INSPIRING QUR'AN :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (TQS. Ali-Imran : 133)

Selasa, 25 Januari 2011

GIZI BURUK, ANAK TERLANTAR DAN FENOMENA KEMISKINAN


By Siti Nafidah Anshory

Tak banyak yang tahu, bahwa tanggal 25 Januari merupakan Hari Gizi Nasional. Tak ada seremonial khusus yang digelar, selain beberapa acara yang digelar secara terbatas oleh ormas maupun LSM tertentu dan nyaris tanpa sorotan media.

Tentu saja, minimnya perhatian masyarakat termasuk pemerintah terhadap momen penting ini tak seminim persoalan-persoalan gizi buruk yang ril terjadi di tengah masyarakat. Bahkan tak bisa ditutup-tutupi, jika persoalan gizi buruk hingga kini masih menjadi salah satu PR besar bagi bangsa Indonesia, tak terkecuali di Jawa Barat.

Badan PBB untuk urusan pangan atau United Nation World Food Programme (WFP) mencatat, pada tahun 2009 lalu masih terdapat sekitar 13 juta anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi dan masih menjadi raport merah pencapaian target MDGs 2010. Sementara di Jawa Barat, di tahun yang sama Dinkes Provinsi Jabar mencatat, dari 3.536.981 anak balita yang ditimbang melalui kegiatan posyandu, 380.673 orang di antaranya (10,8%) termasuk dalam kategori gizi kurang, dan 38.760 anak di antaranya (1,01%) divonis menderita gizi buruk.

Memang agak sulit untuk memperoleh data aktual dan valid tentang kasus-kasus tersebut. Namun data yang ada ditengarai hanya menggambarkan fenomena gunung es. Bisa dipastikan kasus-kasus yang terjadi sebenarnya jauh melampaui yang tertulis di atas kertas. Setidaknya, banyaknya kasus pengidap gizi buruk di berbagai daaerah yang terekam oleh media menunjukkan hal tersebut.

Tentu saja, kasus gizi buruk bukanlah satu-satunya persoalan yang wajib diwaspadai dan harus menjadi perhatian kita bersama. Ada banyak daftar persoalan yang juga menuntut perhatian karena menyangkut nasib bangsa ke depan. Persoalan anak terlantar –termasuk anak jalanan—juga tak kalah fenomenal, terutama setelah banyak kasus seputar rentannya kehidupan mereka terblow up ke permukaan, seperti kasus pencabulan, merebaknya seks bebas, aborsi dan AIDS, bahkan kasus-kasus penculikan anak dan pembunuhan yang mengancam kehidupan mereka. Secara kuantitatif, jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS PA) dari Departemen Sosial tahun 2009 misalnya menyebutkan, jumlah anak telantar di Indonesia mencapai 3,4 juta anak. Satu tahun berikutnya (2010) bertambah 2 juta anak menjadi 5,4 juta dan hampir 10%nya ada di Jawa Barat.

Masalahnya, persoalan ini ternyata berjalin berkelindan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang memang belum bisa dikatakan baik dan merata. Hingga akhir tahun 2009 , dengan standar penghasilan per kapita rata-rata sebesar US $ 1,55 per hari sebagai pembatas miskin-tidak miskin (versi BPS), tercatat masih ada sekitar 14,1 % penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini –meski memunculkan kontroversi—sempat diklaim terus menurun oleh pemerintah di tahun 2010 hingga menjadi 13,4 %. Sedangkan di Jawa Barat, hingga akhir Juli 2009 masih terdapat sekitar 11,96 persen dari 42 juta jiwa yang terkatagori miskin dengan tingkat daya beli yang rendah. Bayangkan jika standar penghasilannya dinaikkan agar terlihat lebih ‘layak’.

Dari sisi kualitas, derajat kemiskinan yang dialami masyarakatpun sudah sangat mengenaskan an tentu berdampak pada kasus-kasus lain semisal gizi buruk dan anak terlantar. Terus melambungnya harga-harga pangan dan bahan bakar telah memaksa keluarga-keluarga miskin berdaya beli sangat rendah bertahan dengan cara apapun yang mereka bisa. Alih-alih berpikir tentang kecukupan gizi, yang penting ada yang bisa mengganjal perut mereka. Ada yang menyelingi kosumsi beras dengan tiwul atau nasi aking, ada yang meminta sisa-sisa nasi atau kerak nasi dari tetangga, atau benar-benar bertahan hanya dengan mengkonsumsi tiwul atau nasi aking saja. Kasus 6 orang anggota keluarga yang meninggal gara-gara makan nasi tiwul di Jawa Tengah kemarin cukup untuk menunjukkan seberapa mengenaskan potret kemiskinan yang terjadi di negeri kita.

Benar bahwa kemiskinan bukanlah akar masalahnya. Namun demikian, kemiskinan inilah yang ditengarai menjadi kontributor utama merebaknya kasus-kasus di atas. Dimana karena miskin, masyarakat tak bisa memenuhi hak mereka dan anak-anak mereka untuk mendapatkan jaminan ketersediaan pangan, papan, kesehatan dan pendidikan yang berkualitas sebagai bekal membangun masa depan mereka. Alih-alih berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa, bertahan hidup pun betul-betul butuh perjuangan.
Ironisnya, kondisi seperti ini tak seharusnya terjadi di negeri berlimpah kekayaan alam ini. Terlebih secara kultur, rakyat Indonesia sesungguhnya bukanlah manusia-manusia malas yang tak mau bekerja dan berusaha mencari penghidupan yang layak. Tengoklah pekerjaan informal yang tiba-tiba bermunculan di tengah krisis dan diklaim pemerintah sebagai indicator menurunnya angka pengangguran yang padahal tak ada kaitannya dengan hasil kerja mereka. Gelas plastic bekas yang tiba-tiba disulap menjadi mainan anak-anak, pedagang jajanan murahan yang makin banyak, pengamen dan pemulung, bahkan para pengemis yang kian memenuhi jalan hingga ke desa-desa. Semua itu menunjukkan daya juang yang tetap dimiliki bangsa ini di tengah kesulitan hidup yang mencekik mereka.

Persoalannya adalah, bangsa ini tak seharusnya miskin, dan anak-anak merekapun tak selayaknya kehilangan masa depan, jika saja kekayaan yang melimpah ruah diurus dengan benar demi kesejahteraan mereka dan pemerintah pun menerapkan kebijakan yang membela kepentingan rakyatnya, bukan malah menerapkan kebijakan neolib yang memihak kapitalis asing dan kapitalis pribumi yang rakus dan hobi merampok harta rakyat mereka. Tengok saja, keberadaan UU Migas, UU SDA, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal yang keseluruhannya mengandung semangat liberalisasi dan privatisasi ala kapitalisme neoliberalisme, justru menjadi jalan bagi asing dan segelintir kapitalis negeri ini untuk menguasai asset-aset strategis milik rakyat. Tak heran jika nyaris 90 % ladang minyak kita dikuasi perusahaan asing, semetara rakyat harus antri minyak dan listrik milik mereka sendiri dan membelinya dengan harga mahal. Ladang emaspun dikuras habis; tiap hari sejak tahun 1969 tak kurang dari 102 kg emas di diproduksi perusahaan tambang Freeport, sementara di pihak lain, rakyat Indonesia khususnya Papua banyak yang mati kelaparan dan mewarisi kerusakan lingkungan yang sangat parah. Tak cukup dengan itu, kebijakan anti subsidi dan liberalisasi komoditas panganpun membuat rakyat termasuk para petani tak bisa meningkatkan taraf hidupnya selain tetap bertahan agar tak jatuh lebih miskin lagi.

Tentu saja kondisi ini tak bisa dibiarkan berlangsung lebih lama lagi. Perselingkuhan penguasa dengan para pemilik modal besar dan pihak asing harus segera diakhiri. Berbagai kesepakatan, undang-undang dan kebijakan lain yang nyata-nyata telah merugikan rakyat banyak dan anti penyelamatan generasi harus segera dicabut. Dan ini hanya mungkin dilakukan jika ada perubahan paradigmatik dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Senyatanya Indonesia, bukan hanya butuh orang yang baik dan jujur, tapi juga sistem yang benar. Dan Islam menawarkan itu, yakni sistem yang tegak diatas asas yang benar yang lahir dari kesadaran tentang hakekat penciptaan dan pasti akan melahirkan sistem hidup yang benar yang sesuai tujuan penciptaan (fitrah) itu. Sistem yang ada selama ini diterapkan–yakni sistem kapitalisme liberalisme yang tegak di atas asas sekularisme—memang tak sesuai fitrah manusia, karena di buat dan diciptakan oleh akal manusia yang lemah dan terbatas. Sistem ini justru disetting untuk menumbuh suburkan kedzaliman; yang meniscayakan orang-orang baik dan benar terwarnai sistem rusak atau justru tersingkir ke pinggiran.

Karenanya berharap Indonesia berubah tidak mungkin jika tanpa perubahan sistem; ibarat pohon busuk, ganti mulai akar hingga ke daun. Dan cara ini bisa ditempuh melalui revolusi sosial yang lahir dari kesadaran berpikir ideologis dan dilakukan tanpa kekerasan. Dan dengan cara ini, mimpi menyelamatkan generasi akan bisa diwujudkan.[]

Minggu, 23 Januari 2011

MUHASSABAH LIL HUKAAM :


Rangkaian Aksi Masirah HTI
Mengingatkan Kewajiban & Urgensi Penegakkan Syari'ah
Melalui Sistem Khilafah


Minggu, 23/01/2011 10:32 WIB
detiknews.com, Dede Rosyadi
Kritik Pemerintah, Ribuan Massa HTI Gelar Aksi Damai Depan Istana Negara

Jakarta - Sekitar 3 ribu orang anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan aksi damai di depan Istana Negara. Mereka mengkritik pemerintah yang dianggap gagal dalam bekerja.

Pantauan detikcom, Minggu (23/1/2011), massa yang telah berkumpul sejak pukul 09.00 WIB di depan pintu Monas. Mereka lalu melakukan long march menuju Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

"Kami menuntut pemerintah untuk mengganti sistem kepemerintahan kapitalis menjadi syariat Islam," kata Norman, salah satu massa HTI yang ikut dalam aksi.

Mereka juga menuding negara gagal memberantas korupsi, mafia pajak. Pemerintah juga gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dari ribuan massa tersebut, kebanyakan peserta adalah perempuan dan ibu-ibu yang membawa serta anaknya berunjuk rasa. Para massa perempuan menggunakan baju hitam dan kerudung putih sementara para prianya menggunakan baju hitam dan peci. Beberapa di antaranya membawa bendera HTI dan poster.

Aksi damai yang dilakukan HTI tidak membuat macet jalanan. Hanya saja puluhan pengguna sepeda yang ingin masuk ke Monas sempat berhenti karena menunggu massa yang masih memenuhi area depan Monas.

Terlihat pula banyak pedagang keliling yang berjualan di sekitar lokasi aksi. Sebanyak 30 aparat polisi diturunkan untuk berjaga-jaga dalam aksi tersebut. Aksi damai yang dipimpin oleh Ustadz Agus ini rencananya akan berakhir pukul 12.00 WIB. (feb/fay)

---------
vivanews.com
5.000 Aktivis Hizbut Tahrir Demo Istana
Massa Hizbut Tahrir menggelar aksi damai di depan Istana Presiden.

Minggu, 23 Januari 2011, 12:34 WIB
Ismoko Widjaya, Ajeng Mustika Triyanti

VIVAnews - Sekitar 5.000 orang dari Hizbut Tahrir Indonesia menggelar unjuk rasa damai di depan Istana Presiden. Massa Hizbut Tahrir menyatakan bahwa negara gagal menyejahterakan rakyat.

"Aksi ini juga dilakukan di daerah lain juga. Kemarin Makassar, besok Banjarmasin," kata Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia, Rohmat S Labib, kepada VIVAnews.com di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu 23 Januari 2011.

Aksi yang diawali dengan long march dari patung kuda menuju Istana ini berasal dari massa berbagai daerah, terutama kawasan Jabodetabek.

Aksi ini adalah bentuk seruan kepada pemerintah, tokoh dan semua lapisan masyarakatdan bahwa negara ini dinilai juga gagal memberantas korupsi dan mafia hukum. "Dan yang paling penting adalah gagal mendapatkan ridho Allah," kata Rohmat.

Dalam aksinya, massa membentangkan spanduk bertuliskan "Negara Gagal Sejahterakan Rakyat", "Selamatkan dengan Khilafah", "Negara Gagal Berantas Mafia Hukum".

Menurut Rohmat, kegagalan itu disebabkan beberapa hal. Antara lain, kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi. "Tinggalkan semua sistem yang melibatkan kegagalan itu," tegas Rohmat. Pada setiap aksinya, Hizbut Tahrir kerap mempromosikan sistem khilafah Islam, sebagai solusi aternatif bagi Indonesia dan dunia.

Aksi berlangsung di jantung Jakarta itu diisi dengan orasi, aksi teatrikal, dan nasyid. Karena libur akhir pekan, situasi lalu lintas di seputar rute aksi lebih lengang dari hari biasa.
• VIVAnews

-----------

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali mengkritisi kinerja Pemerintah dengan menggelar aksi demo di depan Istana Negara, Ahad (23/1).

"Kami sangat prihatin terhadap kinerja Pemerintah yang cenderung gagal menjalankan fungsi-fungsi dasarnya," kata juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto.

Ia mengemukakan, pemerintah telah gagal menjalankan fungsi dasarnya untuk mensejahterakan rakyat, melakukan penegakan hukum, menjaga aset kekayaan negara dan lainnya. "Masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di garis kemiskinan, meski angkanya menunjukkan penurunan," ujarnya.

Tak hanya itu, lanjut Muhammad, Pemerintah juga gagal melakukan penegakan hukum. "Bagaimana bisa ada 148 kepala daerah yang terindikasi korup, belum lagi keterlibatan aparat hukum yang juga korup," tuturnya.
"Kasus korupsi melahirkan korupsi baru melalui mafia hukum, yang bisa mengatur kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan pengacara," tutur Muhammad.

Negara juga gagal melindungi moralitas rakyat. "Banyak survei yang menggambarkan pelajar dan mahasiswa yang melakukan hubungan pranikah," kata Muhammad menambahkan.

Ia menggambarkan, 51 persen pelajar di Jabodetabek terlibat seks bebas, begitu pun di Bandung (52 persen), Surabaya (54 persen), dan Medan (52 persen). ''Pemerintah gagal pula melindungi kekayaan rakyat berupa minyak dan gas, barang tambang, maupun lainnya yang lebih banyak dikuasai pihak asing,'' ucapnya.

Aksi unjuk rasa itu diikuti sekitar 8.000 orang HTI dari Jabodetabek. Mereka datang dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Unjuk rasa juga diikuti kaum ibu yang membawa bayi dan balita. Demo diisi dengan orasi menggunakan dua mobil bak terbuka lengkap dengan perangkat sound system. Para pengunjuk rasa juga membentangkan spanduk dan pamflet.
Red: Didi Purwadi
Sumber: Antara

------------
moitorindonesia.com
Ribuan Massa HTI Menuntut Ganti Kapitalisme dengan Syari’at Islam

Sunday, January 23, 2011, 15:47

Lagi, ribuan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) turun ke jalan, mengkritik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Mereka mengatakan pemerintahan neoliberalisme ini gagal menjalankan tugas-tugas negara. Bahkan sengaja menumpuk dan tidak menyelesaikan kasus-kasus mafia hukum yang belakangan ini memuakkan masyarakat.

“PEMERINTAH gagal mengemban tugas-tugasnya. Kebijakan ekonomi neoliberalisme menjadi penyebab kompleksnya masalah bangsa. Karena itu, pemerintah harus mengganti sistim kapitalis menjadi pemerintahan yang menerapkan syari’at Islam,” kata Norman, salah satu massa aksi damai HTI di Jakarta, Minggu (23/01)

Meski pun diikuti ribuan massa, aksi HTI ini merupakan aksi damai yang digelar di depan Istana. Massa berkumpul sejak pukul 09.00 WIB di depan pintu Monas. Kemudian mereka melakukan long march menuju Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Dalam pentauan Monitorindonesia.com, tak seorang pun yang terlihat melakukan tindakan anarkis dalam aksi ini. Aksi HTI ini juga tidak membuat kemacetan jalan. Hanya saja puluhan pengguna sepeda yang ingin masuk ke Monas sempat berhenti, karena menunggu massa aksi yang masih memenuhi area depan Monas.

Dari ribuan massa HTI tersebut, kebanyakan peserta adalah perempuan dan ibu-ibu yang membawa serta anaknya berunjuk rasa. Para massa perempuan menggunakan baju hitam dan kerudung putih, sementara para prianya menggunakan baju hitam dan peci.

Beberapa di antara massa aksi membawa bendera HTI dan poster. Selain massa aksi, yang terlihat di sekitar lokasi aksi adalah banyaknya pedagang keliling yang berjualan.

Sementara itu, pihak kepolisain yang ditururunkan sekitar tiga puluan aparat untuk menjaga tindakan yang tidak diinginkan. Aksi damai yang dipimpin oleh Ustadz Agus ini rencananya akan berakhir pukul 12.00 WIB menuding negara gagal memberantas korupsi, mafia pajak. Pemerintah juga gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat.

■ Hurri Rauf

UMMAHAT : Aisyah bin Abu Bakar Shiddiq ra.


Aisyah ra adalah anak dari Abubakar Shiddiq, dari pernikahannya dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir Al Kinaniyah. Di rumah yang dinaungi dengan kebenaran, kejujuran dan iman inilah Aisyah dilahirkan, tepatnya di Mekkah, 7 tahun sebelum hijrah. Ia termasuk orang yang dilahirkan semasa Islam. Dari keluarga yang baik inilah, Allah menempatkan Aisyah sebagai individu yang baik pula, hingga akhirnya memiliki kedudukan yang besar di antara perempuan Islam.

Aisyah diberi julukan Ash – Shiddiqah binti Ash Shiddiq (Perempuan yang sangat jujur putrid dari orang yang sangat jujur). Ia dipilih oleh Allah sebagai istri Nabi Muhammad sa. Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Saya bermimpi bermimpi melihatmu dua kali atau tiga kali, malaikat datang membawamu pada sehelai kain sutera, lalu malaikat itu berkata kepadaku : Ini adalah istrimu. Maka saya membuka kain penutup mukamu dan ternyata engkaulah orangnya. Maka saya berkata : Kalau hal ini dari Allah, maka Dia pasti akan meluluskannya (HR Bukhari dan Muslim). Terhimpun dalam dirinya ilmu dan keutamaan, yang menjadikan dirinya sebagai sosok yang harum dalam perasaan, karena ia telah meninggalkan jejak yang diberkahi di dunia ini.

Berkaitan dengan ketinggian ilmunya, para shahabat dan tabi’in mengomentarinya, Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorangpun yang lebih mengerti tentang sunnah Rasul yang lebih mengena pendapatnya, lebih tahu tentang ayat Al-Qur’an yang turun, serta lebih mengerti tentang hal-hal fardhu, selain Aisyah.” Ibnu Abdil Bar mengatakan, “Aisyah memiliki pengetahuan yang tinggi dalam bidang tafsir, hadits, fiqh juga dalam bidang pengobatan, syair dan silsilah”.
Abu Bard bin Abu Musa mengisahkan dari ayahnya, “Kami para sahabat Rasul tidaklah menghadapi suatu kesulitan lantas kami tanyakan kepada Aisyah, melainkan kami mendapatkan penyelesaian yang baik darinya.”

“Aku melihat guru-guru para shahabat besar bertanya kepada Aisyah tentang faraidh.” Shahabat Urwah bin Zubair berkata, “Aku tidak pernah mengetahui seorangpun yang lebih mengerti tentang Al-Qur’an dan ketentuan-ketentuannya, tentang halal haram, tentang syair, tentang pembicaraan dan nasab bangsa Arab selain Aisyah,” Abu Umar berkata, “Pada zamannya tidak ada seorangpun yang menandingi Aisyah dalam bidang ilmu fiqh, ilmu pengetahuan dan ilmu syair.”

Demikianlah Aisyah, perempuan yang paling mendalam ilmunya, sampai-sampai Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan pun biasa mengirim utusan kepadanya untuk menanyakan As-Sunnah. Suatu hal yang tidak dapat disangsikan lagi, karena Ash-Shiddiqah tumbuh di rumah Ash-Shiddiq, lalu hidup di rumah nubuwwah, menciduk dari sumber nabawiy yang murni, terlibat secara langsung dalam sebab-sebab turunnya Al-Qur’an. Cukuplah baginya bahwa rumahnya sebagai tempat turunnya wahyu. Sehingga tidak mengherankan jika dia merupakan perempuan yang paling mendalam ilmunya. Karena itulah ilmu dan keutamaannya menyebar ke seluruh pelosok negeri, melebihi orang lain dalam berbagai macam hal yang wajib dan sunnah.

Aisyah juga merupakan perowi hadits yang handal. Ia termasuk salah satu dari tujuh orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi saw, bahkan menerima hadits langsung dari Rasulullah. Aisyah juga memiliki kelebihan dalam menukil sunnah nubuwwah yang berupa perbuatan, lalu ia mengajarkan kepada kaum muslimin lainnya. Ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak 2210 hadits, yang terdapat dalam shahih Bukhari-Muslim sebanyak 297 hadits, yang disepakati oleh Imam Bukhari-Muslim sebanyak 174 hadits, sedang yang diriwayatkan Bukhari sendiri sebanyak 54 hadits dan Muslim sendiri 69 hadits.

Aisyah, ummul mukminin menjadi teladan dalam zuhud, kemurahan hati dan kedermawanan. Ia mencapai derajat zuhud yang tinggi karena ia lebih sering berpaling dari dunia dan menghadap kepada Allah untuk melaksanakan ibadah. Hampir tidak ada harta yang ada di tangannya walau hanya beberapa saat, melainkan dia menyalurkannya kepada orang-orang miskin. Di antara gambaran kedermawanannya, sampai-sampai dia pernah membagi-bagikan seratus ribu dirham hanya dalam satu hari, yang pada hari itu dia berpuasa tanpa menyisakan satu dirham pun di dalam rumahnya.
Dalam hal ibadahpun tidak ada yang meragukan, bahwa Aisyah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, sehingga ibadahnya dianggap sebagai gambaran sederhana dari ibadah beliau. Aisyah banyak mendirikan shalat sunnah, terutama shalat malam.

Tentang puasanya, maka ia senantiasa berpuasa ad-dahr (sehari puasa sehari tidak, seperti puasa Dawud). Aisyah adalah orang yang tidak pernah berdiam diri ketika ada shahabat yang salah dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah atau melanggar hukum syariat. Diriwayatkan dari ubaidillah bin Umair, ia berkata : Terdengar oleh Aisyah bahwa Abdullah bin Amr memerintahkan para perempuan untuk membuka sanggulnya ketika mandi besar. Maka Aisyah berkata : “Alangkah mengherankan Ibnu Amr ini, ia perintahkan para perempuan agar membuka sanggulnya ketika mandi, mengapa tidak mencukur rambutnya sekalian ? Sungguh saya pernah mandi bersama Rasulullah saw dari satu bak dan saya tidak lebih hanya menyiram kepalaku tiga kali (HR Muslim). Ia pun pernah menghadapi perempuan-perempuan Himsh sambil berkata, “Barangkali kalian termasuk perempuan-perempuan pemandian umum. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Siapapun perempuan yang melepas pakaian di luar rumah suami, berarti dia telah merusak tabir antara dirinya dengan Allah,” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Ketika Aisyah melihat perubahan mode pakaian dari sebagian perempuan sepeninggal Rasulullah, ia mengingkarinya seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang dilakukan perempuan sekarang, niscaya beliau akan melarang mereka pergi ke masjid sebagaimana perempuan-perempuan Bani Israil dahulu.”

Aisyah juga merupakan salah seorang perempuan yang tangguh dalam berjihad. Sewaktu perang Uhud, ia ikut mengangkuti air di pundaknya bagi para mujahidin, padahal usianya masih sangat muda, kurang lebih sebelas tahun. Anas bin Malik meriwayatkan, “Aku melihat Aisyah binti Abubakar dan Ummu Sulaim, keduanya menyingsingkan ujung pakaiannya. Keduanya mengangkuti geriba air di atas pundak lalu memberi minum orang-orang yang terluka. Kemudian keduanya kembali dan memenuhi geriba itu, lalu memberi minum mereka.” (Muttafaq alaih). Demikian pula ketika perang Khandak, Aisyah terjun langsung dalam perang tersebut bergabung dengan para shahabat, dimana pada waktu itu Aisyah maju mendekati front mujahidin paling depan.

Riwayat hidup Aisyah merupakan cermin bagi para pemudi, yang dari perjalanan hidup itu mereka dapat mengetahui bagaimana ia memiliki kepribadian kuat tanpa harus merendahkan diri. Mereka akan mengetahui pula bagaimana ia menjaga kebagusan lahiriah, tetapi penuh ketundukan dan kesederhanaan. Bagaimana ia memahami dan mendalami agama sehingga menjadi sumber argumentasi. Bagaimana ia memahami kata-kata agama ke dalam amalan-amalan nyata. Bagaimana ia memberikan buah pikiran dan material demi menegakan agama Allah. Bagaimana ia menata kehidupan suami istri hingga dapat membangkitkan semangat suami, yang dengan semangat ilmunya berupaya meraih kejayaan.

Aisyah telah memberikan teladan yang sangat banyak. Ia menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai keputusan dan masalah agama. Ketajaman pemikiran, keluhuran akhlak, dan kelemah lembutan sikapnya terhadap Rasulullah telah menjadikan dirinya sangat terpercaya dalam bidang hadits syarif. Ia tidak pernah ragu-ragu memberi pelayanan kepada orang-orang yang berperang dan membantu memenuhi keperluan mereka. Kelemahlembutannya dan kebaikannya terhadap orang lain menyebabkan ia mampu mengalahkan kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain. Ia juga tidak rela orang lain melakukan suatu perbuatan yang melanggar syariat Allah, karenanya ia senantiasa mengoreksi dan mengingatkan para shahabat dan senantiasa meluruskan jika terdapat pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ataupun hadits Rasulullah.

(Sumber : Buku Revisi Politik Perempuan)

Sabtu, 15 Januari 2011

MENJADI IBU ADALAH HADIAH TERBAIK



By Siti Nafidah Anshory

Ukhti …..
Banyak yang tak menyadari, bahwa seorang ibu bisa berarti banyak buat sebuah bangsa.
Seorang Ibu, tak hanya ‘bertugas’ melahirkan anak dan membesarkannya saja,
Namun di tangannya, generasi terbaik masa depan disiapkan..
Tak ada guru & sekolah yang mampu menggantikan posisi seorang ibu, seunggul dan sehebat apapun…
Karena seorang Ibu adalah guru dan sekolah sejati bagi anaknya ..
Betapa tidak?
Bukankah setiap fase perjalanan hidup seorang ibu hakekatnya adalah pelajaran terbaik bagi anaknya?
Mari kita lihat dan renungkan ….
Saat ibu shabar menjalani masa mengandung,
sesungguhnya saat itu dia sedang mengajarkan keshabaran pada anaknya.
Saat Ibu berusaha menjaga ketaatan dan memelihara daya juang di masa2 sulit itu,
sejatinya dia sedang tanamkan sikap taat dan smangat berkorban.
Saat ibu menidurkan anak di buaian & ridha menyusuinya hingga sempurna 2 tahun ke depan, sepanjang masa itulah dia ukir rasa aman dan kasih sayang.
Saat ibu shabar melatih berjalan, saat itu dia tanamkan daya juang menghadapi keadaan.
Saat ibu menangani perselisihan, disitulah dia ajarkan nilai keadilan, kejujuran, keterbukaan, empati dan tanggungjawab pada lingkungan dan umat.
Dan lebih dari itu Ukhti ….,
Tauladan ibu dalam keshalehan --termasuk hamasahnya dalam dakwah dan perjuangan Islam--
sesungguhnya merupakan pelajaran terbaik yang membuat anak paham hakekat dirinya, siapa Pencipta Yang Berhak ditaatinya serta misi apa yang diemban sepanjang hidupnya

Bukankah bisa dibayangkan, Ukhti
Jika para Ibu menyadari besarnya arti keberadaan dirinya?
Tentulah pada umat ini akan lahir sosok2 pemimpin yang bermental kuat, berdaya juang, dan memiliki segala sifat baik yang diperlukan sebagai seorang pemimpin,
Dan jika para Ibu mengerti misi besar yang diembannya,
tentu sebaliknya,
tak kan lahir para pemimpin bermental lemah, inferior, bengis dan tak bertanggungjawab terhadap rakyat seperti yang terjadi di masa penuh fitnah ini.

Jika demikian halnya Ukhti,
Hingga kapan kita abai atas hadiah terbaik dari Allah ini?
-- MENJADI SEORANG IBU --

Jumat, 14 Januari 2011

UMMAHAT : Khadijah binti Khuwailid ra., sosok wanita sempurna


Beliau adalah salah satu istri Rasulullah saw dan termasuk ke dalam orang-orang yang pertama masuk ke dalam Islam,; Wanita pertama yang membenarkan dan memeluk risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw untuk seluruh umat manusia. Hidupnya dihiasi dengan kebajikan serta jiwanya mencerminkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw pernah bersabda tentang istri yang sangat dicintainya ini : “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Ia membenarkan ajaranku ketika orang-orang mendustakan. Dan ia adalah perempuan yang selalu membantu perjuanganku dengan harta kekayaan ketika orang-orang tiada mempedulikan." (HR Ahmad)

Khadijah lahir dari keluarga Bani Hasyim dari kalangan keluarga yang mulia, jujur dan pemimpin. Besar dikalangan keluarga mulia, terdidik dengan akhlak yang terpuji, teguh dan cerdik. Kaumnya memberikan julukan baginya Al-Thahirah yang berarti ‘Yang Suci’ karena sangat baik akhlaknya dan sopan santunnya, seakan-akan tanpa cacat.

Beliau juga dikenal sebagai perempuan cerdas dan piawai dalam bidang perdagangan, sukses dalam menjalankan roda-roda usahanya dan sanggup membiayai hampir seluruh dakwah Rasulullah saw. Sekalipun demikian beliau tetap rendah hati, berakhlak mulia dan menjaga kesuciannya. Beliau juga tetap menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, serta tetap menghormati dan mentaati Rasulullah saw sebagai suaminya meski usianya lebih tua 15 tahun dari Rasulullah. Dari ibu yang mulia inilah lahir anak perempuan yang mulia pula Fathimah Az-Zahra.

Sebagai istri tak ada satupun orang yang mencela Kahdijah, bahkan justru pujian yang datang untuknya. Khadijah mendampingi Rasulullah saw hampir seperempat abad lamanya. Hidupnya dilalui dengan penuh kesetiaan dan kebajikan. Dan sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya, beliaupun mendampingi Rasulullah dalam suka dan duka.

Ibnu Ishaq menyebutkan dalam Al-Siyar wal Maghazy ; Khadijah adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan apa yang beliau sampaikan, sehingga dengan begitu Allah meringankan beban dari Rasulullah saw. Rasulullah tidak pernah mendapat hal-hal yang tidak disukai dari ucapan-ucapan Khadijah, baik penolakan terhadap beliau atau pendustaan yang membuat Rasulullah bersedih hati, bahkan justru Allah memberikan jalan keluar melalui Khadijah, dimana jika Rasulullah kembali kepada Khadijah, maka ia akan menegaskan hati Rasulullah dan meringankan bebannya.

Khadijah tahu betul bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah, Nabiyullah, laki-laki pilihan yang diturunkan oleh Allah swt untuk seluruh umat manusia, sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira untuk seluruh umat. Khadijahlah orang yang senantiasa berperan dalam menenangkan ketakutan Rasulullah saw ketika wahyu turun kepada beliau. Ketika turun wahyu yang pertama, yaitu QS Al-Alaq 1-5, Rasulullah pulang dari tepatnya bertahanuts (menyendiri dan beribadah) di gua Hiro dalam keadaan terguncang gemetaran. Lalu Khadijah menyelimuti Rasulullah, hingga ketakutan beliau mereda. Beliau Saw bersabda kepada Khadijah , “Aku takut atas diriku.” Lalu Khadijah berkata : “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menelantarkan engkau, karena engkau suka menyambung hubungan kekerabatan, membawakan beban, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu dan menolong orang yang melakukan kebaikan”. Dalam kisah yang lain pun diungkapkan bagaimana Khadijah menenangkan Rasulullah saw ketika wahyu turun, yakni ketika Muhammad saw baru saja melihat Jibril, “Terimalah kabar gembira wahai anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang diriku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap engkau menjadi nabi Umat ini”

Dari kisah tentang Khadijah r.a di atas jelas sekali bahwa apa yang dilakukannya kepada Muhammad saw, bukanlah sekedar perannya sebagai seorang istri yang sangat berbakti kepada suaminya. Tapi lebih dari itu, Khadijah sesungguhnya telah menjalankan peran politiknya sebagai seorang muslimah, dimana dengan ketajaman dan kepekaan akalnya beliau mampu mencermati secara mendalam masalah wahyu dan risalah yang sampai kepada Rasulullah saw. Di samping itu kepeduliannya yang tinggi tentang berbagai hal yang ada di sekitarnya menunjukan tingkat kesadaran politik yang tinggi. Begitu pula, pendampingan Khadijah dan upaya yang dilakukan untuk menenangkan Rasulullah saw bukan sekedar dorongan sebagai istri atau ibu dari anak-anaknya, tetapi dorongan sebagai bagian dari umat Islam karena dengan kemampuan berfikir yang dimilikinya Khadijah tahu benar bahwa apa yang terjadi pada diri Muhammad saw bukan semata-mata karena keberadaannya sebagai suami atau ayah dari anak-anaknya, tetapi sebagai seorang utusan Allah dalam membawa wahyu dan risalah-Nya untuk ummat manusia yang ada pada masa itu hingga manusia di masa yang akan datang. Hal ini tidak lain sebagaimana apa yang dipahami dari perkataan Waraqah, anak pamannya, ketika Khadijah mencari tahu tentang peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah saw, yaitu : “Wahai Khadijah, kalau engkau masih percaya kepadaku, sesungguhnya telah datang ‘an-nams al-akbar’ kepadanya. Dia adalah nabi umat ini. Maka katakan kepadanya agar dia teguh hati.

Kisah lain yang akan lebih menguatkan bagaimana Khadijah sangat berperan dalam mendukung perjuangan Rasulullah saw dalam dakwah Islam adalah ketika Rasulullah saw bangkit menyampaikan risalah, tampil menyeru kaumnya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, maka mereka mendustakan beliau dan melecehkan dakwah beliau, sementara Khadijah justru sebaliknya menjadi pendukung beliau dalam menghadapi pelecehan tersebut. Dia berbuat apa yang dapat diperbuatnya untuk meringankan beban Muhammad saw, sampaipun akhirnya terjadi pemboikotan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah Saw dan para shahabat dan kerabatnya.

Dalam peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy membuat perjanjian tertulis yang isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib secara total. Mereka tidak memiliki dan menerima tawaran nikah dari kaum muslimin, tidak menjual dan membeli apapun kepada dan dari kaum muslimin, dengan tujuan agar kaum muslimin menaruh ketidak percayaan kepada Rasulullah saw, yang akhirnya kaum muslimin meninggalkan Rasulullah saw dan meninggalkan Islam. Jika ini terjadi, Muhammad akan terkucil sendirian dalam kondisi seperti itu, dan mereka berharap Muhammad akan mencampakkan dakwahnya .Tetapi apa yang akhirnya terjadi ?

Pemboikotan itu tidak memberi pengaruh sedikitpun bagi para shahabat maupun Rasulullah dan para pengikutnya, sebaliknya semakin mempekokoh keimanan mereka, kekuatan dan keteguhan orang-orang mukmin yang menyertainya tidak surut. Termasuk ummul mukminin, Khadijah binti Khuwailid ia senantiasa berada di samping Muhammad saw, memberikan pembelaan terhadap beliau, bergabung bersama Rasulullah dalam memikul penderitaan karena sikap kaumnya dengan jiwa yang ridha dan sabar, hingga akhirnya setelah + 3 tahun pemboikotan tersebut dicabut oleh orang Kafir Quraisy sendiri.

Tidak berapa lama setelah berakhirnya pemboikotan, dalam usia 65 tahun Khadijah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tentu saja Rasulullah Saw merasa kehilangan atas meninggalnya Khadijah, seorang istri yang dengan setia mendampinginya dalam suka dan duka, seorang ibu yang dengan pemahaman yang tinggi mampu menghasilkan generasi yang berkualitas prima, seperti Fatimah Az-Zahra dan sebagainya, serta seorang muslimah yang dengan pengorbanan yang luar biasa mendukung terhadap perjuangan dakwah Rasulullah saw, bahkan berperan aktif dalam perjuangan menyebarkan dakwah Islam ke tengah-tengah umat manusia.

(Sumber : Buku Revisi Politik Perempuan)

Selasa, 11 Januari 2011

MAKIN BANYAK WANITA INGGERIS MENJADI MUSLIM


Sumber : antaranews.com, Senin 10 Januari 2011)

London (ANTARA) - Lebih dari 100.000 wanita Inggris kulit putih yang berusia rata-rata 27 tahun memilih menjadi Muslim, angka tersebut dua kali lipat dalam 10 tahun dengan rata-rata usia 27 tahun karena mereka muak dengan konsumerisme dan imoralitas.

Koran terkemuka Inggris Daily dalam laporannya minggu ini yang ditulis Jack Doyle menyebutkan terjadi gelombang pada wanita kulit putih muda mengadopsi agama Islam, tahun lalu tercatat sekitar 5.200 orang di Inggris memilih Islam diantaranya adik ipar mantan PM Inggris Tony Blair.

Tahun lalu Lauren Booth, saudara ipar mantan Perdana Menteri Tony Blair, menarik perhatian luas ketika ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.

Pengamat masalah Islam di Inggris, Hakimul Ikhwan, S.Sos., MA kepada koresponden Antara London, Senin menyebutkan fenomena bertambahnya jumlah Muslim di Inggris, terutama White British ke Islam tidak bisa dilepaskan dari tingginya intensitas dan masifnya publikasi mengenai Islam.

Menurut dosen di Universitas Gajah Mada yang sedang mengambil Phd di Essex University, mengatakan jumlah masyarakat Muslim sejak beberapa dekade terakhir dan semakin meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.

Hakimul Ikhwan mengatakan menarik untuk melihat alasan sebagian wanita yang convert adalah karena Islam "membebaskan" mereka dari konsumerisme dan immoralitas dengan penggunaan burqah, jilbab, kerudung dan busana muslimah sejenisnya.

Lagi-lagi berbasis spirit demokrasi dan individualitas, wanita berbusana muslimah banyak ditemui di berbagai kota di Inggris. Para immigran bisa dengan bebas berbusana muslimah.

Kondisi ini menyajikan "cermin" bagi wanita Inggris menjawab problem konsumerisme dan kebiasaan pesta di kalangan muda Inggris, ujar sarjana sosiologi UGM Yogjakarta.

Justru diminati

Hakimul mengungkapkan muncul pertanyaan, mengapa Islam yang cenderung tampil dengan wajah negatif (radikal destruktif) justru diminati atau menarik "White British untuk Convert ke Islam" Fenomena ini bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Menurut Hakimul Ikhwan, yang sedang melakukan riset S3 nya Islamifikasi di Inggris dan Barat, pertama, prinsip-prinsip Barat yang menekankan pada kreativitas dan kebebasan berfikir individu memungkinkan individu-individu di Inggris untuk mempelajari (mengkaji) lebih dalam mengenai Islam.

Informasi yang sangat luas mengenai Islam bisa didapat melalui internet, ujar dosen sosialogi UGM, menambahkan selain itu, diskursus mengenai Islam dan masyarakat Muslim menjadi topik kajian dan penelitian yang semakin diminati di perguruan tinggi.

Ketika Islam dikaji oleh individu dalam kerangka akademik/ intelektual, maka sesuai dengan prinsip-prinsip keilmuan (scientific Barat) harus mengakses beragam sumber pemikiran (school of thoughts) dan mazhab yang beragam (pros and cons).

Hal ini memungkinkan tampilnya kekayaan tafsir, hikmah (wisdom), dan humanity dalam Islam. Islam yang nonradikal, damai (peaceful), moderat dan pluralis semakin menarik perhatian masyarakat Barat, ujar salah satu pendiri MASIKA ICMI Yogyakarta, dan ketua Indonesian Moslem Association in Nottinghamshire-Leicestershire, UK .

Kecenderungan ketertarikan terhadap Islam yang antikekerasan dan moderat bisa dilihat misalnya dalam wacana dialog multiagama (multi-faiths dialog) serta upaya untuk "mengarusutamakan" (mainstreaming) Islam yang non-Timur Tengah.

Dikatakannya dalam konteks inilah, Indonesia menjadi primadona.

"Wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran dan sadar gender, misalnya menjadi "topik" utama yang diangkat oleh mantan PM Tony Blair dan Presiden AS Barrack Obama dalam kunjungan mereka ke Indonesia," ujar Hakimul Ikhwan, yang meraih Master di bidang Politics dan Social Policy di University of Nottingham, Inggeris.

Sebagai bagian dari masyarakat Muslim Indonesia, memiliki kesempatan besar yang luar biasa untuk menjadikan ekspresi Islam Indonesia sebagai "mainstream" atau alternatif dari ekspresi Islam Timur Tengah yaitu Islam adalah satu dalam kaitannya dengan Al-Qur`an, tetapi ekspresinya berbeda-beda di Timur Tengah, India Pakistan dan Indonesia.

Selain faktor publisitas dan discourse Islam yang menguat di tingkat global, faktor lain yang juga sangat menentukan meningkatnya conversion ke Islam di kalangan White British adalah meningkatnya jumlah para imigran Muslim di Inggris seperti dari Pakistan, Turki, Bangladesh, Timur Tengah, dan Asia seperti Indonesia dan Malaysia.

Banyaknya imigran muslim tersebut membuat simbol-simbol Islam tersebar luas dan dapat ditemui di berbagai penjuru kota. Misalnya, Butcher Halal atau halal meat, pizza halal, dan lain sebagainya seperti banyaknya wanita di jalan yang mengenakan jilbab.

Istilah "halal" telah menjadi "ikon" publisitas yang sangat efektif tentang Islam. Penjualan daging halal di supermarket seperti Tesco, Asda, dan Sainsburry, misalnya, membuat Menteri Pertanian Inggris harus menjelaskan kepada publik tentang pengertian daging halal atau halal meat.

Dalam perkembangannya, halal meat tidak semata soal Islam, tetapi juga soal makanan yang sehat Healthy meat/food, demikian Hakim.

Sabtu, 08 Januari 2011

PERLAKUAN NEGARA KHILAFAH TERHADAP PEREMPUAN


(Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Mispersepi Barat terhadap Nasib Perempuan dalam Negara Khilafah

Hingga saat ini masih sering dijumpai adanya kebingungan di kalangan masyarakat Barat mengenai pembagian peran antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam kehidupan. Pada masa lalu, kaum perempuan mempunyai kedudukan yang lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki, dan bahkan pernah disejajarkan dengan hewan atau dipandang sebagai “makhluk yang tidak memiliki ruh”, atau dianggap hanya sebagai hak milik kaum laki-laki. Sementara pada masa sekarang ini, berbagai pergerakan dan organisasi perempuan berjuang melawan status quo untuk mendapatkan status dan hak-hak yang sama sebagaimana kaum laki-laki.

Sabtu, 01 Januari 2011

MUTIARA UMAT : Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah ra.


Sosok Muslimah Cerdas dan Tangguh

Asma’ masuk Islam bersama para perempuan yang lebih dahulu masuk Islam dari kalangan Anshor melalui tangan Mush’ab bin Umair. Dia seorang wanita suci yang ideal dalam iman, ilmu dan kesabaran, serta memiliki keutamaan yang banyak. Ditambah lagi ia termasuk perempuan yang meriwayatkan hadits Rasulullah saw. Dia termasuk perempuan yang berbaiat dan mujahidah yang hidup pada permulaan Islam di Madinah. Kelebihan lain yang dimilikinya adalah bahwasanya Asma’ binti Yazid merupakan seorang orator, singa podium dari kalangan perempuan mukmin. Karenanya bukan suatu hal yang aneh jika ia dipercaya menjadi delegasi atau wakil kaum perempuan dalam menyampaikan permasalahan yang berhubungan dengan perempuan pada Rasulullah saw dalam majelis syuro.

Asma’ pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang mengundang decak kagum orang-orang yang mendengarnya. Sebuah pertanyaan yang dilandasi keimanan dan kerakusan untuk berbuat kebaikan semata demi keridhaan Allah, bukan karena dikuasai paham feministik yang memelihara rasa iri kepada laki-laki semata karena prestise yang materialistis. Kita simak kisahnya:

“Ya Rasulullah, aku mewakili kaumku untuk menanyakan kepada engkau. Bukankah Allah mengutus engkau untuk seluruh umat, baik laki-laki maupun perempuan. Kami beriman kepadamu dan Tuhanmu. Namun kami merasa diperlakukan tidak sama dengan kaum laki-laki. Kami adalah golongan yang serba terbatas dan terkurung. Kerja kami hanya menunggu rumah kalian (laki-laki), memelihara dan mengandung anak kalian dan tempat pemuas nafsu laki-laki (suami). Kami tidak pernah diberi kesempatan untuk melakukan seperti yang dilakukan kaum laki-laki. Kami tidak berkesempatan untuk mendapatkan pahala shalat Jum’at (karena memang tidak wajib), menengok orang sakit, mengantar dan merawat jenazah, berhaji (kecuali disertai mahrom), dan amalan yang paling utama jihad fî sabîlillâh. Ketika kalian pergi haji dan berjihad, kami bertugas menjaga harta dan anak kalian, menjahit pakaian kalian. Apakah mungkin dengan itu kami memperoleh pahala seperti amalan yang kalian lakukan ?” Mendengar pertanyaan demikian, Rasulullah saw kaget dan bangga seraya berkata kepada para shahabat yang lain, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan yang lebih baik dalam soal agama selain dari perempuan ini?” Para shahabat menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak menyangka dan berpikir bahwa perempuan itu akan bertanya sedemikian jauh. “ Maka Rasulullah bersabda, “Wahai Asma’ kau pahamilah dan nanti sampaikanlah kepada kaummu. Kebaktian kalian pada suami dan usaha mencai keridhoannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami-suami kalian.”

Jawaban yang singkat namun padat dan bermakna tinggi. Jawaban yang memberikan ketenangan bagi kaum perempuan beriman, karena kekhawatiran mereka salah dalam melangkah atau lalai dalam menjalankan aturan Allah serta karena sangat lobanya mereka untuk mendapatkan pahala dari Allah swt. Asma’ pun dengan gembira segera pulang dan menyampaikan berita gembira tersebut pada kaum perempuan. Dan mereka menerima dengan senang hati, sami’na wa atha’na.

Asma’ adalah orang yang sangat haus akan ilmu. Ia senantiasa bertanya kepada Rasulullah tentang berbagai hal hingga kepada rinciannya, sehingga ia mendapatkan kejelasan tentang apapun yang ditanyakan dan tidak ada lagi masalah yang dianggapnya rumit dan tersamar.

Di antara keluhuran perangainya, Asma’ binti Yazid adalah dalam hal hafalan dan pemahamannya tentang hadist nabi. Ia meriwayatkan hadist sebanyak delapan puluh satu hadist . Ini menunjukkan bahwa Asma’ sangat memperhatikan ilmu dan iapun sangat rajin mengunjungi Rasulullah saw dan ummul mukminin untuk bertanya tentang Islam.

Keluarga Asma’ adalah keluarga mujahid. Ayahnya Yazid bin As-Sakan Al-Anshary dan pamannya Ziyad bin Sakan Al-Anshary, adalah dua pahlawan penunggang kuda yang menjual dirinya bagi Allah, hingga mereka mati syahid dalam perang Uhud. Dalam perang Khandaq, Asma’ binti Yazid mengirimkan makanan untuk nabi Muhammad dan para shahabat, demikian pula dalam perang Khaibar dan perang Yarmuk, ia memberi makan dan minum para prajurit yang kehausan dan mengobati orang-orang yang terluka. Di samping itu, Asma’ bersama-sama dengan kaum perempuan bersiaga di garis belakang sambil terus menyemangati para prajurit Muslimin, sehingga jikapun ada prajurit yang mundur ke garis belakang, kaum perempuan mengacung-acungkan kayu, sehingga prajurit Muslim yang berniat mundur kembali maju dan memberikan perlawanannya kepada tentara Romawi. Mereka pun terus bertempur hingga Allah memberikan kemenangan dan mampu mengalahkan pasukan Romawi. Adapun di antara pahlawan perempuan tercatat di antaranya Asma binti Yazid ra. Dia terjun dalam kancah pertempuran dan berhasil membunuh sembilan orang pasukan Romawi dengan menggunakan tiang penyangga kemahnya.

(Sumber : Buku Revisi Politik Perempuan)

Kamis, 23 Desember 2010

Momentum Hari Ibu, 22 Desember 2010 "IBU INDONESIA TOLAK KAPITALISME, PERJUANGKAN SYARIAH & KHILAFAH"


Muslimah HTI Pertanyakan Kesetaraan Gender
Rabu, 22 Desember 2010 | 11:45 WIB


HTI melakukan aksi damai dalam peringatan Hari Ibu di Gedung Sate, Bandung, Jabar (22/12). (TEMPO/Prima Mulia/http://www. tempointeraktif.com)

TEMPO Interaktif, Bandung - Ratusan anggota Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Jawa Barat mempertanyakan kesetaraan gender dalam aksi memperingati Hari Ibu di depan Gedung Sate, Bandung Rabu (22/12). Ketua Muslimah HTI Jawa Barat Siti Nafidah menuding kebijakan tentang kesetaraan gender justru menyebabkan kaum ibu mengabaikan perannya sebagai pendidik generasi.

Sejumlah fakta menurut Siti telah menunjukkan hal itu. Di antaranya, data yang dirilis BKKBN menyebutkan separuh dari remaja perempuan usia 13-15 tahun mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks pra nikah, serta data yang menunjukkan 30 persen pelaku aborsi di Indonesia merupakan remaja. "Ini buat kita sebuah pertanyaan, di mana peran ibu," kata Siti.

Dia menuding, kondisi ini disebabkan sistem yang ada. Siti mengajak, di Hari Ibu ini, untuk mengingatkan lagi peran ibu sebagai pemelihara peradaban. "Yang kita butuhkan, bagaimana mengoptimalkan peran ibu, ini menyangkut kondisi masa depan bangsa," kata Siti.

Aksi ratusan perempuan itu "menggantikan" perayaan Hari Ibu yang tengah berlangsung di depan Gedung Sate Bandung. Unjuk rasa itu berlangsung di penghujung acara peringatan Hari Ibu yang di gelar pemerintah Jawa Barat yang tengah menggelar pertunjukan tari-tarian.

Ratusan perempuan itu memadati pintu masuk di depan pintu gerbang Gedung Sate. Masing-masing membawa poster kertas, di antaranya ditulisi: "Jangan Jual Ibuku Demi Devisa Negara", dan "Sibuk Berkarir=Tuntutan Kapitalisme". Di antaranya, ada yang menggelar aksi teatrikal, para ibu yang mengusung replika glondongan kayu di atas kepalanya.

AHMAD FIKRI


-------------

Rabu, 22/12/2010 12:19 WIB
Demo HTI di Hari Ibu
Single Parent Tarik Gulungan Tikar Berlabel Kapitalisme
Vita Principalia - detikBandung

Bandung - Momentum Peringatan Hari Ibu dimanfaatkan oleh 500-an muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Jabar berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Rabu (22/12/2010). Mereka prihatin dengan bergesernya peran ibu sebagai pencetak generasi muda gara-gara kapitalisme.

Hal itu mereka perlihatkan dengan menggelar teaterikal. Beberapa orang perempuan terlihat membawa gulungan tikat yang dibalut kertas bertuliskan 'kapitalisme'. Beberapa perempuan itu berkalung kertas, yang antara lain bertuliskan 'single parent', 'ibu menyusui', 'lanjut usia'.

Di belakang mereka tampak seorang perempuan berkalung 'kapitalisme' sambil memegang pecut. Ini digambarkan bahwa perempuan Indonesia saat ini tengah diperbudak kapitalisme.

"Sengaja kami gunakan momen hari ibu untuk menolak kapitalisme," ujar Ketua Muslimah DPD I HTI Jabar Siti Nafidah di sela-sela aksi. Menurutnya peran ibu harus dioptimalkan untuk menggagalkan kapitalisme.

Aksi berakhir pukul 12.00 WIB. Sebagian massa masih memegang poster bertuliskan 'wanita miskin, wanita sengsara = korban kapitalisme'
(ern/ern)

Jumat, 17 Desember 2010

“SAATNYA UMAT PEDULI IBU DAN GENERASI”


by Siti Nafidah Anshory

Peran ibu sejatinya merupakan peran yang sangat penting. Selain berperan secara biologis, ibu juga memiliki peran politis dan strategis. Sebagai madrasah pertama dan utama, di tangannyalah eksistensi dan kualitas generasi umat masa depan akan ditentukan.

Sayangnya pemahaman seperti ini kian hilang dari benak masyarakat. Serangan budaya dan pemikiran sekular-materialistik telah menjadikan peran ibu seolah tak berarti apa-apa. Sebagian ibu hanya tahu bagaimana melahirkan dan membiarkan anak besar dengan sendirinya, tanpa ruh dan apa adanya. Sementara sebagian lain, sibuk mengejar prestise atau karir sebagai simbol kebebasan dan kemandirian, seraya tak segan menanggalkan cita-cita dan kebanggaan menjadi ibu ideal bagi anak-anak mereka.

Penerapan sistem kapitalisme sekulerpun telah membuat peran ibu kian jauh dari optimal. Betapa tidak? Kebijakan ekonomi neolib yang inhern dengan sistem batil ini senyatanya telah berhasil menciptakan kemiskinan struktural dan gap sosial yang demikian lebar dan memaksa para ibu berperan lebih dari apa yang seharusnya mereka pikul. Selain harus berperan sebagai ibu dan pengelola rumahtangga, mereka pun terpaksa bekerja mencari nafkah yang tak cukup didapat para suami mereka.

Pada kondisi seperti ini, para pejuang gender malah sibuk memasang umpan mereka; menawarkan gagasan beracun bernama “keadilan dan kesetaraan gender” atau ‘pemberdayaan perempuan’ yang targetnya, melepas keterikatan kaum perempuan pada peran-peran domestik, termasuk peran sebagai ibu. Peran mulia ini mereka gambarkan sebagai peran yang ‘marginal, tak produktif dan diskriminatif’. Sehingga sebagian para ibu, seolah mendapat pembenaran atas abainya mereka akan tugas dan tanggungjawab mempersiapkan generasi masa depan.

Tak heran jika hari ini muncul generasi tanpa visi, yang dididik ibu pengganti bernama televisi dan lingkungan sekuler yang intens memapar budaya permissif, hedonis dan anarkis. Pelan tapi pasti, merekapun terinfeksi kanker peradaban yang sedikit demi sedikit membunuh masa depan mereka sehingga umatpun nyaris kehilangan pelanjutnya. Seks bebas, aborsi, narkoba, HIV/AIDS, pornografi-pornoaksi, tawuran, dan kriminalitas, menjadi hal biasa di kalangan remaja. Sementara di sisi lain, kemiskinan struktural yang tercipta di negeri kaya raya ini tak urung melemahkan fisik dan akal sebagian mereka akibat gizi buruk dan ancaman keterlantaran. Alih-alih beroleh kehidupan dan pendidikan yang layak,bahkan tak sedikit anak yang harus banting tulang menyelamatkan ekonomi keluarga mereka.

Sebenarnya kondisi ini tak akan terjadi jika para ibu menyadari peran utamanya sebagai pendidik generasi. Kondisi inipun tak seharusnya terjadi, jika umat peduli dan hidup dengan aturan Illahi yang berperspektif penyelamatan generasi. Persoalannya, hari ini kehidupan para ibu dan umat memang jauh dari ideal. Sistem pendidikan yang diterapkan, tak mampu membuat mereka cerdas untuk memahami perbedaan yang fana dan abadi, yang semu dan hakiki. Sistem ekonomi yang dijalankanpun tak mampu mewujudkan kesejahteraan yang menjamin optimalnya peran ibu. Bahkan sistem rusak ini, meniscayakan seluruh kekayaan yang dimiliki dirampok para kapitalis dalam dan luar negeri yang berkolaborasi dengan penguasa khianat di negeri ini.

Pertanyaannya, akankah kondisi buruk ini kita biarkan hingga eksistensi umat hancur berantakan? Sudah saatnya kita bangkit melakukan perubahan. Agar sebagaimana dahulu, umat ini bisa kembali tampil sebagai umat terbaik (khoyru ummah) dan kembali bangkit sebagai pionir peradaban. Caranya tidak lain dengan membina para ibu agar menyadari peran strategis-politis mereka dalam mencetak generasi unggul, yakni generasi yang bertakwa, cerdas dan berkarakter pemimpin, sesuai aturan-aturan Islam. Juga dengan membina umat agar mampu menjadi barier tangguh untuk menangkal serangan pemikiran dan budaya yang dilancarkan musuh-musuh Islam, yang hendak melanggengkan hegemoni dan menjegal kebangkitan Islam dengan melemahkan generasi mereka.

Hanya saja mencetak generasi unggul melalui optimalisasi peran ibu dan umat ternyata tak mungkin dilakukan dalam sistem sekuler yang secara genial memang rusak dan membawa kerusakan. Upaya ini justru membutuhkan sistem yang benar dan datang dari Dzat Yang Maha Benar. Yakni sistem Islam bernama al-khilafah. Khilafah inilah yang akan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan yang karenanya peran ibu dan umat dapat optimal dilaksanakan, dan generasi berkualitaspun akan bisa diwujudkan.

Disinilah urgensi dakwah yang bersifat politik ideologis. Yakni dakwah yang tidak hanya mengarah pada perbaikan kualitas individu ibu dan umat saja, namun juga mengarah pada terwujudnya sistem masyarakat Islam (khilafah Islam) yang rahmatan lil ‘alamin. Dan upaya ini tentu tak bisa dilakukan sendirian, melainkan harus ada sinergi dari seluruh komponen umat yang sudah berkesadaran, termasuk para ibu tangguh arsitek generasi unggul yang bertakwa dan terbina dengan pemikiran-pemikiran Islam.[][]

Kamis, 16 Desember 2010

BERBAHAGIALAH UKHTI, KARENA ENGKAU TELAH DIMULIAKAN ....



Ukhti Fillâh……..
Banyak yang bilang bahwa syari’at Islam tak berpihak pada perempuan.
Mereka bilang,
Bukankah kerudung dan jilbab adalah simbol pengungkungan atas perempuan?
Bukankah menjadi isteri dan ibu adalah bentuk marjinalisasi perempuan?
Lalu, bagaimana dengan pendapat ukhti?

Di banyak kesempatan mereka gembar-gembor bahwa aturan waris dan perwalian sangat diskriminatif terhadap perempuan.
Dan bahwa hak thalaq dan kebolehan poligami merupakan wujud kekerasan terhadap perempuan.
Bahkan ukhti, ketika Islam menetapkan tanggungjawab kepemimpinan ada pada laki-laki,
tak sedikit yang protes meradang.
Dan lantas menuding, bahwa Islam tak adil dan melegitimasi penindasan terhadap perempuan.
Lalu, bagaimana pula dengan pendapat ukhti?

Ukhti,
Betapa naïf ya, jika kebodohan kita menjadi dasar untuk menolak kebenaran …..?!!
Bukankah Islam datang dari Dzat Yang Menciptakan Kehidupan, Manusia; Laki-Laki dan Perempuan?
Bukankah Islam datang dari Dzat Yang Maha Mengetahui Segala Kebaikan dan Keburukan, Menggenggam Waktu; Dahulu, Sekarang dan Yang Akan Datang??
Bukankah pula, Islam datang dari Dzat Yang Maha Memiliki Segala Kesempurnaan, Yang Maha Adil dan Maha Penyayang?
Lantas, kenapa mereka pertanyakan keberpihakan aturan-aturanNya, ya Ukhti ?
Kenapa pula mereka ragukan kesempurnaan syari’atNya dalam mengatur kehidupan?

Padahal Ukhti,
Bukankah tak bisa dipungkiri lemahnya pengetahuan kita, bahkan akan diri kita sendiri?
Bukankah banyak hal yang bisa menyadarkan, betapa –siapapun- lemah dihadapan Dzat Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan?
Lantas atas dasar apa, ya Ukhti,
Sehingga dengan sombong mereka katakan bahwa manusia layak menjadi Robb semesta alam?

Ukhti…..
Barangkali benar ya,
Bahwa kejernihan berpikir dan sikap tau diri akan menghantarkan seseorang kepada ketundukan.
Dan bahwa kejernihan dan sikap tau diri pula, yang akan memastikan terhujamnya keyakinan
Bahwa syari’at adalah manifestasi Rahmat Allah atas penciptaan.
Sehingga, hanya yang bisa jernih berpikir dan tau dirilah yang bisa mencerap kebahagiaan dari pesan cinta Dzat Pencipta Kehidupan.

Ukhti…..
Sungguh, betapa ingin saya katakan,
Bahwa sudah saatnya mereka campakkan kedengkian dan kesombongan,
Sebelum satu saat mereka berhadapan dengan Dzat yang sifat-sifatNya selalu mereka nafikan.
Betapa ingin juga saya katakan,
Bahwa sudah saatnya mereka kembali ke jalan Islam, satu-satunya jalan yang menyelamatkan.
Karena senyatanya ukhti
Inilah fitrah mereka….
Dan untuk inilah mereka diciptakan.

Berbahagialah Ukhti….
Karena ukhti sudah termasuk yang tercerahkan……!!!
Dan berbahagialah Ukhti …..
Karena nyata, dengan cara ini Yang Maha Rahim menyatakan kecintaan!!!
[][][]

Rabu, 15 Desember 2010

Ummahat : Sumayyah binti Khubath ra.


Wanita Perkasa Yang Cukup Baginya Surga ...

Ia termasuk perempuan-perempuan pertama yang masuk ke dalam Islam, termasuk tujuh orang pertama yang memeluk Islam, bersama-sama dengan suaminya Yasir bin Amir bin Malik dan anaknya Ammar. Tidak lama setelah cahaya Islam menerangi Makkah, keluarga Yasir langsung memenuhi panggilan iman kepada Allah dan membenarkan Nabi Muhammad saw. Dalam keluarga ini terhimpun keutamaan kesabaran dan jihad. Dan sejak mereka masuk ke dalam Islam, mereka mendapat siksaan dari orang-orang Kafir Quraisy.

Apalagi ketika orang-orang Kafir Quraisy melihat kekokohan iman mereka yang dinilai tinggi, maka kemarahan orang-orang Kafir Quraisy semakin memuncak. Hampir setiap helaan nafas yang mereka hembuskan ditujukan untuk menyiksa orang-orang yang mengucapkan,”Rabb kami adalah Allah”. Termasuk yang dialami oleh keluarga Yasir, yaitu Yasir, Sumayyah dan Ammar bin Yasir, dimana mereka disiksa dengan siksaan yang amat pedih dan dipaksa untuk meninggalkan Islam. Tetapi siksaan yang mereka terima tidak berpengaruh sedikitpun pada keluarga ini kecuali tetap beriman dengan teguh dan ikhlas. Sampai ketika mereka sedang menyiksa keluarga Yasir, Rasulullah lewat di depan mereka, seraya memberikan kabar gembira. “Sabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah syurga. Sesungguhnya aku tidak memiliki apapun dari Allah untuk kalian,” Rasulullah menyatakan pada mereka bahwa tempat yang dijanjikan untuk mereka adalah syurga, maka tidak ada yang dilakukan Sumayyah kecuali berkata :”Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas, wahai Rasulullah,”

Mereka senantiasa shabar menghadapi siksaan yang ditimpakan kepada mereka oleh orang-orang Kafir Quraisy, sampai akhirnya merenggut nyawa Yasir bin Malik. Tetapi hal ini tidak menimbulkan kegentaran pada diri Sumayyah, bahkan ia lebih menantang orang-orang atau pemuka Kafir Quraisy sehingga menambah geram pemuka Kafir Quraisy, terutama Abu Jahl, hingga akhirnya ia menusukkan tombak ke tubuh Sumayyah binti Khubath r.a sampai beliau meninggal dunia sebagai syahidah pertama. Demi mempertahankan ke-Islamannya ia korbankan jiwanya. Subhanallah, tidak diragukan lagi bagaimana perannya sebagai seorang muslimah, sebagai bagian dari masyarakat yang bertanggungjawab bagi tegaknya Islam, sehingga dengan ikhlas dan ridho ia serahkan jiwanya hanya untuk Islam semata, sekalipun siksaan yang diterimanya sedemikian besarnya.

Semasa hidupnya, Sumayyah dikenal sebagai seorang istri yang baik, berbakti dan mengabdi kepada suaminya, dan senantiasa mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sebagai seorang ibu, dapat kita lihat dari sosok anaknya, yakni Ammar bin Yasir. Ia pun termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam bersama-sama dengan ayah bundanya, dimana kekuatan dan kekokohan imannya mampu menggentarkan orang-orang kafir Quraisy yang menyiksanya. Ia juga seorang mujahid yang tangguh, dengan gagah berani, ia mempertaruhkan nyawanya melawan musuh-musuh kaum muslimin.

Jelaslah bahwa Sumayyah tidak saja hanya memerankan tugasnya sebagai istri dan ibu, tetapi sebagai seorang muslimah yang memberikan andil dan semangat besar bagi kaum muslimin lainnya dengan mengajak keluarganya kepada Islam dan tetap kokoh memegang teguh dînnya sekalipun siksaan yang diterimanya sangat berat.
(Sumber : Revisi Politik Perempuan)

Minggu, 12 Desember 2010

TELADAN IBU TANGGUH PENCETAK GENERASI UNGGUL


ASMA BINTI ABI BAKAR RA.

Asma’ dikenal sebagai kelompok wanita yang pertama-tama masuk Islam. Ia merupakan muhajirah yang agung, yang mengorbankan harta, raga dan jiwanya hanya untuk Islam. Semua unsur keturunan yang mulia terkumpul dalam pribadinya. Hal itu cukup untuk mengangkat derajatnya ke tempat yang tinggi dan membanggakan. Ayahnya, Abu Bakar Shiddiq adalah sahabat karib yang paling utama bagi Rasulullah semasa beliau hidup, dan khalifah pertama sesudah beliau wafat. Kakeknya, Abu Atiq, ayahnya Abu Bakar. Saudara perempuannya, Aisyah Ummul Mukminin (Istri Rasulullah SAW), seorang wanita suci, bersih, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmanNya. Suaminya, Zubair bin Awwam, seorang tokoh yang sangat mengutamakan ridha Allah dan ridha ibu bapaknya.
Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, seorang pemuda miskin, tidak mempunyai pelayan yang selalu siap sedia membantu pekerjaannya, tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, kecuali hanya seekor kuda yang dirawatnya dengan baik.

Sungguh pun begitu Asma’ tidak kecewa. Dia adalah seorang istri yang baik dan setia, serta selalu khidmat kepada suaminya. Jika suaminya sedang sibuk mengemban tugas-tugas yang dibebankan Rasulullah kepadanya, Asma’ tidak segan-segan bekerja keras merawat dan menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya.
Pribadi Asma’ dirahmati Allah dengan keistimewaan yang menonjol yang jarang terdapat sekaligus, kecuali dalam pribadi segelintir pria. Dia cantik, hampir sama dengan saudaranya, Aisyah. Dia cerdas, lincah, cekatan, bangsawan dan memiliki otak yang sangat cemerlang.

Kepemurahannya menjadi teladan bagi orang banyak. Anaknya, Abdullah pernah berkata:”Aku belum pernah melihat wanita yang pemurahnya melebihi ibuku, Asma’. Bibiku berlainan. Kalau bibiku, dikumpulkannya lebih dahulu sedikit demi sedikit sesuatu yang akan dinafkahkannya, maka bila sudah terkumpul barulah dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya, lain dengan ibuku, dia tidak pernah menyimpan sesuatu sampai besok.”

Dari segi kecemerlangan berfikirnya, sangat nampak dalam diri putri Abu Bakar ini. Ia senantiasa bertindak penuh perhitungan dan bijaksana. Ketika ayahnya, Abu Bakar Shiddiq membawa seluruh uang simpanannya untuk kepentingan hijrah bersama Rasulullah saw, tidak satu sen pun ditinggalkannya untuk keluarganya. Setelah Abu Quhafah, bapak Abu Bakar atau kakek Asma’, mengetahui kepergian anaknya, dia datang ke rumah Abu Bakar untuk memastikan. Ketika itu Abu Quhafah masih musyrik. Kata Abu Quhafah:”Demi Allah! Tentu bapakmu mengecewakanmu dengan hartanya, disamping dia menyusahkanmu dengan kepergiannya.”

“Tidak kek! Sekali-kali tidak! Bapak banyak meninggali kami uang,” jawab Asma’ menghibur kakeknya. Asma’ pergi mengambil batu-batu kerikil, kemudian dimasukkannya ke kotak, tempat dia biasa menyimpan uang. Sesudah itu ditutupnya kerikil tersebut dengan kain-kain pakaiannya. Kemudian di bawanya si kakek ke tempat simpanan uang tersebut dan diletakkannya tangan kakek di atas kain-kain yang menutup kerikil itu. Kata Asma’ : ”Lihatlah Kek! Kami banyak ditinggali uang oleh Bapak,”padahal kakeknya buta.

“Bagus ..! Bagus ..! Kalian ditinggali banyak uang. Syukurlah..!” kata sang kakek.
Sesungguhnya maksud Asma’, disamping untuk menyenangkan hati kakek supaya tidak susah memikirkan dan memberinya apa-apa lagi. Lebih jauh dari itu, sebenarnya Asma’ tidak mau menerima bantuan orang musyrik, walau itu dari kakeknya sendiri. Hal ini merupakan bukti kuat yang menunjukkan sedemikian besarnya perhatiannya terhadap dakwah dan kepentingan kaum muslimin.

Asma’ binti Abu Bakar diberi julukan oleh Rasulullah sebagai Dzatun Nithâqayn (wanita yang mempunyai dua ikat pinggang). Hal ini terkait dengan peristiwa, ketika tepat di hari Rasulullah SAW hendak berangkat hijrah ke Madinah. Asma’ menyediakan makanan dan minuman untuk perbekalan beliau berdua dengan ayahnya Abu Bakar. Ketika dia hendak mengikat karung makanan dan qirbah (tempat air minum) dia merobek ikat pinggangnya sebagai tali pengikat. Karena itulah Rasulullah saw mendo’akan nya semoga Allah mengganti ikat pinggang Asma’ dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di syurga. Sejak itu Asma’ digelari “Dzatin Nithâqain”.

Berkaitan dengan peristiwa hijrah inipun, sebenarnya ada berbagai hal yang bisa kita teladani, yang menggambarkan bagaimana kekuatan berfikir dan berstrategi yang dimiliki oleh seorang muslimah, tentu saja ini berkaitan dengan aktivitas politiknya yang dihasilkan dari kecemerlangan akal yang dimilikinya, bukan sekedar aktivitasnya mengantarkan makanan saja.

Asma’ mengirim makanan untuk dua orang yang berperan penting bagi umat Islam, Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar agar keduanya tidak kehausan atau kelaparan. Tetapi lebih dari itu, Asma’ juga menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana orang-orang Kafir Quraisy terhadap kaum muslimin, yakni ketika suasana sangat genting dimana orang-orang Kafir Quraisy tengah mencari-cari Rasulullah saw untuk dibunuh karena bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan orang-orang yang mengemban risalah Islam. Dengan perut yang besar, karena kehamilannya waktu itu, Asma’ mengambil peran yang beresiko tinggi, mengapa ? Karena bila ketahuan, bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan, tetapi lebih dari itu, Abu Bakar dan utusan Allah, Muhammad saw pun akan terancam keselamatannya. Apalagi orang-orang Kafir Quraisy saat itu tengah marah besar karena Muhammad saw berhasil lolos dari kepungan, dan posisinya digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Tetapi dengan sangat cerdik dan penuh perhitungan Asma’ berjalan menuju persembunyian Abu Bakar dan Rasulullah saw di gua Tsur, sambil menggembalakan kambing-kambingnya. Ia berjalan di depan dan kambing-kambingnya berjalan di belakangnya. Dengan cara ini, tidak ada yang bisa mengikuti jejaknya, karena jejak kaki Asma’ terhapus oleh jejak kaki kambing gembalaannya. Apa yang dilakukan Asma’ itu belum tentu mampu dilakukan seorang lelaki pemberanipun, karena hal itu bisa mengundang bahaya, kezhaliman dan keberingasan orang-orang kafir Quraisy. Suatu perbuatan yang membutuhkan pemikiran yang mendalam, keteguhan hati, sekaligus keberanian dan kekuatan iman.

Ternyata permasalahannya tidak berhenti sampai disini saja, setelah Rasulullah saw dan Abu Bakar berhasil keluar dari tempat persembunyiannya dan berhijrah ke Madinah, Asma’ menuturkan, “Kami di datangi beberapa orang Quraisy, di antara mereka adalah Abu Jahal. Mereka bertanya, “Mana ayahmu wahai putri Abu Bakar ?” Dengan diplomatis Asma’ akhirnya menjawab,” Demi Allah, aku tidak tahu di mana sekarang ayahku berada, ”Seketika itu pula Abu Jahal mengangkat tangannya dan menampar pipi Asma’ dengan satu kali tamparan yang membuat anting-antingnya lepas, setelah itu mereka beranjak pergi.

Setelah Rasulullah saw dan Abu Bakar berhasil hijrah ke Madinah, maka giliran Asma’ untuk hijrah ke Madinah, sementara saat itu Ia dalam keadaan hamil tua, mengandung Abdullah bin Zubair. Sekalipun sudah hampir melahirkan, keadaan ini tidak menjadi rintangan baginya untuk menempuh perjalanan jauh dan berbahaya. Akhirnya, setelah sampai di Quba, Asma’ melahirkan bayi yang sangat didambakannya. Sebagai tanda syukur dan gembira, kaum muslimin mengucapkan takbir dan tahlil menyambut kelahiran Abdullah bin Zubair. Itulah bayi yang pertama lahir di Madinah.

Asma’ segera membawa bayinya ke hadapan Rasulullah saw dan meletakkannya di pangkuan beliau. Rasulullah mengambil air ludahnya sedikit, lalu dimasukkannya ke mulut bayi tersebut, itulah makanan yang pertama masuk ke dalam rongga mulut anak itu. Kemudian beliau membaca do’a bagi bayi tersebut.

Sebagai seorang ibu, telah sering pula kita mendengar kisahnya, sosok ibu yang mengerti benar perannya menciptakan generasi yang berkualitas prima, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, apakah itu harta, anak, istri dan sebagainya, generasi yang siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasûlullâh. Dan generasi seperti ini nampak jelas dalam diri putra Asma’ binti Abu Bakar, yaitu Abdullah bin Zubair. Tentang hal ini kita simak salah satu kisah pertemuan terakhir antara ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata karena kecintaan keduanya yang tinggi kepada Allah swt dan RasulNya.

Abdullah bin Zubair diangkat menjadi khalifah setelah khalifah Yazid bin Mu’awiyah meninggal. Negeri-negeri Hijaz, Mesir, Iraq, Khurasan dan sebagian besar negeri Syam telah tunduk ke bawah pemerintahannya. Tapi Bani Umayyah tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan tentara yang besar di bawah pimpinan panglima Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafy untuk menggulingkan khalifah. Abdullah bin Zubair turun ke medan tempur memimpin sendiri tentara yang setia kepadanya. Dia memperlihatkan kebolehannya sebagai panglima perang yang gagah berani dengan taktik dan strategi perang yang brilian.

Tetapi para perwira bawahan dan prajuritnya banyak yang meninggalkannya satu demi satu, membelok ke pihak musuh. Akhirnya dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit dia mundur di bawah naungan Ka’bah yang suci dan agung. Beberapa saat sebelum kekalahannya, Abdullah bin Zubair pergi menemui ibundanya yang sudah lanjut usia.
“Assalâmu’alaiki warahmatullâhi wabarakâtuhu, wahai ibunda!” kata Abdullah memberi salam kepada ibunya.

“Wa’alaikas salâm warahmatullâhi wabarakâtuhu, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke sini pada saat begini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tentaramu menggetarkan seluruh kota Mekkah,” kata ibunya.
“Aku datang hendak bermusyawarah dengan ibu,” jawab Abdullah dengan hormat dan menunjukkan kasih sayangnya.
“Tentang masalah apa?” tanya ibunya khawatir.
“Tentaraku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dari padaku ke pihak musuh. Mungkin karena takut kepada Hijjaj atau mungkin juga karena menginginkan sesuatu yang di janjikannya, sehingga anak-anak dan istriku pun berpisah denganku. Sedikit sekali jumlah tentara yang tinggal bersamaku. Mereka itu pun agaknya tidak akan sabar bertahan lebih lama bersamaku. Sementara itu, para utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang kuminta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah. Bagaimana pendapat ibu?” Tanya Abdullah.

Asma’ menjawab dengan suara tinggi, ”Terserah kepadamu ya Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang tahu dengan dirimu? Bila engkau yakin bahwa engkau mempertahankan yang hak dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkan seperti para prajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan benderamu! Tetapi bila engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau seorang anak laki-laki yang pengecut. Berarti engkau mencelakakan diri sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, nak!”
Abdullah menundukkan kepala di hadapan ibunya yang kelihatan marah bercampur berbagai perasaan yang tidak pasti wujudnya. Walaupun ibunya sudah tua dan buta, Abdullah yang khalifah dan panglima perang yang gagah berani tidak sanggup melihat wajah ibunya karena sangat hormat dan kasih kepadanya.
“Tetapi aku akan terbunuh hari ini, bu! Kata Abdullah lembut.
“Itu lebih baik bagimu dari pada engkau menyerahkan diri kepada Hajjaj. Akhirnya toh kepalamu akan diinjak-injak juga oleh budak-budak Bani Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sulit dipercaya,” jawab ibunya tegas dengan nada tinggi.
“Aku tidak takut mati, bu! Tetapi aku khawatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam,” kata Abdullah lagi.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan perbuatan orang hidup sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang,” kata ibunya.
“Semoga ibu diberkati Allah. Begitu pula hendaknya buah pikiran ibu yang selalu terang benderang. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah kudengar dari ibu sebentar ini. Allah Maha Tahu, aku tidak lemah dan tidak terlalu hina. Dia Maha Tahu, aku tidak terpengaruh oleh dunia dan kemewahannya. Murka Allah bagi orang-orang yang menyepelekan segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat ibu. Apabila tewas, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan kehidupan ibu, serahkan kepada Allah…! Kata Abdullah menguatkan hati ibunya.
“Yang ibu kuatirkan kalau-kalau engkau tewas di jalan yang sesat,” kata Asma’ memperlihatkan keteguhan imannya.
“Percayalah ibu! Anak ibu tidak memiliki pikiran sesat untuk berbuat keji. Anak ibu tidak percaya untuk menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang-orang muslim yang baik, atau melakukan kejahatan-kejahatan lain. Anak ibu mengutamakan keridhoan ibu. Aku katakan semua ini di hadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Allah ta’ala menanamkan kesabaran yang dalam di hati sanubari ibu.”
Jawab Asma’ ”Alhamdulillâh…! Segala puji bagi Allah yang telah membuat engkau teguh memegang apa yang disukai-Nya dan yang ibu sukai pula. Mendekatlah kepada ibu, anakku! Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir bagi ibu untuk menciummu…”

Abdullah menjatuhkan diri ke pangkuan ibunya. Hidung Asma’ beranjak dari kepala, ke muka dan tengkuk Abdullah. Tangannya menyentuh tubuh Abdullah, tetapi tiba-tiba Asma’ menarik kembali tangannya yang keriput seraya bertanya, ”Apa yang engkau pakai, hal Abdullah?”
“Baju besi!” jawab Abdullah.
“Untuk apa pakaian seperti ini dipakai oleh orang yang ingin syahid?” Tanya Asma’.
‘Aku memakainya untuk menyenangkan hati ibu,” jawab Abdullah.
“Tanggalkan baju besi itu! Tanpa baju besi itu engkau lebih memperlihatkan semangat yang tinggi dan keperkasaan. Disamping itu engkau dapat bergerak dengan leluasa, ringan dan lincah. Sebagai gantinya pakailah celana rangkap. Seandainya engkau tewas auratmu tidak mudah terbuka,” kata ibunya dengan penuh kasih sayang.
Abdullah melepas baju besinya, kemudian memakai celana rangkap. Sesudah itu dia pergi ke Masjidil Haram meneruskan pertempuran sambil berpesan kepada ibunya,” jangan bosan mendo’akanku, ibu!”

Asma menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, ”Wahai Allah! Kasihanilah dia karena shalat yang panjang diselingi tangis di tengah malam buta, ketika orang-orang lain sedang tidur nyenyak. Duhai Allah! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan haus ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekkah dalam menunaikan ibadah puasa karenaMu. Duhai Allah! Kasihanilah dia yang selalu berbuat kebaikan dan menuntut kasih sayangnya terhadap ibu dan bapaknya. Duhai Allah! Aku serahkan dia ke dalam pemeliharaanMu dan aku ridha dengan apa yang telah Engkau tetapkan baginya dan berilah aku pahala orang-orang yang sabar…!

Sebelum matahari terbenam di sore hari itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia pulang ke rahmat Allah karena mengutamakan ridha Allah. Lebih kurang tujuh belas hari setelah kematian putranya, Asma’ wafat pula menyusul putranya tercinta. Asma’ binti Abu Bakar Shiddiq pulang ke rahmatullah dalam usia seratus tahun. Walapun usianya sudah lanjut, namun giginya masih utuh semuanya, tidak ada yang tanggal satupun. Daya pikirnya tetap kuat dan prima. Begitu pula imannya seperti dikisahkan dari cela-cela kehidupannya yang penuh taqwa. Radhiyalhu’anhuma. Semoga Allah meridhai kedua hambanya. Asma’ dan Abdullah bin Zubair, putranya.

Inilah sebuah teladan yang sangat berharga bagi kita semua, bukan saja keberaniannya, kepatuhannya kepada Allah, suami dan ayahnya, pengorbanannya yang besar atau sikap dermawannya, serta kedalaman berpikirnya, tetapi lebih dari itu kesadaran politik yang dimiliki serta kemampuannya mensinergiskan peran-peran yang harus dilaksanakan oleh seorang muslimah demikian melekat kuat dalam dirinya. Bersama suaminya, Zubair terbentuklah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah bukan karena harta yang melimpah ruah, tetapi sebuah keluarga yang selalu diberkahi dan dirahmati oleh Allah swt, karena anggota-anggota keluarganya menjadikan kecintaan kepada Allah swt di atas kecintaan-kecintaan lainnya. Dari keluarga ini lahir seorang syuhada yang gagah berani, yang tidak takut terhadap apapun kecuali kepada Allah swt. Sekalipun demikian, Asma’ tidak mengabaikan peran politiknya. Ia berperan aktif dalam hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Berpindahnya kaum muslimin dari kondisi yang buruk kepada yang baik, sehingga akhirnya tegaklah daulah Islamiyah di Madinah.

(Sumber : Revisi Politik Perempuan, Najmah Saiidah&Husnul Khotimah, Idea Pustaka)

Senin, 06 Desember 2010

Dr Nazreen Nawaz : Kapitalisme Sumber Kekacauan Global


Pengantar:

Selama beberapa tahun terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, atau dalam istilah yang lebih umum, ‘Islam Politik’, adalah ancaman bagi dunia seperti dalam prohttp://www.blogger.com/img/blank.gifpaganda Tony Blair. Betulkah propaganda tersebut? Apa sesungguhnya motif Barat di baliknya propaganda tersebut? Mengapa Islam yang dijadikan tertuduh? Bagaimana dengan Kapitalisme global yang memimpin dunia saat ini, yang justru banyak memproduksi persoalan dan menjadi sumber kekacauan global?

Untuk mengetahui lebih jauh jawaban atas beberapa pertanyaan di atas, Redaksi Al-Waie kali ini mewawancarai Dr. Nazreen Nawaz, Representasi Muslimah Hizbut Tahrir Inggris, yang tentu merasakan langsung kebijakan-kebijakan penuh kebencian dari pemerintahan di Barat atas Islam dan kaum Muslim, termasuk terus menebar propaganda yang menyerang Dunia Islam. Berikut petikan wawancaranya.

Selama beberapa tahun terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, atau dalam istilah yang lebih umum, ‘Islam Politik’, adalah ancaman bagi dunia seperti dalam propaganda Tony Blair. Bagaimana komentar Anda? Apa motif di balik opini seperti itu?


Cerita semacam ini sering dibangun oleh para politisi, pemerintahan dan lembaga-lembaga Barat. Dengan mudahnya mereka mengalihkan perhatian dari fakta bahwa Kapitalisme global, nilai-nilai liberal sekular dan kebijakan-kebijakan luar negeri kolonial Barat adalah penyebab terbesar atas ketidakstabilan, kekacauan dan ketidakamanan di dunia. Bukanlah Islam Politik yang telah mengobarkan perang kolonial yang tak terhitung jumlahnya selama 100 tahun terakhir yang menjarah sumberdaya dari bangsa asing, melainkan negara-negara kapitalis Baratlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang menyebabkan kematian ratusan ribu warga sipil dalam bencana perang dan kehancuran Afganistan, Irak dan Pakistan; atau yang melakukan penculikan rahasia, penahanan dan penyiksaan dalam Perang Melawan Teror. Namun, pemerintah kolonial Baratlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang mengesahkan penggunaan uranium terdeplesi (depleted uranium) terhadap penduduk Irak, tetapi para pemerintahan sekularlah yang melakukannya. Bukan Islam Politik yang membuat miskin negara-negara di dunia dan menyebabkan krisis ekonomi global, tetapi Kapitalismelah biang keladinya.

Klaim ini mencoba untuk membuat ketakutan atas keyakinan Islam Politik, seperti usaha penerapan syariah atau pembentukan Kekhalifahan di dunia Muslim, dengan mengaitkannya dengan terorisme. Hal ini telah menciptakan iklim ketakutan yang telah melayani dua tujuan. Pertama: memberikan pembenaran pemerintahan Barat kepada masyarakat di negara mereka dengan tujuan melanjutkan perang atas pendudukan yang mereka lakukan dengan brutal, mendukung pemerintahan diktator di negara-negara Islam dan melestarikan gangguan mereka atas dunia Muslim atas nama pencegahan ide-ide Islam untuk bisa terwujud. Kedua: mengesahkan undang-undang anti-teror yang kejam atas komunitas Muslim dengan maksud membungkam suara penentangan atas kebijakan luar negeri Barat dan melaksanakan kebijakan kontra-terorisme yang menganggu masyarakat Muslim. Tujuannya adalah membungkam suara tidak setuju atas kebijakan luar negeri Barat dan dukungan umat Islam di Barat atas pelaksanaan syariah di negeri-negeri Muslim yang membuat pemerintahan di Barat gerah. Tujuan keseluruhannya adalah mencegah munculnya kembali Kekhilafahan Islam ideologis yang akan menantang hegemoni negara-negara kapitalis Barat atas sumberdaya dunia dan urusan global.

Namun, cerita bahwa Islam Politik adalah seperti ‘ban berjalan’ bagi terorisme telah terbukti kepalsuannya. Laporan lembaga kajian terkemuka di Inggris pada bulan April 2010 yang berjudul, “Tepi Kekerasan” (The Edge of Violence), menyatakan, “Mungkin bagi umat Islam untuk membaca teks-teks radikal sehingga mereka menjadi kuat dan vokal menentang kebijakan luar negeri Barat, meyakini hukum syariah, mengharapkan kemunculan kembali Kekhalifahan, bahkan mendukung Muslim Afganistan dan Irak untuk memerangi pasukan sekutu; sementara pada saat yang sama mereka sangat vokal dalam mengecam terorisme yang terinspirasi al-Qaeda di negara-negara Barat.”

Dalam sebuah artikel berjudul, “Syariah: Bahaya Bagi Amerika Serikat.” (Washington Times, 2010/09/14) disebutkan bahwa ada beberapa alasan penting mengapa AS berada di bawah ancaman syariah Islam. Alasannya tidak hanya karena syariah Islam hanyalah sebuah agama ruhani, tetapi karena Islam juga membawa tugas jihad dan Kekhalifahan. Jadi, mengapa Barat begitu paranoid tentang ketiga konsep itu (Syariah, Jihad dan Khilafah)?

Seseorang perlu menarik perbedaan antara masyarakat umum di Barat dan pemerintah Barat berserta lembaga-lembaga mereka. Masyarakat Barat umumnya kurang pengetahuan tentang Islam. Di sisi lain, propaganda negatif terhadap syariah, jihad dan Khilafah yang terus-menerus dijajakan oleh beberapa media Barat beserta pendirian politik telah menciptakan pandangan sama sekali palsu atas konsekuensi dari pelaksanaan syariah Islam. Mereka percaya hal itu akan menyebabkan kemunduran, ekonomi stagnan dan munculnya negara totaliter yang haus perang yang akan menundukkan kaum wanita dan kaum minoritas non-Muslim. Mereka yang mempelajari teks-teks Islam dan sejarah telah memahami bahwa persepsi ini sangat jauh dari kebenaran.

Namun, bagi pemerintahan Barat, pelaksanaan syariah, jihad dan Khilafah adalah ancaman bagi hegemoni budaya global dan hegemoni fisik mereka untuk mengamankan kepentingan ekonomi mereka. Pendirian Khilafah akan menjadi berita besar yang akan mengakhiri kontrol mutlak, eksploitasi dan campur tangan mereka di dunia Muslim. Ini berarti berakhirnya kekuasaan rezim-rezim diktator yang berkuasa saat ini di wilayah tersebut yang tunduk pada kepentingan dan perintah dari kekuatan asing daripada tulus melayani kepentingan umat Islam. Hal ini akan menimbulkan munculnya sebuah negara yang akan mencari jalur independen daripada harus bersikap tunduk pada kolonial Barat dan pendudukan serta mengakhiri penghisapan sumberdaya tanah kaum Muslim. Kemunculan negara ini (Khilafah) akan menantang negara-negara Barat karena akan menjadi pemimpin politik dan ekonomi di dunia, mencabut penderitaan dan menghapus kemiskinan yang disebabkan Kapitalisme global dan menunjukkan kepada dunia penghargaan sejati atas kehidupan manusia, keadilan dan hak-hak manusia.

Terkait terorisme, suatu istilah yang sering digunakan sebagai alasan untuk menyerang Islam, bagaimana kita harus mengatasi kelompok-kelompok Islam yang membenarkan pembunuhan orang-orang Barat di manapun mereka berada, termasuk yang tinggal di kota-kota besar di Eropa atau Amerika, dengan alasan melakukan pembalasan yang seimbang?

Harus diperjelas bahwa Islam tidak mengizinkan pembunuhan dengan target warga sipil yang tak berdosa yang dilakukan atas nama melawan penjajahan, dengan cara yang sama saat umat Islam melawan pendudukan militer demi merespon kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Negara-negara kapitalis Barat melakukan pembantaian atas ribuan nyawa yang tidak bersalah, pengeboman yang serampangan dan penghancuran seluruh kota serta penyiksaan terhadap tahanan perang yang dilakukan atas premis ideologi yang korup bahwa ‘apapun bisa dilakukan untuk mengamankan kepentingan kami‘. Sebaliknya, Islam telah mendefinisikan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam setiap aspek kehidupan, termasuk adanya aturan perang. Pemerintahan Barat telah menunjukkan pengabaian atas kehidupan manusia secara terang-terangan, menggunakan depleted uranium dan fosfor putih sebagai alat perang. Sebaliknya, Islam mewajibkan penghargaan yang tinggi bagi kesucian hidup manusia.

Bagaimana cara terbaik bagi kaum Muslim untuk mengatasi masalah terorisme?

Kaum Muslim tidak boleh menerima atau mendukung cerita palsu bahwa karena ada sebagian individu yang melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak bersalah maka Islam merupakan ancaman terbesar bagi keamanan atau stabilitas global. Sebaliknya, apa yang perlu disorot adalah bahwa tindakan tersebut hanyalah tanggapan atas penaklukan politik atau ekonomi yang dilakukan baik oleh pemerintahan Barat maupun Muslim, di samping tindakan agresi dan pendudukan tanah Muslim oleh kekuatan asing. Hal ini telah menjadi kebijakan luar negeri Barat, juga kebijakan para penguasa tiran di dunia Muslim yang menyokong mereka. Sebagai contoh, tidak ada terorisme di Pakistan sebelum pemerintahnya mendukung invasi atas Afganistan tahun 2001 yang dipimpin Inggris-AS. Banyak sumber, termasuk sebagian yang terkait dengan pemerintah Barat, yang telah menyalahkan kebijakan luar negeri Barat bagi peningkatan ancaman keamanan nasional di Barat. Pada bulan Juli tahun ini, dalam bukti-bukti yang diajukan dalam Penyelidikan Chilcot pada perang Irak, Kepala MI5 Eliza Manningham-Buller berkomentar mengenai masalah keamanan di Inggris, bahwa Perang Irak telah ‘meradikalisasi’ generasi Muslim di Inggris.

Di sisi lain, demokrasi dan Kapitalisme diklaim sebagai pembawa kebaikan. Bagaimana menurut Anda?

Perang Melawan Teror telah mengungkap wajah demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi adalah sistem yang memungkinkan adanya penculikan, penahanan rahasia dan penyiksaan untuk mengamankan kepentingan-kepentingan nasional. Sistem ini telah membuang hak asasi manusia dan prinsip-prinsip seperti habeas corpus (hak untuk diperiksa di muka hakim, penerj.), peradilan yang adil dan terbuka, supremasi hukum dan privasi individu untuk keuntungan politik. Sistem ini telah menjadi ciri penindasan dengan pelanggaran seperti di Abu Ghraib, Guantanamo, rendisi (penyerahan atas orang atau benda kepada musuh, penerj.) yang dilakukan secara luar biasa, seperti penyiksaan sadis atas Dr Aafia.

Dunia telah melihat seperti apa sebenarnya demokrasi Barat-suatu juara ketidakadilan dan pemimpin teror yang telah menebar kekacauan dan kesengsaraan di seluruh dunia serta menaburkan kematian dan perusakan atas kemanusiaan. Di negara-negara Barat, larangan niqab, jilbab dan menara mesjid, di samping serangan terhadap al-Quran, telah menggambarkan kegagalan demokrasi untuk mengakomodasi hak-hak kaum minoritas beragama.

Kapitalisme telah berjudi dengan keuangan negara, yang menyebabkan krisis ekonomi global, dan diperparah oleh kemiskinan dunia. Sistem ekonominya yang berdasarkan riba dan privatisasi sumberdaya publik telah memberi makan kaum kaya dan membuat lapar kaum miskin. Kapitalisme telah memungkinkan pasar bebas membeli rasa hormat dari diri seorang perempuan, yang memungkinkan eksploitasi tubuhnya pada iklan, hiburan dan industri seks. Semua itu ditandai dengan kebebasan berekspresi dan kepemilikan dan dilakukan atas nama mengamankan keuntungan. Kebebasan pribadi dan kebebasan seksual telah menolak budaya sopan-santun individualistik, memuaskan diri serta melahirkan perilaku yang tak bertanggung jawab yang telah menyebabkan mewabahnya kerusakan keluarga, alkoholisme, penyalahgunaan obat, perkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penelantaran Lansia dalam masyarakat Barat. Jelas bahwa kebebasan, demokrasi dan Kapitalisme tidak pernah bisa membawa kemajuan, martabat, keadilan dan kemakmuran yang benar bagi umat manusia.

Dunia memandang demokrasi sebagai sistem politik terbaik, yang membuat orang berdaulat dan kuat, dengan ruang terbuka bagi partisipasi politik dan penguasa dapat dikontrol oleh rakyat. Bagaimana Anda melihatnya?

Sekali lagi, waktu telah menunjukkan bahwa demokrasi mewakili sistem di mana aturan adalah untuk kepentingan orang kaya daripada untuk warga biasa. Bulan April lalu, muncul laporan bahwa kesenjangan pendapatan di Inggris antara yang termiskin dan terkaya di masyarakat adalah yang terburuk sejak tahun 1960-an, dengan pendapatan orang miskin jatuh dan bahwa orang kaya meningkat. Perusahan multinasional dan elit kayalah yang berdaulat dalam demokrasi, bukan rakyat. Bisnis besar membiayai proses pemilihan, membiayai para kandidat dan banyak pihak dalam pertukaran bagi berlakunya hukum yang melayani kepentingan finansial mereka. Kita melihat bagaimana dalam kondisi krisis keuangan ini, bisnis multi-juta terselamatkan oleh pemerintah, sedangkan usaha kecil dan warga negara biasa telah meninggalkan belas kasihan pasar sehingga menderita kehancuran finansial. Selain itu, di dunia Muslim, “demokrasi” sering digunakan untuk memberikan udara legitimasi kepada rezim diktator dimana mereka yang disangka melakukan kerusakan terhadap negara dianiaya, dipenjara dan kadang-kadang bahkan dibunuh. Di banyak negara-negara seperti Pakistan dan Bangladesh, huruf “D” pada kata Demokrasi menjadi “D” pada kata Dinasti. Sebagian kecil keluarga politik berkuasa memerintah bangsa selama beberapa dekade. Label “Demokrasi” telah menekankan kembali sistem politik layanan-diri, kepentingan diri sendiri, dan pelestarian diri dari dari para politisi korup daripada tulus melayani masyarakat.

Bisakah Anda menjelaskan sejauh mana sistem Islam di bawah naungan Khilafah bisa mewujudkan kemajuan ekonomi dan stabilitas politik dunia?

Berbeda dengan ideologi kapitalis yang mengejar laba, sistem Islam diterapkan oleh Khilafah didasarkan pada ketulusan untuk menjaga kebutuhan warganya dan peduli bagi kesejahteraan umat manusia. Sistem ini akan berdiri sebagai penghalang dan penantang global terhadap kebijakan luar negeri kolonial yang eksploitatif dari negara-negara kapitalis Barat yang telah menebarkan ketidakstabilan dan ketidakamanan di seluruh dunia. Sistem ini akan menghapus semua belenggu penjajahan dan pendudukan dari negeri-negeri Muslim dan menerapkan hukum Islam yang konsisten dengan kepercayaan rakyat daripada pemaksaan budaya impor yang asing yang telah menyebabkan kemarahan di kawasan ini. Selain itu, Khilafah-dengan kewenangan ada di tangan rakyat-memiliki penguasa terpilih, penegakan hukum, peradilan yang independen serta akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan dan akan menjadi kekuatan stabilisasi untuk kaum muslim dunia. Sistem ini akan menggantikan pemerintahan yang tidak representatif dan tidak akuntabel. Selain itu, sistem Islam menyediakan berbagai jalur di mana individu dapat mengekspresikan kritik atau ketidakpuasan pada tindakan penguasa, menghilangkan ketidakstabilan yang disebabkan oleh penindasan brutal karena perbedaan pendapat politik dengan rezim muslim saat ini.

Secara ekonomi, Kekhilafahan akan membebaskan dirinya dari ekonomi berbasis riba yang telah melumpuhkan baik individu maupun negara-negara dengan utang besar dan telah memaksa proporsi besar dari PDB negara-negara itu dibelanjakan untuk membayar hutang daripada diinvestasikan di bidang pendidikan dan kesehatan. Sistem ekonomi Islam didasarkan pada distribusi kekayaan yang efektif, bukan hanya produksi dan larangan penimbunan kekayaan dan akan berusaha untuk memberantas kemiskinan; bukan hanya dalam negeri, tetapi juga secara internasional. Pendapatan dari sumberdaya seperti minyak, batu bara dan gas yang dipandang sebagai milik publik menurut Islam dan dilarang diprivatisasi akan digunakan untuk meningkatkan standar hidup warga negara dan digunakan untuk mengembangkan infrastruktur negara; bukannya dijual kepada individu atau perusahaan asing di mana negara hanya sedikit meraup keuntungan mereka. Khilafah adalah sistem dengan visi besar yang akan memotong garis ketergantungan pada bantuan asing dan memanfaatkan kekayaan kolosal dan sumberdaya yang kaya dunia Muslim untuk mempromosikan kemandirian, membangun pendidikan yang berkelas dan sistem kesehatan, memberantas buta huruf dan berinvestasi pada teknologi dan penelitian. Sistem keuangannya didasarkan pada prinsip-prinsip keuangan yang sehat seperti penerapan standar emas dan perdagangan aset yang nyata daripada penerapan saham dan ekonomi yang spekulatif dan akan memberikan model teladan kemajuan ekonomi dan stabilitas yang sangat dibutuhkan dalam krisis global saat ini. [Translated by Riza]
Add This! (Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id)

Selasa, 30 November 2010

INILAH DAMPAK NYATA PENERAPAN SISTEM KAPITALIS SEKULAR LIBERAL


SEBAGIAN PEREMPUAN ABG DI JABOTABEK MELAKUKAN SEX SEBELUM MENIKAH
Selasa, 30 November 2010 @ 00:00:00

JAKARTA–bkkbn online:Tren meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar patut mendapat perhatian berbagai kalangan. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperoleh fakta bahwa saat ini makin sulit menemukan remaja putri yang perawan (virgin) di kota-kota besar. Berdasar survei yang diadakan di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, BKKBN menemukan bahwa separo remaja perempuan sudah melakukan seks sebelum menikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil di luar nikah.

Rentang usia remaja perempuan yang pernah berhubungan seks di luar nikah itu 13–18 tahun atau usia ABG (anak baru gede). ’’Kami melakukan survei terhadap 100 remaja perempuan. Hasilnya, 51 orang di antara mereka sudah tidak perawan,’’ ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief di sela peringatan Hari AIDS Sedunia di Lapangan Parkir Monas, Jakarta, kemarin (28/11). Temuan serupa juga didapati di kota-kota besar lain di Indonesia. Selain di Jabodetabek, survei yang sama dilakukan di Surabaya, Medan, Bandung, dan Jogjakarta. Hasilnya, remaja perempuan lajang di Surabaya yang sudah hilang kegadisannya 54 persen Di Medan jumlahnya 52 persen, Bandung 47 persen, dan Jogjakarta 37 persen. Menurut Sugiri, data itu dikumpulkan BKKBN lewat survei sepanjang 2010.

’’Ini ancaman yang diam-diam bisa menghancurkan masa depan bangsa. Jadi, harus segera ditemukan solusinya,’’ ujar dia. Meningkatnya perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja, berimbas pada kasus infeksi dan penularan HIV/AIDS di Indonesia. Perilaku seks bebas memicu meluasnya kasus HIV/AIDS tersebut. Data Kemenkes pada pertengahan 2010 menyebutkan, kasus HIV/ AIDS di Indonesia terdiri atas 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif. Persentase pengidap usia 20–29 tahun mencapai 48,1 persen dan usia 30–39 tahun sebanyak 30,9 persen. Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak terjadi pada kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan lewat IDU atau jarum suntik (40,4 persen).

Menurut Sugiri, fenomena free sex di kalangan remaja tidak hanya menyasar pada kalangan pelajar, tetapi juga didapati pada kelompok mahasiswa. Di antara 1.660 responden mahasiswi di Jogjakarta, sekitar 37 persen mengaku sudah kehilangan kegadisan. Dia menuturkan, selain masalah seks pranikah, remaja dihadapkan pada dua masalah besar terkait dengan penularan HIV/AIDS. ’’Yakni, tingkat aborsi yang tinggi dan penyalahgunaan narkoba,’’ kata Sugiri. Data Kemenkes menyebutkan bahwa pengguna narkoba di Indonesia saat ini 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75 persen di antara mereka atau 2,5 juta jiwa merupakan remaja. Tingkat kehamilan di luar nikah juga sangat tinggi. Sugiri mengungkapkan, rata-rata terdapat 17 persen kehamilan di luar nikah yang terjadi setiap tahun. Sebagian di antara jumlah tersebut bermuara pada aborsi. Grafik aborsi di Indonesia, kata dia, masuk kategori lumayan tinggi dengan jumlah rata-rata per tahun 2,4 juta jiwa. ’’Ini adalah problem nasional yang harus dihadapi bersama. Jadi, bukan lagi tabu untuk dibicarakan demi menemukan solusi yang tepat,’’ kata dia.(indopos)