dan Abu Bakar berhasil hijrah ke Madinah, maka giliran Asma’ untuk hijrah ke Madinah, sementara saat itu Ia dalam keadaan hamil tua, mengandung Abdullah bin Zubair. Sekalipun sudah hampir melahirkan, keadaan ini tidak menjadi rintangan baginya untuk menempuh perjalanan jauh dan berbahaya. Akhirnya, setelah sampai di Quba, Asma’ melahirkan bayi yang sangat didambakannya. Sebagai tanda syukur dan gembira, kaum muslimin mengucapkan takbir dan tahlil menyambut kelahiran Abdullah bin Zubair. Itulah bayi yang pertama lahir di Madinah.

Asma’ segera membawa bayinya ke hadapan Rasulullah saw dan meletakkannya di pangkuan beliau. Rasulullah mengambil air ludahnya sedikit, lalu dimasukkannya ke mulut bayi tersebut, itulah makanan yang pertama masuk ke dalam rongga mulut anak itu. Kemudian beliau membaca do’a bagi bayi tersebut.

Sebagai seorang ibu, telah sering pula kita mendengar kisahnya, sosok ibu yang mengerti benar perannya menciptakan generasi yang berkualitas prima, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, apakah itu harta, anak, istri dan sebagainya, generasi yang siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasûlullâh. Dan generasi seperti ini nampak jelas dalam diri putra Asma’ binti Abu Bakar, yaitu Abdullah bin Zubair. Tentang hal ini kita simak salah satu kisah pertemuan terakhir antara ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata karena kecintaan keduanya yang tinggi kepada Allah swt dan RasulNya.

Abdullah bin Zubair diangkat menjadi khalifah setelah khalifah Yazid bin Mu’awiyah meninggal. Negeri-negeri Hijaz, Mesir, Iraq, Khurasan dan sebagian besar negeri Syam telah tunduk ke bawah pemerintahannya. Tapi Bani Umayyah tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan tentara yang besar di bawah pimpinan panglima Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafy untuk menggulingkan khalifah. Abdullah bin Zubair turun ke medan tempur memimpin sendiri tentara yang setia kepadanya. Dia memperlihatkan kebolehannya sebagai panglima perang yang gagah berani dengan taktik dan strategi perang yang brilian.

Tetapi para perwira bawahan dan prajuritnya banyak yang meninggalkannya satu demi satu, membelok ke pihak musuh. Akhirnya dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit dia mundur di bawah naungan Ka’bah yang suci dan agung. Beberapa saat sebelum kekalahannya, Abdullah bin Zubair pergi menemui ibundanya yang sudah lanjut usia.
“Assalâmu’alaiki warahmatullâhi wabarakâtuhu, wahai ibunda!” kata Abdullah memberi salam kepada ibunya.

“Wa’alaikas salâm warahmatullâhi wabarakâtuhu, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke sini pada saat begini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tentaramu menggetarkan seluruh kota Mekkah,” kata ibunya.
“Aku datang hendak bermusyawarah dengan ibu,” jawab Abdullah dengan hormat dan menunjukkan kasih sayangnya.
“Tentang masalah apa?” tanya ibunya khawatir.
“Tentaraku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dari padaku ke pihak musuh. Mungkin karena takut kepada Hijjaj atau mungkin juga karena menginginkan sesuatu yang di janjikannya, sehingga anak-anak dan istriku pun berpisah denganku. Sedikit sekali jumlah tentara yang tinggal bersamaku. Mereka itu pun agaknya tidak akan sabar bertahan lebih lama bersamaku. Sementara itu, para utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang kuminta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah. Bagaimana pendapat ibu?” Tanya Abdullah.

Asma’ menjawab dengan suara tinggi, ”Terserah kepadamu ya Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang tahu dengan dirimu? Bila engkau yakin bahwa engkau mempertahankan yang hak dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkan seperti para prajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan benderamu! Tetapi bila engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau seorang anak laki-laki yang pengecut. Berarti engkau mencelakakan diri sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, nak!”
Abdullah menundukkan kepala di hadapan ibunya yang kelihatan marah bercampur berbagai perasaan yang tidak pasti wujudnya. Walaupun ibunya sudah tua dan buta, Abdullah yang khalifah dan panglima perang yang gagah berani tidak sanggup melihat wajah ibunya karena sangat hormat dan kasih kepadanya.
“Tetapi aku akan terbunuh hari ini, bu! Kata Abdullah lembut.
“Itu lebih baik bagimu dari pada engkau menyerahkan diri kepada Hajjaj. Akhirnya toh kepalamu akan diinjak-injak juga oleh budak-budak Bani Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sulit dipercaya,” jawab ibunya tegas dengan nada tinggi.
“Aku tidak takut mati, bu! Tetapi aku khawatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam,” kata Abdullah lagi.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan perbuatan orang hidup sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang,” kata ibunya.
“Semoga ibu diberkati Allah. Begitu pula hendaknya buah pikiran ibu yang selalu terang benderang. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah kudengar dari ibu sebentar ini. Allah Maha Tahu, aku tidak lemah dan tidak terlalu hina. Dia Maha Tahu, aku tidak terpengaruh oleh dunia dan kemewahannya. Murka Allah bagi orang-orang yang menyepelekan segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat ibu. Apabila tewas, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan kehidupan ibu, serahkan kepada Allah…! Kata Abdullah menguatkan hati ibunya.
“Yang ibu kuatirkan kalau-kalau engkau tewas di jalan yang sesat,” kata Asma’ memperlihatkan keteguhan imannya.
“Percayalah ibu! Anak ibu tidak memiliki pikiran sesat untuk berbuat keji. Anak ibu tidak percaya untuk menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang-orang muslim yang baik, atau melakukan kejahatan-kejahatan lain. Anak ibu mengutamakan keridhoan ibu. Aku katakan semua ini di hadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Allah ta’ala menanamkan kesabaran yang dalam di hati sanubari ibu.”
Jawab Asma’ ”Alhamdulillâh…! Segala puji bagi Allah yang telah membuat engkau teguh memegang apa yang disukai-Nya dan yang ibu sukai pula. Mendekatlah kepada ibu, anakku! Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir bagi ibu untuk menciummu…”

Abdullah menjatuhkan diri ke pangkuan ibunya. Hidung Asma’ beranjak dari kepala, ke muka dan tengkuk Abdullah. Tangannya menyentuh tubuh Abdullah, tetapi tiba-tiba Asma’ menarik kembali tangannya yang keriput seraya bertanya, ”Apa yang engkau pakai, hal Abdullah?”
“Baju besi!” jawab Abdullah.
“Untuk apa pakaian seperti ini dipakai oleh orang yang ingin syahid?” Tanya Asma’.
‘Aku memakainya untuk menyenangkan hati ibu,” jawab Abdullah.
“Tanggalkan baju besi itu! Tanpa baju besi itu engkau lebih memperlihatkan semangat yang tinggi dan keperkasaan. Disamping itu engkau dapat bergerak dengan leluasa, ringan dan lincah. Sebagai gantinya pakailah celana rangkap. Seandainya engkau tewas auratmu tidak mudah terbuka,” kata ibunya dengan penuh kasih sayang.
Abdullah melepas baju besinya, kemudian memakai celana rangkap. Sesudah itu dia pergi ke Masjidil Haram meneruskan pertempuran sambil berpesan kepada ibunya,” jangan bosan mendo’akanku, ibu!”

Asma menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, ”Wahai Allah! Kasihanilah dia karena shalat yang panjang diselingi tangis di tengah malam buta, ketika orang-orang lain sedang tidur nyenyak. Duhai Allah! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan haus ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekkah dalam menunaikan ibadah puasa karenaMu. Duhai Allah! Kasihanilah dia yang selalu berbuat kebaikan dan menuntut kasih sayangnya terhadap ibu dan bapaknya. Duhai Allah! Aku serahkan dia ke dalam pemeliharaanMu dan aku ridha dengan apa yang telah Engkau tetapkan baginya dan berilah aku pahala orang-orang yang sabar…!

Sebelum matahari terbenam di sore hari itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia pulang ke rahmat Allah karena mengutamakan ridha Allah. Lebih kurang tujuh belas hari setelah kematian putranya, Asma’ wafat pula menyusul putranya tercinta. Asma’ binti Abu Bakar Shiddiq pulang ke rahmatullah dalam usia seratus tahun. Walapun usianya sudah lanjut, namun giginya masih utuh semuanya, tidak ada yang tanggal satupun. Daya pikirnya tetap kuat dan prima. Begitu pula imannya seperti dikisahkan dari cela-cela kehidupannya yang penuh taqwa. Radhiyalhu’anhuma. Semoga Allah meridhai kedua hambanya. Asma’ dan Abdullah bin Zubair, putranya.

Inilah sebuah teladan yang sangat berharga bagi kita semua, bukan saja keberaniannya, kepatuhannya kepada Allah, suami dan ayahnya, pengorbanannya yang besar atau sikap dermawannya, serta kedalaman berpikirnya, tetapi lebih dari itu kesadaran politik yang dimiliki serta kemampuannya mensinergiskan peran-peran yang harus dilaksanakan oleh seorang muslimah demikian melekat kuat dalam dirinya. Bersama suaminya, Zubair terbentuklah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah bukan karena harta yang melimpah ruah, tetapi sebuah keluarga yang selalu diberkahi dan dirahmati oleh Allah swt, karena anggota-anggota keluarganya menjadikan kecintaan kepada Allah swt di atas kecintaan-kecintaan lainnya. Dari keluarga ini lahir seorang syuhada yang gagah berani, yang tidak takut terhadap apapun kecuali kepada Allah swt. Sekalipun demikian, Asma’ tidak mengabaikan peran politiknya. Ia berperan aktif dalam hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Berpindahnya kaum muslimin dari kondisi yang buruk kepada yang baik, sehingga akhirnya tegaklah daulah Islamiyah di Madinah.

(Sumber : Revisi Politik Perempuan, Najmah Saiidah&Husnul Khotimah, Idea Pustaka)

Senin, 06 Desember 2010

Dr Nazreen Nawaz : Kapitalisme Sumber Kekacauan Global


Pengantar:

Selama beberapa tahun terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, atau dalam istilah yang lebih umum, ‘Islam Politik’, adalah ancaman bagi dunia seperti dalam prohttp://www.blogger.com/img/blank.gifpaganda Tony Blair. Betulkah propaganda tersebut? Apa sesungguhnya motif Barat di baliknya propaganda tersebut? Mengapa Islam yang dijadikan tertuduh? Bagaimana dengan Kapitalisme global yang memimpin dunia saat ini, yang justru banyak memproduksi persoalan dan menjadi sumber kekacauan global?

Untuk mengetahui lebih jauh jawaban atas beberapa pertanyaan di atas, Redaksi Al-Waie kali ini mewawancarai Dr. Nazreen Nawaz, Representasi Muslimah Hizbut Tahrir Inggris, yang tentu merasakan langsung kebijakan-kebijakan penuh kebencian dari pemerintahan di Barat atas Islam dan kaum Muslim, termasuk terus menebar propaganda yang menyerang Dunia Islam. Berikut petikan wawancaranya.

Selama beberapa tahun terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, atau dalam istilah yang lebih umum, ‘Islam Politik’, adalah ancaman bagi dunia seperti dalam propaganda Tony Blair. Bagaimana komentar Anda? Apa motif di balik opini seperti itu?


Cerita semacam ini sering dibangun oleh para politisi, pemerintahan dan lembaga-lembaga Barat. Dengan mudahnya mereka mengalihkan perhatian dari fakta bahwa Kapitalisme global, nilai-nilai liberal sekular dan kebijakan-kebijakan luar negeri kolonial Barat adalah penyebab terbesar atas ketidakstabilan, kekacauan dan ketidakamanan di dunia. Bukanlah Islam Politik yang telah mengobarkan perang kolonial yang tak terhitung jumlahnya selama 100 tahun terakhir yang menjarah sumberdaya dari bangsa asing, melainkan negara-negara kapitalis Baratlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang menyebabkan kematian ratusan ribu warga sipil dalam bencana perang dan kehancuran Afganistan, Irak dan Pakistan; atau yang melakukan penculikan rahasia, penahanan dan penyiksaan dalam Perang Melawan Teror. Namun, pemerintah kolonial Baratlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang mengesahkan penggunaan uranium terdeplesi (depleted uranium) terhadap penduduk Irak, tetapi para pemerintahan sekularlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang membuat miskin negara-negara di dunia dan menyebabkan krisis ekonomi global, tetapi Kapitalismelah biang keladinya.

Klaim ini mencoba untuk membuat ketakutan atas keyakinan Islam Politik, seperti usaha penerapan syariah atau pembentukan Kekhalifahan di dunia Muslim, dengan mengaitkannya dengan terorisme. Hal ini telah menciptakan iklim ketakutan yang telah melayani dua tujuan. Pertama: memberikan pembenaran pemerintahan Barat kepada masyarakat di negara mereka dengan tujuan melanjutkan perang atas pendudukan yang mereka lakukan dengan brutal, mendukung pemerintahan diktator di negara-negara Islam dan melestarikan gangguan mereka atas dunia Muslim atas nama pencegahan ide-ide Islam untuk bisa terwujud. Kedua: mengesahkan undang-undang anti-teror yang kejam atas komunitas Muslim dengan maksud membungkam suara penentangan atas kebijakan luar negeri Barat dan melaksanakan kebijakan kontra-terorisme yang menganggu masyarakat Muslim. Tujuannya adalah membungkam suara tidak setuju atas kebijakan luar negeri Barat dan dukungan umat Islam di Barat atas pelaksanaan syariah di negeri-negeri Muslim yang membuat pemerintahan di Barat gerah. Tujuan keseluruhannya adalah mencegah munculnya kembali Kekhilafahan Islam ideologis yang akan menantang hegemoni negara-negara kapitalis Barat atas sumberdaya dunia dan urusan global.

Namun, cerita bahwa Islam Politik adalah seperti ‘ban berjalan’ bagi terorisme telah terbukti kepalsuannya. Laporan lembaga kajian terkemuka di Inggris pada bulan April 2010 yang berjudul, “Tepi Kekerasan” (The Edge of Violence), menyatakan, “Mungkin bagi umat Islam untuk membaca teks-teks radikal sehingga mereka menjadi kuat dan vokal menentang kebijakan luar negeri Barat, meyakini hukum syariah, mengharapkan kemunculan kembali Kekhalifahan, bahkan mendukung Muslim Afganistan dan Irak untuk memerangi pasukan sekutu; sementara pada saat yang sama mereka sangat vokal dalam mengecam terorisme yang terinspirasi al-Qaeda di negara-negara Barat.”

Dalam sebuah artikel berjudul, “Syariah: Bahaya Bagi Amerika Serikat.” (Washington Times, 2010/09/14) disebutkan bahwa ada beberapa alasan penting mengapa AS berada di bawah ancaman syariah Islam. Alasannya tidak hanya karena syariah Islam hanyalah sebuah agama ruhani, tetapi karena Islam juga membawa tugas jihad dan Kekhalifahan. Jadi, mengapa Barat begitu paranoid tentang ketiga konsep itu (Syariah, Jihad dan Khilafah)?

Seseorang perlu menarik perbedaan antara masyarakat umum di Barat dan pemerintah Barat berserta lembaga-lembaga mereka. Masyarakat Barat umumnya kurang pengetahuan tentang Islam. Di sisi lain, propaganda negatif terhadap syariah, jihad dan Khilafah yang terus-menerus dijajakan oleh beberapa media Barat beserta pendirian politik telah menciptakan pandangan sama sekali palsu atas konsekuensi dari pelaksanaan syariah Islam. Mereka percaya hal itu akan menyebabkan kemunduran, ekonomi stagnan dan munculnya negara totaliter yang haus perang yang akan menundukkan kaum wanita dan kaum minoritas non-Muslim. Mereka yang mempelajari teks-teks Islam dan sejarah telah memahami bahwa persepsi ini sangat jauh dari kebenaran.

Namun, bagi pemerintahan Barat, pelaksanaan syariah, jihad dan Khilafah adalah ancaman bagi hegemoni budaya global dan hegemoni fisik mereka untuk mengamankan kepentingan ekonomi mereka. Pendirian Khilafah akan menjadi berita besar yang akan mengakhiri kontrol mutlak, eksploitasi dan campur tangan mereka di dunia Muslim. Ini berarti berakhirnya kekuasaan rezim-rezim diktator yang berkuasa saat ini di wilayah tersebut yang tunduk pada kepentingan dan perintah dari kekuatan asing daripada tulus melayani kepentingan umat Islam. Hal ini akan menimbulkan munculnya sebuah negara yang akan mencari jalur independen daripada harus bersikap tunduk pada kolonial Barat dan pendudukan serta mengakhiri penghisapan sumberdaya tanah kaum Muslim. Kemunculan negara ini (Khilafah) akan menantang negara-negara Barat karena akan menjadi pemimpin politik dan ekonomi di dunia, mencabut penderitaan dan menghapus kemiskinan yang disebabkan Kapitalisme global dan menunjukkan kepada dunia penghargaan sejati atas kehidupan manusia, keadilan dan hak-hak manusia.

Terkait terorisme, suatu istilah yang sering digunakan sebagai alasan untuk menyerang Islam, bagaimana kita harus mengatasi kelompok-kelompok Islam yang membenarkan pembunuhan orang-orang Barat di manapun mereka berada, termasuk yang tinggal di kota-kota besar di Eropa atau Amerika, dengan alasan melakukan pembalasan yang seimbang?

Harus diperjelas bahwa Islam tidak mengizinkan pembunuhan dengan target warga sipil yang tak berdosa yang dilakukan atas nama melawan penjajahan, dengan cara yang sama saat umat Islam melawan pendudukan militer demi merespon kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Negara-negara kapitalis Barat melakukan pembantaian atas ribuan nyawa yang tidak bersalah, pengeboman yang serampangan dan penghancuran seluruh kota serta penyiksaan terhadap tahanan perang yang dilakukan atas premis ideologi yang korup bahwa ‘apapun bisa dilakukan untuk mengamankan kepentingan kami‘. Sebaliknya, Islam telah mendefinisikan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam setiap aspek kehidupan, termasuk adanya aturan perang. Pemerintahan Barat telah menunjukkan pengabaian atas kehidupan manusia secara terang-terangan, menggunakan depleted uranium dan fosfor putih sebagai alat perang. Sebaliknya, Islam mewajibkan penghargaan yang tinggi bagi kesucian hidup manusia.

Bagaimana cara terbaik bagi kaum Muslim untuk mengatasi masalah terorisme?

Kaum Muslim tidak boleh menerima atau mendukung cerita palsu bahwa karena ada sebagian individu yang melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak bersalah maka Islam merupakan ancaman terbesar bagi keamanan atau stabilitas global. Sebaliknya, apa yang perlu disorot adalah bahwa tindakan tersebut hanyalah tanggapan atas penaklukan politik atau ekonomi yang dilakukan baik oleh pemerintahan Barat maupun Muslim, di samping tindakan agresi dan pendudukan tanah Muslim oleh kekuatan asing. Hal ini telah menjadi kebijakan luar negeri Barat, juga kebijakan para penguasa tiran di dunia Muslim yang menyokong mereka. Sebagai contoh, tidak ada terorisme di Pakistan sebelum pemerintahnya mendukung invasi atas Afganistan tahun 2001 yang dipimpin Inggris-AS. Banyak sumber, termasuk sebagian yang terkait dengan pemerintah Barat, yang telah menyalahkan kebijakan luar negeri Barat bagi peningkatan ancaman keamanan nasional di Barat. Pada bulan Juli tahun ini, dalam bukti-bukti yang diajukan dalam Penyelidikan Chilcot pada perang Irak, Kepala MI5 Eliza Manningham-Buller berkomentar mengenai masalah keamanan di Inggris, bahwa Perang Irak telah ‘meradikalisasi’ generasi Muslim di Inggris.

Di sisi lain, demokrasi dan Kapitalisme diklaim sebagai pembawa kebaikan. Bagaimana menurut Anda?

Perang Melawan Teror telah mengungkap wajah demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi adalah sistem yang memungkinkan adanya penculikan, penahanan rahasia dan penyiksaan untuk mengamankan kepentingan-kepentingan nasional. Sistem ini telah membuang hak asasi manusia dan prinsip-prinsip seperti habeas corpus (hak untuk diperiksa di muka hakim, penerj.), peradilan yang adil dan terbuka, supremasi hukum dan privasi individu untuk keuntungan politik. Sistem ini telah menjadi ciri penindasan dengan pelanggaran seperti di Abu Ghraib, Guantanamo, rendisi (penyerahan atas orang atau benda kepada musuh, penerj.) yang dilakukan secara luar biasa, seperti penyiksaan sadis atas Dr Aafia.

Dunia telah melihat seperti apa sebenarnya demokrasi Barat-suatu juara ketidakadilan dan pemimpin teror yang telah menebar kekacauan dan kesengsaraan di seluruh dunia serta menaburkan kematian dan perusakan atas kemanusiaan. Di negara-negara Barat, larangan niqab, jilbab dan menara mesjid, di samping serangan terhadap al-Quran, telah menggambarkan kegagalan demokrasi untuk mengakomodasi hak-hak kaum minoritas beragama.

Kapitalisme telah berjudi dengan keuangan negara, yang menyebabkan krisis ekonomi global, dan diperparah oleh kemiskinan dunia. Sistem ekonominya yang berdasarkan riba dan privatisasi sumberdaya publik telah memberi makan kaum kaya dan membuat lapar kaum miskin. Kapitalisme telah memungkinkan pasar bebas membeli rasa hormat dari diri seorang perempuan, yang memungkinkan eksploitasi tubuhnya pada iklan, hiburan dan industri seks. Semua itu ditandai dengan kebebasan berekspresi dan kepemilikan dan dilakukan atas nama mengamankan keuntungan. Kebebasan pribadi dan kebebasan seksual telah menolak budaya sopan-santun individualistik, memuaskan diri serta melahirkan perilaku yang tak bertanggung jawab yang telah menyebabkan mewabahnya kerusakan keluarga, alkoholisme, penyalahgunaan obat, perkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penelantaran Lansia dalam masyarakat Barat. Jelas bahwa kebebasan, demokrasi dan Kapitalisme tidak pernah bisa membawa kemajuan, martabat, keadilan dan kemakmuran yang benar bagi umat manusia.

Dunia memandang demokrasi sebagai sistem politik terbaik, yang membuat orang berdaulat dan kuat, dengan ruang terbuka bagi partisipasi politik dan penguasa dapat dikontrol oleh rakyat. Bagaimana Anda melihatnya?

Sekali lagi, waktu telah menunjukkan bahwa demokrasi mewakili sistem di mana aturan adalah untuk kepentingan orang kaya daripada untuk warga biasa. Bulan April lalu, muncul laporan bahwa kesenjangan pendapatan di Inggris antara yang termiskin dan terkaya di masyarakat adalah yang terburuk sejak tahun 1960-an, dengan pendapatan orang miskin jatuh dan bahwa orang kaya meningkat. Perusahan multinasional dan elit kayalah yang berdaulat dalam demokrasi, bukan rakyat. Bisnis besar membiayai proses pemilihan, membiayai para kandidat dan banyak pihak dalam pertukaran bagi berlakunya hukum yang melayani kepentingan finansial mereka. Kita melihat bagaimana dalam kondisi krisis keuangan ini, bisnis multi-juta terselamatkan oleh pemerintah, sedangkan usaha kecil dan warga negara biasa telah meninggalkan belas kasihan pasar sehingga menderita kehancuran finansial. Selain itu, di dunia Muslim, “demokrasi” sering digunakan untuk memberikan udara legitimasi kepada rezim diktator dimana mereka yang disangka melakukan kerusakan terhadap negara dianiaya, dipenjara dan kadang-kadang bahkan dibunuh. Di banyak negara-negara seperti Pakistan dan Bangladesh, huruf “D” pada kata Demokrasi menjadi “D” pada kata Dinasti. Sebagian kecil keluarga politik berkuasa memerintah bangsa selama beberapa dekade. Label “Demokrasi” telah menekankan kembali sistem politik layanan-diri, kepentingan diri sendiri, dan pelestarian diri dari dari para politisi korup daripada tulus melayani masyarakat.

Bisakah Anda menjelaskan sejauh mana sistem Islam di bawah naungan Khilafah bisa mewujudkan kemajuan ekonomi dan stabilitas politik dunia?

Berbeda dengan ideologi kapitalis yang mengejar laba, sistem Islam diterapkan oleh Khilafah didasarkan pada ketulusan untuk menjaga kebutuhan warganya dan peduli bagi kesejahteraan umat manusia. Sistem ini akan berdiri sebagai penghalang dan penantang global terhadap kebijakan luar negeri kolonial yang eksploitatif dari negara-negara kapitalis Barat yang telah menebarkan ketidakstabilan dan ketidakamanan di seluruh dunia. Sistem ini akan menghapus semua belenggu penjajahan dan pendudukan dari negeri-negeri Muslim dan menerapkan hukum Islam yang konsisten dengan kepercayaan rakyat daripada pemaksaan budaya impor yang asing yang telah menyebabkan kemarahan di kawasan ini. Selain itu, Khilafah-dengan kewenangan ada di tangan rakyat-memiliki penguasa terpilih, penegakan hukum, peradilan yang independen serta akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan dan akan menjadi kekuatan stabilisasi untuk kaum muslim dunia. Sistem ini akan menggantikan pemerintahan yang tidak representatif dan tidak akuntabel. Selain itu, sistem Islam menyediakan berbagai jalur di mana individu dapat mengekspresikan kritik atau ketidakpuasan pada tindakan penguasa, menghilangkan ketidakstabilan yang disebabkan oleh penindasan brutal karena perbedaan pendapat politik dengan rezim muslim saat ini.

Secara ekonomi, Kekhilafahan akan membebaskan dirinya dari ekonomi berbasis riba yang telah melumpuhkan baik individu maupun negara-negara dengan utang besar dan telah memaksa proporsi besar dari PDB negara-negara itu dibelanjakan untuk membayar hutang daripada diinvestasikan di bidang pendidikan dan kesehatan. Sistem ekonomi Islam didasarkan pada distribusi kekayaan yang efektif, bukan hanya produksi dan larangan penimbunan kekayaan dan akan berusaha untuk memberantas kemiskinan; bukan hanya dalam negeri, tetapi juga secara internasional. Pendapatan dari sumberdaya seperti minyak, batu bara dan gas yang dipandang sebagai milik publik menurut Islam dan dilarang diprivatisasi akan digunakan untuk meningkatkan standar hidup warga negara dan digunakan untuk mengembangkan infrastruktur negara; bukannya dijual kepada individu atau perusahaan asing di mana negara hanya sedikit meraup keuntungan mereka. Khilafah adalah sistem dengan visi besar yang akan memotong garis ketergantungan pada bantuan asing dan memanfaatkan kekayaan kolosal dan sumberdaya yang kaya dunia Muslim untuk mempromosikan kemandirian, membangun pendidikan yang berkelas dan sistem kesehatan, memberantas buta huruf dan berinvestasi pada teknologi dan penelitian. Sistem keuangannya didasarkan pada prinsip-prinsip keuangan yang sehat seperti penerapan standar emas dan perdagangan aset yang nyata daripada penerapan saham dan ekonomi yang spekulatif dan akan memberikan model teladan kemajuan ekonomi dan stabilitas yang sangat dibutuhkan dalam krisis global saat ini. [Translated by Riza]
Add This! (Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Selasa, 30 November 2010

INILAH DAMPAK NYATA PENERAPAN SISTEM KAPITALIS SEKULAR LIBERAL


SEBAGIAN PEREMPUAN ABG DI JABOTABEK MELAKUKAN SEX SEBELUM MENIKAH
Selasa, 30 November 2010 @ 00:00:00

JAKARTA–bkkbn online:Tren meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar patut mendapat perhatian berbagai kalangan. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperoleh fakta bahwa saat ini makin sulit menemukan remaja putri yang perawan (virgin) di kota-kota besar. Berdasar survei yang diadakan di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, BKKBN menemukan bahwa separo remaja perempuan sudah melakukan seks sebelum menikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil di luar nikah.

Rentang usia remaja perempuan yang pernah berhubungan seks di luar nikah itu 13–18 tahun atau usia ABG (anak baru gede). ’’Kami melakukan survei terhadap 100 remaja perempuan. Hasilnya, 51 orang di antara mereka sudah tidak perawan,’’ ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief di sela peringatan Hari AIDS Sedunia di Lapangan Parkir Monas, Jakarta, kemarin (28/11). Temuan serupa juga didapati di kota-kota besar lain di Indonesia. Selain di Jabodetabek, survei yang sama dilakukan di Surabaya, Medan, Bandung, dan Jogjakarta. Hasilnya, remaja perempuan lajang di Surabaya yang sudah hilang kegadisannya 54 persen Di Medan jumlahnya 52 persen, Bandung 47 persen, dan Jogjakarta 37 persen. Menurut Sugiri, data itu dikumpulkan BKKBN lewat survei sepanjang 2010.

’’Ini ancaman yang diam-diam bisa menghancurkan masa depan bangsa. Jadi, harus segera ditemukan solusinya,’’ ujar dia. Meningkatnya perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja, berimbas pada kasus infeksi dan penularan HIV/AIDS di Indonesia. Perilaku seks bebas memicu meluasnya kasus HIV/AIDS tersebut. Data Kemenkes pada pertengahan 2010 menyebutkan, kasus HIV/ AIDS di Indonesia terdiri atas 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif. Persentase pengidap usia 20–29 tahun mencapai 48,1 persen dan usia 30–39 tahun sebanyak 30,9 persen. Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak terjadi pada kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan lewat IDU atau jarum suntik (40,4 persen).

Menurut Sugiri, fenomena free sex di kalangan remaja tidak hanya menyasar pada kalangan pelajar, tetapi juga didapati pada kelompok mahasiswa. Di antara 1.660 responden mahasiswi di Jogjakarta, sekitar 37 persen mengaku sudah kehilangan kegadisan. Dia menuturkan, selain masalah seks pranikah, remaja dihadapkan pada dua masalah besar terkait dengan penularan HIV/AIDS. ’’Yakni, tingkat aborsi yang tinggi dan penyalahgunaan narkoba,’’ kata Sugiri. Data Kemenkes menyebutkan bahwa pengguna narkoba di Indonesia saat ini 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75 persen di antara mereka atau 2,5 juta jiwa merupakan remaja. Tingkat kehamilan di luar nikah juga sangat tinggi. Sugiri mengungkapkan, rata-rata terdapat 17 persen kehamilan di luar nikah yang terjadi setiap tahun. Sebagian di antara jumlah tersebut bermuara pada aborsi. Grafik aborsi di Indonesia, kata dia, masuk kategori lumayan tinggi dengan jumlah rata-rata per tahun 2,4 juta jiwa. ’’Ini adalah problem nasional yang harus dihadapi bersama. Jadi, bukan lagi tabu untuk dibicarakan demi menemukan solusi yang tepat,’’ kata dia.(indopos)

Jumat, 26 November 2010

MASALAH TKI, BUKTI KEBOBROKAN SISTEM KAPITALISME


Oleh : Siti Nafidah Anshory

Sungguh malang nasib Sumiati dan Kikim. Dua TKI perempuan asal Dompu NTB dan Cianjur ini telah menjadi korban penyiksaan sadis sang majikan. Bahkan karena siksaan sadis itu nyawa Kikim harus hilang dengan cara mengenaskan; disiksa, diperkosa, digorok dan dibuang bak binatang di tempat sampah.

Ironisnya, ibarat mengidap amnesia akut, seluruh bangsa inipun hanya bisa terperangah. Bersikap seolah-olah peristiwa semacam ini baru kali ini terjadi. Para penguasa nampak panik menutupi keteledoran. Sementara media sibuk memberitakan. Adapun rakyat kebanyakan asyik berdiskusi, dan menjadikannya topik obrolan baru, menggantikan topik-topik lain yang datang bergantian.

Namun bisa dipastikan persoalan ini lambat laun akan pupus dengan sendirinya, sejalan dengan bergulirnya waktu, dan banyaknya persoalan yang seolah tak pernah mau hengkang dari negeri dengan berjuta masalah ini. Nama Sumiati dan Kikim pun, dipastikan akan menghilang dari perbincangan, dan suatu saat data kasusnyapun lenyap di peti-eskan.

Itulah yang juga pernah terjadi pada Nirmala Bonat, Siti Zainab, Siti Hajar, Nuraeni, dan ribuan TKI perempuan bernasib malang yang saat kasusnya bermunculan bangsa ini memberi respon yang sama. Namun apa yang terjadi kemudian? Nama dan kasus merekapun raib entah kemana.

Lantas, bagaimana dengan nasib jutaan TKI lain yang tak sempat terekam kamera dan terendus media? Padahal detik ini pun, bisa jadi di antara mereka, ada yang sedang meratapi nasib dan berjuang sendirian menghadapi kesewenang-wenangan para majikan.

Wahai Penguasa, Dimanakah Kalian?


Nasib kebanyakan TKI memang malang. Mereka yang mayoritas kaum perempuan dipuja bak pahlawan, karena menjadi sumber devisa buat kelangsungan hidup negara yang senyatanya tak bisa dihasilkan oleh keringat hasil kerja para penguasa. Namun di saat yang sama, mereka harus rela menghadapi ketidak acuhan para penguasa akan nasib miris yang menimpa mereka.

Seberapa besar jasa TKI, Republika pernah merilis data, bahwa hingga September 2010, total dana remitansi yang dikirimkan TKI di luar negeri, telah mencapai 5,031 miliar dolar Amerika dengan angka terbesar datang dari Malaysia disusul Arab Saudi (republika.co.id, 23/11). Data lain menyebut, dari tahun 2009 hingga awal maret 2010 pemasukan devisa yang dihasilkan dari remitansi yang dikirimkan TKI mencapai 6,615 milyar dolar AS atau setara Rp. 60 Trilyun (antaraNews dan vivaNews, 1/3). Dan untuk tahun 2010, Bank dunia bahkan memprediksi akan mencapai 7 milyar dolar lebih (politikindonesia.com,11/11).

Bayangkan betapa besar kontribusi para TKI pada perekonomian bangsa ini. Bahkan nilai devisa TKI ini disebut-sebut menempati posisi nomor dua setelah Migas. Penghasilan menggiurkan inilah yang rupanya menjadi alasan kenapa penguasa begitu bersemangat mendorong dan memfasilitasi pegiriman TKI ke luar negeri. Cukup dengan mengekspor TKI terutama kaum perempuan, devisa datang sendiri. Tak heran jika Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu negara pengekspor buruh migran terbesar dunia dengan persentase buruh migran perempuan (BMP) mencapai 80 persen, dengan negara tujuan antara lain Arab Saudi, Malaysia, Singapura dan Hongkong.

Ironisnya, hingga hari ini tidak ada data pasti tentang berapa jumlah TKI yang bekerja di luar negeri. Beberapa waktu lalu SBY menyebut angka 3.271.584 orang. Sementara situs migrantcare menyebut ada 4,5 juta orang (migrantcare.net, 24/11). Di antara sekian banyak TKI yang mengadu nasib di luar negeri ini, tak sedikit yang malah menuai masalah. Menurut catatan Migrant Care, sepanjang 2010 saja, jumlah total dari berbagai jenis masalah yang dialami buruh migrant mencapai 45.845 kasus dan 908 orang mati sia-sia (okezone,24/11). Sementara menurut SBY, TKI bermasalah ‘hanya’ ada 0,01 persen (4.385 orang) saja, dengan jenis masalah berupa pelanggaran kontrak, gaji tidak dibayar, jam kerja serta beban kerja yang tidak sesuai, tindakan kekerasan hingga pelecehan seksual.

Yang menjadi pertanyaan adalah, jika jasa TKI tak bisa diabaikan, lantas seberapa peduli pihak pemerintah terhadap permasalahan mereka? Jawabannya, mungkin bisa tercermin dari ungkapan SBY tatkala menanggapi perdebatan soal kasus Sumiati dan Kikim: “TKI, bekali handphone saja!”. Alih-alih fokus pada solusi strategis, SBY malah melontarkan gagasan kontroversial. Seolah-olah, persoalan TKI dan harga perempuan, hanya persoalan remeh temeh saja. Ironisnya ide yang dinilai sangat menggelikan dan tidak layak muncul dari seorang Presiden ini justru ditanggapi positif oleh BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), lembaga yang seharusnya turut bertanggungjawab terhadap munculnya permasalahan TKI dan memaksimalkan upaya perlindungan atas mereka.

Dari fakta ini saja nampak jelas bagaimana peran penguasa yang seharusnya menjadi pelayan dan pelindung masyarakat. Sikap tak acuh mereka malah kian melegitimasi kedzaliman yang menimpa para perempuan penambang devisa. Bahkan keberadaan hukum normatif yang diberlakukan penguasa, yakni UU No 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), bagi sebagian kalangan, justru dianggap sebagai sumber masalah. Selain karena tak memberikan skema yang jelas bagaimana perlindungan harus dijalankan, UU ini bahkan dinilai menjadi alat legal bagi PJTKI untuk melakukan eksploitasi melalui bisnis TKI. Jika demikian halnya, pantaslah jika ada yang menyatakan, bahwa negara dan penguasa semacam ini adalah sumber kekerasan sebenarnya.

TKI Perempuan dan Jebakan Kemiskinan


Atas merebaknya kasus TKI khususnya yang perempuan, para pengamat dan LSM rata-rata hanya menyorot soal kinerja pemerintah dalam persoalan regulasi yang harus diperbaiki, termasuk desakan merativikasi konvensi PBB terkait buruh migrant, serta masalah lemahnya positioning pemerintah dalam kegiatan diplomasi, dll. Padahal jika dicermati, ada hal mendasar yang seharusnya menjadi fokus utama pemerintah dalam menyelesaikan masalah TKI, yakni persoalan gurita kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan di dalam negeri.

Kemiskinan dan pengangguran memang merupakan PR terbesar negeri ini. Kemiskinan, bahkan menjadi potret bersama sekitar 31 juta penduduk Indonesia (13,33 persen dari 238 juta) dengan standar pendapatan yang digunakan Rp. 211.000/kap/bln (Sensus BPS, 2010). Bayangkan jika besaran standar kemiskinan yang tidak manusiawi ini dinaikkan. Mungkin lebih dari setengah penduduk Indonesia yang akan masuk pada katagori miskin.

Sejalan dengan kemiskinan, angka pengangguranpun tak kalah fantastis. Di tahun 2010 ini, diperkirakan jumlah pengangguran terbuka mencapai angka 10 persen (23 juta). Dan ini belum termasuk jumlah pengangguran terselubung dan tertutup yang angkanya bisa dua kali lipat. Mandegnya pertumbuhan ekonomi dan investasi di sektor ril akibat penerapan kebijakan ekonomi kapitalistik yang bertumpu pada aktivitas ekonomi non ril dan telah memicu krisis global disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya 2 hal ini. Sulitnya lapangan pekerjaan dan rasionalisasi besar-besaran di sektor perindustrian membuat angkatan kerja termasuk jutaan lulusan perguruan tinggi tak terserap potensinya. Kehidupan masyarakat yang sulit ini, kemudian diperparah dengan krisis pangan dan energi yang memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Dampak susulannya, gizi buruk dan anak terlantar pun merebak dimana-mana, kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat kian menurun, kriminalitas meningkat, dan lain-lain.

Pada kondisi seperti inilah jutaan keluarga-keluarga miskin harus bertahan hidup. Dan untuk membantu perekonomian keluarga mereka, para ibu dan kaum perempuanpun terpaksa ‘memberdayakan diri’, membantu para bapak mencari uang, di tengah peran domestik yang sangat penting dan tak kalah berat. Salah satu opsi yang terbuka adalah dengan menjadi TKI ke luar negeri, sekalipun beresiko tinggi.

Dengan rata-rata bekal kualitas pendidikan dan skill yang pas-pasan, para tenaga kerja perempuan inipun terbang jauh merenda asa. Bertahun-tahun rela meninggalkan keluarga, suami dan anak mereka. Pekerjaan sebagai PRT, perawat, bahkan PSK pun menjadi pilihan paling realistis bagi kebanyakan dari mereka. Hanya sedikit yang bisa bekerja sebagai dokter, guru/dosen, artis, dll. Nampaknya, mereka sudah tak peduli bahwa pilihan ini telah berdampak pada pelanggaran hukum syara yang akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT. Di samping mencari nafkah bukan kewajiban mereka, dari statusnya sebagai istri, akan banyak kewajiban atas suami yang terabaikan saat dia menjadi TKI di luar negeri. Begitupun sebagai ibu, kewajiban mulianya sebagai pengasuh, pendidik dan pencetak generasi umat berkualitas akan terlalaikan sama sekali.

Kemiskinan, Cermin Ketidakmampuan Negara Mewujudkan Kesejahteraan


Sebagai negara super kaya, tak semestinya Indonesia menjadi negara miskin dan menggantungkan hidupnya dari eksploitasi tenaga kerja perempuan di luar negeri. Begitupun, tak akan ada alasan bagi para bapak untuk tak bekerja dan menggantungkan hidup mereka dan keluarganya dengan merelakan para isteri bekerja menyabung nyawa di luar negeri.

Indonesia sebenarnya punya modal lebih dari cukup untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya hingga tujuh turunan sekalipun. Sumber daya alam kita melimpah ruah, baik berupa hutan, laut, sungai dengan segala isinya, bahan tambang berupa mineral, minyak, gas bumi, dll. Tahun 2009 saja, Badan Geologi merilis data, bahwa Indonesia masih memiliki cadangan batubara 104.760 juta ton, emas 4.250 ton, tembaga 68.960 ribu ton, timah 650.135 ton dan nikel 1.878 juta ton. Sayangnya, amanah Allah berupa kekayaan alam milik rakyat ini tak dikelola secara baik oleh para penguasa Indonesia dari masa ke masa. Konsistensi mereka pada kebijakan ekonomi liberal kapitalistik telah menyebabkan sebagian besar kekayaan itu jatuh ke tangan asing. Jebakan kesepakatan internasional, hutang luar negeri dan rekayasa krisis ekonomi ala Yahudi berikut penyelesaian masalah mereka pada resep IMF telah membuat pemerintah kita tunduk pada kemauan asing.

Akibatnya? Ladang minyak bumi Indonesia hampir 90 persen dikuasai asing. Begitupun SDA yang lain. Salah satunya, PT. Freeport-McMoRan pengelola tambang emas asal Amerika mendapat izin gratis untuk mengeksploitasi pertambangan emas di Ertsberg dan Grasberg Papua melalui perjanjian Kontrak Karya yang sejak tahun 1967 terus diperpanjang hingga saat ini. Tiap hari, perusahaan ini ditengarai berhasil menambang 102.000 gr emas (bayangkan, harga emas 24 karat sekitar Rp. 400 ribu/gr) berikut ‘bonus’ berupa tembaga dan uranium. Jika dihitung, emas kita yang sudah mereka rampok berjumlah 102.000gr X 43th X 365 hari. Padahal emas yang mereka keruk ini bisa menjadikan kita memiliki cadangan devisa yang berlimpah tanpa harus mengorbankan rakyat terutama kaum perempuan mereka untuk jadi TKI. Belum lagi perusahaan-perusahaan asing lainnya, yang dengan cara sama mereka mendapat legalisasi merampok kekayaan kita. Ada Exxon Mobil, Shell, British Petroleum, Total S.A., Chevron Corp. dll yang di tahun 2009, semuanya diperkirakan mengelola kekayaan alam Indonesia dengan nilai 1.655 miliar dolar AS atau sekitar Rp. 17.000 triliun/tahun = 17 kali lipat dari APBN Indonesia tahun 2009 yang hanya mencapai rp 1.037 triliun.

Tentu saja semua kekayaan ini, seharusnya bisa menjadi modal pemerintah untuk membangun negara dan mesejahterakan rakyatnya, dengan memenuhi hak dasar mereka, baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dll secara mudah, murah bahkan gratis. Dengan demikian, keluarga-keluarga di negeri ini, akan menikmati hidup dengan mudah dan merasakan ketentraman yang sesungguhnya. Para bapak, beroleh kemudahan mencari nafkah karena lapangan pekerjaan tersedia dengan mudah. Kebutuhan para Ibu dan anak-anakpun akan terjamin, sehingga tugas mulia mencetak generasi berkualitas akan berlangsung secara sempurna. Sayangnya, ini tak terjadi. Perselingkuhan para penguasa dengan pihak asing dan kapitalis, membuat mereka lebih rela menjadi kacung asing dan menjalankan kebijakan-kebijakan anti rakyat, seperti program liberalisasi, privatisasi BUMN, pencabutan subsidi, dan membuat berbagai regulasi yang menguntungkan asing/kapitalis ketimbang rakyat banyak, semisal UU No. 1/1967 tentang PMA, UU No. 4/2004 tentang Sumber Daya Air, UU Migas, dll.

Saatnya Kembali Ke Jalan Allah


Mempertahankan kapitalisme sebagai sistem hidup dan membiarkan para penjaganya tetap berkuasa tentu bukanlah pilihan logis. Jika ini terjadi, jangan harap berbagai permasalahan TKI yang akarnya adalah kemiskinan ini bisa diselesaikan dengan tuntas. Kaum perempuanpun akan tetap terhinakan dan menjadi korban kebusukan kapitalisme sebagaimana juga laki-laki. Mereka akan selalu berada dalam kondisi dilematis dalam menjalankan peran-peran mereka. Padahal, Allah SWT telah tetapkan kedudukan mereka dalam posisi yang mulia sebagai ummu wa rabbatul bait, ibu dan pengatur rumahtangga, penyangga kemuliaan generasi umat dan arsitek peradaban Islam di masa depan.

Terlebih persoalan TKI hanyalah sebagian kecil dari dampak penerapan sistem kapitalisme ini. Di dalam negeri, jutaan buruh menjerit karena upah yang tak sepadan dengan kebutuhan hidup mereka. Uang rakyat, malah digunakan foya-foya oleh para pejabat korup mereka, sementara itu, para penguasa berasyik masyuk dengan pemimpin para penjajah dan berkonspirasi menambah penderitaan rakyat dengan menandatangani berbagai nota kesepakatan yang mengokohkan penjajahan kapitalisme atas negeri mereka. Pada saat yang sama, para penguasa itupun membiarkan rakyatnya berjalan sendirian, menderita dan menangis sendirian dan meninabobokan mereka dengan janji-janji kosong yang tak lebih hanya untuk pencitraan semata.

Sudah saatnya umat negeri ini sadar, bahwa jalan terbaik adalah kembali ke jalan Islam. Jalan yang menjanjikan kemuliaan manusia sebagai individu maupun umat, melalui penerapan aturan Islam secara kaffah dalam wadah Khilafah Islamiyah. Aturan-aturan Islam inilah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan manusia secara adil dan menyeluruh, termasuk masalah kemiskinan berikut dampak turunannya. Dalam sistem ini, para penguasa dan rakyat akan saling menjaga dan mengukuhkan dalam melaksanakan ketaatan demi meraih keridhaan Allah. Tak ada pihak yang dirugikan, termasuk kaum perempuan.[][]

Rabu, 03 November 2010

MDGs DAN UPAYA PEMISKINAN GLOBAL


Oleh : Siti Nafidah Anshory

Tak banyak yang mengetahui, bahwa tanggal 17 Oktober merupakan hari anti kemiskinan sedunia. Momen ini dibuat sebagai bagian dari kampanye global yang dimobilisasi aliansi dunia bernama Global Call Against to Poverty (GCAP) sejak 2005 untuk mengingatkan para pemimpin negara-negara di dunia segera mewujudkan komitmen Millenium Declaration Goals (MDGs), yakni menghapus kemiskinan hingga separuh kondisi pada tahun 1990.

Sebagaimana diketahui, pada September tahun 2000, perwakilan dari 189 negara di dunia telah berkumpul di New York dalam acara KTT Millenium yang digagas PBB. Hasilnya adalah ditandatanganinya sebuah deklarasi (Millenium Declaration) yang berisi 8 poin proyek bersama sasaran pembangunan yang harus dicapai negara-negara peserta sebelum tahun 2015. Ke delapan proyek itu meliputi penghapusan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim (dengan standar penghasilan di bawah 1,25 USD/hari), pemerataan pendidikan dasar, persamaan gender dan pemberdayaan perempuan, perlawanan terhadap penyakit khususnya HIV AIDS dan malaria, penurunan angka kematian anak, peningkatan kesehatan ibu, penjaminan daya dukung lingkungan dan membangun kemitraan global untuk pembangunan. Jika dicermati, semua proyek itu bermuara pada satu target, yakni eliminasi problem besar bernama “kemiskinan”.


MDGs dan Mimpi Menghapus Kemiskinan


Apa yang disebut dalam deklarasi, realitasnya memang menjadi pekerjaan rumah bagi semua negara di dunia, terutama negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Karena itulah program-program implementasi MDGs mendapat sambutan dan dukungan berbagai ngara dimanapun. Persoalannya, mungkinkah target itu diwujudkan?

Selain menetapkan bidang-bidang apa yang harus menjadi fokus pembangunan negara peserta, KTT tersebut memang menyebutkan tentang ukuran-ukuran kuantitatif dan kualitatif dari target yang harus dicapai sebelum tahun 2015. Misal, target point 1 adalah mengurangi setengah dari penduduk miskin dan menekan jumlah yang kelaparan di dunia hingga 10 %. Target poin 2, seluruh penduduk dunia bisa mengenyam pendidikan dasar. Target poin 3, bisa mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015. Target poin 4, mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun. Target poin 5, mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan. Target poin 6, menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya. Target poin 7, mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program pengurangan hilangnya sumber daya lingkungan, mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat dan tahun 2020 mencapai pengembangan kualitas hidup 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh. Target poin 8, mengembangkan lebih jauh masalah perdagangan terbuka, sistem keuangan, utang negara miskin, kerjasama bidang farmasi, dll.

Kini setelah 10 tahun komitmen itu dicanangkan, ternyata masih banyak catatan mengenai pencapaian target-target tersebut. Di tingkat dunia, angka kemiskinan ekstrim memang diklaim menurun hingga tinggal 25%, jauh dari kondisi tahun 1990 yang mencapai angka 45%. Namun ironisnya, di saat yang sama, jumlah orang yang kelaparan dan pengidap gizi buruk justru makin besar, mendekati angka 1 milyar orang atau rata-rata 16% penduduk di negara-negara berkembang. Dua pertiga jumlah orang kelaparan itu terdapat di tujuh negara: Bangladesh, Cina, Kongo, Ethiopia, India, Indonesia dan Pakistan, sementara 40%-nya terdapat di Cina dan India. Catatan UNESCAP pada pertemuan MDGs pada September 2010 lalu bahkan menyebutkan bahwa angka kemiskinan, gizi buruk, pengangguran dan penduduk yang kesulitan akan akses sanitasi yang baik di Asia Pasifik dengan penduduk lebih dari separuh populasi dunia, pada 2015 mendatang diprediksi akan terus bertambah menyusul ancaman krisis pangan akibat pemanasan global. Bahkan prediksi ini menjadi semacam early warning bagi negara-negara tersebut untuk melakukan langkah-langkah strategis untuk merealisasikan target MDGs di sisa 5 tahun mendatang.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Pada tahun 2006 lalu, Indonesia, bersama Bangladesh, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini, dan Filipina pernah dinyatakan sebagai negara paling gagal dalam pencapaian MDGs oleh Asian Development Bank (ADB). Namun berdasarkan evaluasi pada sidang ADB mengenai pencapaian target MDGs pada September tahun 2010 ini, Indonesia dianggap berhasil di beberapa bidang target MDGs.

Sebagaimana di tingkat dunia, Indonesia memang mengklaim diri telah mampu mengejar target MDGs dengan berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga level 13,33% dari tahun sebelumnya yang nyaris mendekati angka 15%. Ironisnya, klaim ini justru bertolak belakang dengan evaluasi MDGs itu sendiri yang menilai Indonesia masih belum prestatif dalam penanganan gizi buruk, penurunan angka kematian ibu, penanganan HIV/AIDS dan penyediaan air bersih yang kesemuanya justru sangat berhubungan dengan problem kemiskinan. Untuk kasus gizi buruk dan kekurangan gizi misalnya, catatan Global Hunger Index (HGI) 2010 justru memasukkan Indonesia pada katagori “serius”, yakni di bawah level “mengkhawatirkan” dan “sangat mengkhawatirkan”. Dan data statistik memang menunjukkan, untuk kelompok balita saja, setidaknya masih ada sekitar 4,9 % balita yang jumlahnya 12% dari total penduduk Indonesia (238 juta) menderita gizi buruk di tahun 2010 ini.

Ibarat gunung es, kenyataan yang terjadi sesungguhnya jauh lebih buruk dari angka-angka tersebut. Fakta menunjukkan, tingkat kehidupan ekonomi ril masyarakat terasa makin sulit, menyusul kian meningkatnya harga-harga, terutama harga pangan dan harga bahan bakar yang membawa berbagai dampak lanjutan yang menambah beratnya beban hidup mereka. Sejalan dengan itu, persoalan-persoalan sosialpun kian meluas, mulai masalah anak terlantar, anak dan keluarga jalanan, kriminalitas, ancaman krisis pangan, dll. Sehingga klaim keberhasilan pencapaian target-target MDGs baik di tingkat dunia maupun di level Indonesia seakan tak menemukan buktinya. Jauh panggang dari api!

Jika kita mengkritisi perspektif yang dibangun MDGs mengenai apa yang disebut dengan “kemiskinan”, hal ini sebetulnya bisa dipahami. Selain perhitungan melulu didasarkan pada angka rata-rata dan bersifat agregat (bukan individu per individu), standar yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan pun memang tidak manusiawi, bahkan manipulatif. Bagaimana tidak? MDGs hanya fokus pada upaya pengentasan orang-orang yang berpenghasilan di bawah 1,25 USD/hari. Sementara di atas itu, tidak menjadi target MDGs. Padahal standar kemiskinan versi World Bank adalah 2 USD/hari. Inipun masih sangat jauh dari standar kemiskinan di Eropa yang 30-35 USD/hari. Adapun di Indonesia, standar yang digunakan jauh lebih tidak manusiawi lagi, yakni Rp. 211.000/kap/bln. Artinya, di Indonesia, orang yang berpenghasilan Rp. 212.000/bulan sudah tidak dikatagorikan miskin lagi! Padahal realitanya, sangat sulit dibayangkan dengan kondisi sekarang bisa hidup layak dengan hanya 2 USD apalagi hanya 1,25 USD per hari atau terlebih-lebih Rp. 211.000/bln. Fakta inilah yang menjawab pertanyaan, mengapa MDGs dinyatakan berhasil, sementara persoalan sosial terus meluas.


Kapitalisme dan Paradoks Cita-Cita MDGs


Adanya ketimpangan antara cita-cita MDGs dengan kenyataan sebetulnya merupakan hal yang wajar jika dikaitkan dengan situasi global yang tengah didominasi sistem kapitalisme yang melahirkan berbagai paket kebijakan neoliberal dan cenderung imperialistic-eksploitatif. Sistem inilah yang realitasnya paling bertanggungjawab atas ketimpangan sosial yang terus melebar antara negara kaya dan negara miskin dan mendistribusikan kemiskinan hampir ke seluruh negara di dunia. Sebagaimana pula, dalam konteks nasional bertanggung jawab atas terciptanya gap sosial yang besar antara si kaya dan si miskin dan atas terpeliharanya kemiskinan itu sendiri.

Berbagai data perkembangan dunia sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa globalisasi sistem kapitalisme-neoliberal memang telah berhasil mengglobalkan kemiskinan daripada kemakmuran, yang praktis bertolakbelakang dengan target MDGs. Kebijakan pasar bebas yang menjadi senjata andalan sistem kapitalisme yang diterapkan sejak pertemuan Bretton Woods 1944 dan terus dikukuhkan hingga sekarang melalui berbagai perjanjian internasional, telah menjadi alat imperialisme baru negara-negara kapitalis (baca : penggagas dan motor program-program MDGs) atas negara-negara dunia ketiga untuk menguras habis kekayaan mereka dan merampas kedaulatannya. Senjata inilah yang telah membuat milyaran rakyat negara dunia –khususnya di dunia ketiga yang sejatinya kaya raya itu-- hidup di bawah garis kemiskinan; dan membuat 54% pendapatan dunia masuk ke hanya 10% kantung orang-orang terkaya di negeri-negeri maju. Begitupun jebakan krisis ekonomi yang ‘dikelola’ AS dan resep debt swap yang mematikan ala IMF yang –bukan kebetulan—pendonornya juga adalah negara-negara kapitalis penggagas dan motor program MDGs-- telah memaksa negara-negara lemah korban krisis itu menanggung beban utang ribawi yang luar biasa besar, sementara di saat yang sama sumber-sumber alam dan berbagai asset strategis yang mereka miliki harus rela dikuasai kapitalis asing akibat fasilitasi IMF yang mewajibkan pasiennya melakukan program-program privatisasi, pencabutan subsidi, deregulasi dan liberalisasi.

Untuk kasus Indonesia, kebijakan ekonomi makro yang pro neoliberalisme dan di setir kepentingan asing semacam IMF pun jelas tidak memberikan syarat bagi kesuksesan MDGs. Bagaimana bisa angka kemiskinan dan kelaparan diturunkan jika pembangunan ekonomi sektor ril mandeg akibat kebijakan pasar bebas dan privatisasi asset-aset strategis milik rakyat? Bagaimana bisa, kualitas pendidikan, kesehatan dan daya dukung lingkungan ditingkatkan, sementara akses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan kian mahal akibat program privatisasi dan swastanisasi sektor pendidikan dan kesehatan, termasuk bidang farmasi? Bagaimana semua itu diwujudkan, sementara tanggungjawab sosial negara kian hilang akibat kebijakan anti rakyat semacam penghapusan subsidi? Bagaimana bisa, kesejahteraan rakyat ditingkatkan dan karenanya kemiskinan dihapuskan jika sumber pendapatan negara hanya mengandalkan pajak dari rakyat dan hutang luar negeri sementara kekayaan yang melimpah ruah habis dihadiahkan kepada asing melalui berbagai perjanjian yang dilegalisasi undang-undang? Jika demikian halnya, memberantas kemiskinan dengan MDGs, memang cuma mimpi di siang bolong.

Atas realita bahwa sistem kapitalistik dan neoliberal ini disetir dan dijalankan secara global oleh pemerintah negara-negara adidaya dengan menggunakan alat lembaga-lembaga internasional semacam PBB (yang justru menggagas MDGs) dan lembaga-lembaga finansial global (International Financial Institutions, IFIs) semacam World Bank, IMF, ADB (yang justru menjadi donatur program-program implmentasi MDGs), wajar jika muncul kecurigaan bahwa MDGs sejatinya hanyalah “mantel ideologi bagi kepentingan neoliberalisme” (meminjam istilah Samir Amin) sekaligus menjadi alat negara adidaya untuk melempar tanggungjawab atas dampak busuk kapitalisme yang mereka ekspor ke seluruh dunia. Wajar pula jika MDGs, ditengarai sebagai alat negara-negara imperialis itu untuk membuai negara-negara kaya tapi lemah dengan apa yang disebut “keberhasilan pencapaian target pembangunan millennium” dengan membuat standar-standar yang sangat minimalis yang membuat mereka mabuk dan lupa atas penjajahan terselubung yang tengah menimpa dan menghinakan mereka selama ini. Karenanya, waspadalah![][]